Kisah Ibu Encung, Lansia di Mandalawangi yang Bertahan Hidup di Gubuk Lapuk Perhutani

PANDEGLANG – Seorang lansia bernama Siti Sundariah, atau yang akrab disapa Ibu Encung, harus bertahan hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot.

Rumah tidak layak huni tersebut berdiri terpencil di kawasan Perhutani, Kampung Tamansari, Desa Cikoneng, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.

Ibu Encung mengaku sudah lama menjadikan bangunan sederhana di area hutan tersebut sebagai tempat bernaung.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, ia kerap bergantung pada kebaikan hati warga sekitar.

“Sudah lama saya tinggal di sini sendirian. Kalau untuk makan sehari-hari, kadang saya sering dikasih sama warga yang rumahnya lumayan jauh dari tempat tinggal saya,” tuturnya, Rabu (17/6/2026).

Gubuk yang ditempatinya kerap bocor saat musim hujan tiba. Karena lokasinya yang berada di tengah kawasan Perhutani, praktis Ibu Encung tidak memiliki tetangga dekat.

Lahan yang ditempatinya pun bukan milik pribadi, melainkan lahan negara yang diizinkan untuk ditempati sementara berkat bantuan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tamansari.

“Saya tinggal sendirian tidak ada tetangga. Kalau malam cuacanya sangat dingin, apalagi tempat tinggal saya ini sangat jauh dari pemukiman warga lainnya,” cerita Ibu Encung.

Ketika ditanya mengenai bantuan pemerintah, ia menjelaskan pernah menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp900 ribu dari Pemerintah Desa Cikoneng.

Namun, bantuan tersebut sudah lama berlalu dan habis digunakan untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Muit, perwakilan LMDH Tamansari Gunung Pulosari, membenarkan situasi yang dialami Ibu Encung.

Ia menjelaskan bahwa secara aturan kawasan tersebut memang dilarang untuk dijadikan tempat tinggal. Namun, atas dasar kemanusiaan, pihaknya meminta kebijakan khusus ke pihak Perhutani.

“Saya minta izin ke Perhutani agar Ibu Encung diberikan izin tinggal di wilayah tersebut. Alhamdulillah diizinkan oleh instansi terkait, dengan syarat bangunannya tidak boleh permanen,” kata Muit.

Kondisi Ibu Encung yang memprihatinkan ini memantik empati warga sekitar. Parman, salah seorang warga setempat, mengatakan bahwa masyarakat akhirnya berinisiatif menggelar gotong royong untuk memperbaiki gubuk tersebut dengan peralatan seadanya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua RT Kampung Tamansari, Ating. Ia menyebutkan bahwa perbaikan gubuk Ibu Encung murni menggunakan anggaran swadaya dari masyarakat.

Berdasarkan data pihak RT, Ibu Encung diketahui sudah menetap di kawasan tersebut selama kurang lebih 15 tahun.

“Kami bersama-sama gotong royong memperbaiki bangunan tempat tinggal Ibu Encung dengan menggunakan anggaran swadaya masyarakat. Saya berharap kepada pemerintah melalui instansi terkait agar bisa memberikan bantuan nyata supaya Ibu Encung bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak,” pungkas Ating.***

Comments (0)
Add Comment