Oleh : Taufik Hidayatullah
Celetukan sosok filsuf intelektual publik yang cukup kritis meyikapi dinamika kehidupan sosial kemasyarakatan di Indonesia.
Ya sebut saja Rocky Gerung sosok yang memiliki retorik konsep berfikir yang cukup bernas dan aktual.
Tentunya di bumbui dengan dalil-dalil akademis yang mumpuni. Sosok pembelajar ulung yang pernah mengenyam pendidikan di kampus Universitas Indonesia dengan beragam jurusan dan lulus di jurusan filsafat UI yang pernah mengungkapkan pernyataan cukup menggelitik dan membangun nalar dialektik ya ‘’Ijazah itu tanda orang pernah sekolah bukan tanda orang pernah berfikir’’.
Bernas dan cukup akrobatik membangunkan nalar publik bahwa memang benar adanya.
Ya bertumpukpun ijazah mu jika tidak memiliki karya yang mumpuni buat apa, jadi memang tabunglah prestasi bukan asumsi sejak dini.
Gelar itu hanyalah pepesan kosong tanpa makna tanpa dibarengi keilmuan yang mumpuni.
Banyak orang berijazah namun memiliki nalar tidak kritis karena hanya sebatas mengikuti perkuliahan tanpa mencoba membaca serius bahan-bahan pembelajaran naskah akademik sehingga berakhir dengan cara berfikir yang dangkal dan tidak konseptual.
Nalar mahasiswa mesti dibangun dengan dialektik akademis dengan argumen bukan sentimen.
Di zaman yang serba canggih ini semua bisa diakses dengan mudah disitulah manusia diuji apakah bisa digantikan dengan robot atau tidak dan guru macam apa yang bisa digantikan dengan robot.
Ya tentunya sosok guru yang tidak menginspirasi murid-muridnya.
Kecakapan seseorang dalam bernarasi mesti diasah di mimbar-mimbar akademik kampus dengan nalar akademis yang utuh multisipliner bukan monodisipliner apalagi monogami yang justru kalangan perempuan akan bertepuk tangan dengan hal tersebut.
Sekali lagi dengan upaya inilah kampus menjadi menara intelektual publik dengan tarung gagasan setajam tajamnya tanpa menyerang personal seseorang namun mesti dibarengi dengan tumpukan isi buku di kepala agar supaya negara ini maju dengan keilmuan yang utuh bukan hanya meluluskan pabrikan ijazah namun kampus mesti menjadi pabrik intelektual yang bernas dan konseptual dalam berfikir kedepan sehingga melahirkan sosok layaknya founding person pendiri bangsa ini yang mana telah membangun bangsa ini dengan gagasan yang tajam, progresif sehingga bangsa ini kedepan menjadi peradaban intelektual dunia bahkan kiblat ilmu pengetahuan dunia. Wallahualam. ***