Wamenhaj Dahnil: Fase Armuzna Haji 2026 Lebih Tertib dan Terkendali

MAKKAH — Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebut pelaksanaan fase Armuzna pada penyelenggaraan Haji 2026 berjalan lebih tertib dan terkendali.

Menurut Dahnil, titik paling krusial dalam ibadah haji berada pada pergerakan jamaah dari Arafah, Muzdalifah, hingga Mina atau yang dikenal dengan fase Armuzna.

“Di titik krusial pelaksanaan haji itu ada di Armuzna, yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Alhamdulillah tahun ini pendorongan jamaah dari hotel menuju Arafah berjalan baik dan lebih tertib dibanding tahun sebelumnya,” kata Dahnil di Makkah.

Ia menjelaskan, pada musim haji sebelumnya banyak jamaah yang terlambat tiba di Arafah hingga tengah malam akibat penumpukan saat proses pemberangkatan dari hotel. Namun kondisi tersebut tidak terjadi pada tahun ini.

“Tahun-tahun sebelumnya bahkan sampai tengah malam belum sampai ke Arafah. Tapi tahun ini menjelang siang seluruh jamaah sudah terdorong ke Arafah,” ujarnya.

Selain proses transportasi, persoalan tenda di Arafah juga disebut berhasil diantisipasi. Dahnil mengatakan tidak ditemukan jamaah yang terlantar atau tidur di luar tenda.

“Kasus jamaah tidak dapat tenda dan tidur di luar, Alhamdulillah tidak ditemukan di Arafah,” katanya.

Pada fase perpindahan jamaah dari Arafah ke Muzdalifah, pemerintah juga melakukan pengaturan ketat terhadap pola murur maupun mabit.

Dahnil mengaku turun langsung ke Muzdalifah untuk memastikan ketertiban jamaah dan menghindari antrean kendaraan yang tidak sesuai jadwal.

“Saya langsung stay di Muzdalifah untuk menertibkan. Tidak ada lagi yang mengatur kerumunan kecuali petugas,” ujarnya.

Ia menilai mayoritas jamaah Indonesia sebenarnya mudah diatur dan memiliki kesadaran tinggi untuk tertib selama menjalankan ibadah.

Namun, menurutnya ketidakteraturan kerap muncul akibat arahan sejumlah pendamping kelompok yang ingin mempercepat urusan kelompoknya sendiri.

“Jamaah kita itu mau tertib. Seringkali yang membuat mereka tidak disiplin adalah arahan yang salah dari oknum pendamping atau ketua kelompok,” kata Dahnil.

Dahnil juga mengapresiasi respons cepat para petugas haji dalam menangani berbagai persoalan di lapangan, termasuk saat terjadi gangguan fasilitas di Mina seperti pendingin udara (AC) yang rusak dan kepadatan tenda jamaah.

“Kalau ditanya apakah ada masalah, tentu banyak masalah. Tapi prinsip yang kami tekankan kepada seluruh petugas adalah fast response, simpatik, dan empatik,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, beberapa persoalan di Mina muncul akibat kapasitas tenda yang terlihat berkurang karena banyak jamaah membawa barang berlebihan sehingga ruang menjadi sempit.

“Tenda Mina itu kecil sekali. Ketika jamaah membawa banyak tas dan kasur ditumpuk, kapasitas yang seharusnya untuk 80 orang terlihat hanya cukup untuk 50 orang,” katanya.

Selain fasilitas tenda, faktor kesehatan jamaah juga menjadi perhatian utama pemerintah, terutama bagi jamaah lanjut usia dan yang memiliki penyakit penyerta.

Dahnil menegaskan jamaah yang tidak kuat berjalan menuju lokasi lempar jumrah diminta menggunakan skema badal atau dibantu fasilitas transportasi dan kursi roda.

“Kami sudah instruksikan kepada petugas kesehatan dan ketua kloter, jamaah yang tidak layak secara kesehatan tidak boleh dipaksakan berjalan menuju jamarat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah Indonesia tahun ini memperoleh izin pengoperasian 18 unit golf car untuk membantu mobilitas jamaah lansia dan sakit di kawasan Mina.

Memasuki fase lempar jumrah, Dahnil juga mengimbau jamaah Indonesia tidak memaksakan diri melontar jumrah pada siang hari demi menjaga keselamatan.

“Kami imbau jamaah melempar jumrah mulai jam 4 sore sampai dini hari karena lebih aman dan lebih kondusif,” katanya.

Menurut dia, keselamatan jamaah harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan ibadah haji.

“Haji itu prinsipnya adalah keselamatan. Jangan sampai terprovokasi ajakan yang membahayakan kesehatan dan keselamatan jamaah,” ujar Dahnil.

Menjelang akhir puncak ibadah haji, Dahnil menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas haji, tenaga kesehatan, hingga Media Center Haji (MCH) yang dinilai telah bekerja maksimal membantu jamaah Indonesia selama di Tanah Suci.

“Mengurusi haji itu luar biasa karena kita mengurus orang-orang baik yang sedang beribadah. Ini menjadi kebanggaan dan kegembiraan batin bagi kami,” katanya. (*/Red/MCH-2026)

ArmuznaDahnil Anzar SimanjuntakhajiHaji 2026Wamenhaj
Comments (0)
Add Comment