Dampak Kenaikan Dolar terhadap Rupiah di Kabupaten Serang, Pemkab Fokus Jaga Harga Sembako dan Stabilitas Industri

SERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang memastikan terus melakukan langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah menyusul kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang sempat menembus angka Rp18.000.

Asisten Daerah (Asda) II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Serang, H. Febriyanto ZS, mengatakan kenaikan kurs dolar merupakan fenomena global yang dipengaruhi dinamika ekonomi internasional.

Meski demikian, Pemkab Serang tetap mencermati dampaknya terhadap masyarakat dan dunia usaha di daerah.

“Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah adalah fenomena global yang dipengaruhi dinamika ekonomi internasional. Di Kabupaten Serang, kami menyikapinya dengan tenang namun tetap waspada,” kata Febriyanto, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, pemerintah daerah terus memantau perkembangan harga bahan pokok dan bahan baku industri guna memastikan stabilitas pasokan tetap terjaga.

Selain itu, Pemkab Serang juga mendorong pemanfaatan produk lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.

Febriyanto menilai kondisi pelemahan rupiah juga dapat membuka peluang bagi sejumlah sektor ekonomi daerah, khususnya pelaku usaha yang bergerak di bidang ekspor dan pariwisata.

“Di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi pelaku ekspor dan sektor pariwisata di wilayah Anyer, Cinangka dan daerah lainnya yang menjadi potensi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan dunia usaha untuk tetap produktif serta menjaga daya beli di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat dan dunia usaha di Serang untuk tetap produktif, menjaga daya beli, dan bersama-sama menjadikan tantangan ini sebagai momentum memperkuat kemandirian ekonomi daerah,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Serang, Faisal Rahmansyah, mengakui bahwa pelemahan rupiah memberikan dampak terhadap berbagai sektor, termasuk kawasan industri yang menjadi salah satu penopang ekonomi Kabupaten Serang.

“Ini sebuah keadaan nasional dan tentunya berdampak kepada Kabupaten Serang maupun Indonesia secara umum. Kabupaten Serang merupakan daerah yang kompleks karena memiliki kawasan industri, sehingga pasti ada dampaknya,” kata Faisal.

Menurut Faisal, langkah utama yang dilakukan pemerintah daerah saat ini adalah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat melalui berbagai program pengendalian inflasi.

“Kami fokus menjaga masyarakat dengan mengendalikan harga-harga sembako. Upaya yang dilakukan di antaranya operasi pasar dan pemantauan harga secara rutin agar harga barang kebutuhan pokok tetap stabil dan terjaga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Serang bersama instansi terkait terus melakukan inspeksi ke pasar-pasar tradisional guna memastikan distribusi barang berjalan lancar dan tidak terjadi praktik penimbunan yang dapat memicu kenaikan harga.

“Harus intens melakukan pemantauan pasar bersama dinas terkait, memastikan harga sembako terjaga. Supply dan demand harus seimbang. Jangan sampai ada oknum yang memainkan harga. Yang terpenting pasokan kebutuhan pokok harus lancar,” katanya.

Faisal menambahkan, tekanan ekonomi akibat tingginya biaya produksi juga mulai dirasakan sektor industri.

Bahkan, terdapat sejumlah perusahaan di kawasan industri yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat tidak mampu menanggung kenaikan biaya operasional.

“Beberapa perusahaan melakukan PHK karena biaya produksi semakin mahal. Ada sekitar tiga perusahaan di kawasan Modern Cikande yang terdampak, dengan jumlah pekerja yang terkena PHK mencapai sekitar 800 orang,” ungkapnya.

Meski demikian, Pemkab Serang optimistis kondisi ekonomi daerah tetap dapat terjaga melalui pengendalian inflasi, stabilitas harga kebutuhan pokok, serta penguatan sektor ekonomi lokal yang memiliki daya saing di tengah gejolak ekonomi global.***

Comments (0)
Add Comment