Langkah Tegas Jenderal Suyudi Ario Seto Layak Diapresiasi

Oleh: Taufik Hidayatullah

​Narkoba merupakan ancaman nyata yang merusak jati diri bangsa Indonesia. Oleh karena itu, peran strategis Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang bertindak cepat dan progresif dalam memberantas barang haram ini patut kita apresiasi.

​Sebut saja Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto mantan Kapolda Banten yang kini mengemban amanah sebagai Kapolri merangkap Kepala BNN.

Sinergi dan koordinasi yang optimal antara BNN dan Polri amat krusial agar langkah penindakan di lapangan dapat berjalan seiring seirama.

​Marilah kita bumi-hanguskan narkoba secara total. Istilah “gaspol” yang digaungkan menunjukkan komitmen serius dalam memberantas narkoba.

Kita semua tentu berharap gebrakan ini tidak sekadar meriah di awal, tetapi benar-benar mampu memberantas peredaran gelap narkoba hingga ke akar-akarnya.

​Langkah penindakan tegas dari hulu ke hilir mulai dari bandar besar hingga pengedar di tingkat bawah harus terus digencarkan.

Kendati demikian, BNN dan aparat penegak hukum tidak bisa berjalan sendiri.

Masyarakat harus turut bekerja sama aktif demi memuluskan cita-cita Indonesia bebas narkoba, sekaligus menyelamatkan generasi muda sebagai penerus masa depan bangsa.

​Di awal masa jabatannya, Kepala BNN telah mengambil berbagai keputusan progresif dan visioner yang dapat dipertanggungjawabkan.

Salah satunya adalah membangun silaturahmi kebangsaan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Langkah ini penting, termasuk dalam merespons wacana kajian atau fatwa terkait pengawasan vape (rokok elektrik) yang kerap disalahgunakan dan dijadikan modus baru untuk menyamarkan zat-zat narkotika jenis baru.

​Hal ini harus menjadi atensi kita bersama. Peredaran narkoba tidak hanya merusak kesehatan fisik dan mental, tetapi juga mengganggu stabilitas, kenyamanan, serta keamanan di lingkungan pemukiman warga.

​Oleh karena itu, langkah tegas dan progresif Kepala BNN perlu kita dukung penuh. Komitmen dan target program kerja di masa-masa awal kepemimpinannya harus didorong bersama agar tidak berhenti sebagai “bulan madu” semata, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan demi menyelamatkan masa depan Indonesia.

​Wallahu a’lam bish-shawab. ***

Comments (0)
Add Comment