JAKARTA — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengajak keluarga besar Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memahami Hari Khidmat bukan hanya sebagai momentum kelembagaan, tetapi juga sebagai pengingat atas sejarah panjang kontribusi umat Islam dan para tokoh haji dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Menurut Wamenhaj, Hari Khidmat diperingati pada 8 September karena bertepatan dengan lahirnya Kemenhaj yang ditandai dengan pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah. Saat itu, jajaran Kemenhaj berasal dari berbagai kementerian dan lembaga.
“Hari ini, lebih dari 5.000 ASN telah menjadi bagian dari Kemenhaj. Kita hadir untuk bersama-sama melayani dan berkhidmat kepada jemaah,” ujar Wamenhaj dalam agenda Doa dan Zikir Hari Khidmat Haji dan Umrah di Kantor Kementerian Haji dan Umrah RI di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Ia juga menjelaskan makna pakaian yang dikenakan dalam momentum tersebut.
Menurutnya, pakaian itu merupakan simbol untuk mengingat kembali peran para tokoh haji dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Sejumlah tokoh pergerakan nasional seperti dan HOS Tjokroaminoto, KH Ahmad Dahlan, dan Haji Samanhudi, kata Wamenhaj, memiliki keterkaitan erat dengan tradisi haji sekaligus perjuangan membangun bangsa.
“Para pendiri bangsa memiliki jejak yang kuat dengan tradisi haji. Karena itu, pakaian ini menjadi simbol kebangsaan, perjuangan, kemerdekaan, pendidikan, nasionalisme, dan religiusitas,” katanya.
Menurutnya, sejarah tersebut penting untuk terus diingat agar keberadaan Kemenhaj tidak dipandang hanya sebagai institusi administratif.
Kemenhaj membawa tanggung jawab untuk menghadirkan pelayanan haji dan umrah yang semakin baik bagi masyarakat.
Wamenhaj berharap nilai sejarah dan semangat perjuangan tersebut dapat menjadi energi bagi seluruh ASN Kemenhaj dalam menjalankan tugas.
“Yang ingin kita bangun adalah pelayanan haji yang semakin baik, dengan semangat kebangsaan, religiusitas, dan pengabdian kepada jemaah,” pungkasnya.***