Kepengurusan HMI Cabang Serang Lewat Masa Jabatan dan Disebut Inkonstitusional, Komisariat FASEI Desak Gelar Konfercab

SERANG –HMI Komisariat FASEI Cabang Serang mendesak HMI Cabang Serang segera menggelar Konferensi Cabang atau KONFERCAB.

Desakan itu muncul karena kepengurusan HMI Cabang Serang sudah 21 bulan lewat masa jabatan, tapi belum ada regenerasi.

Menurut HMI Komisariat FASEI, keterlambatan ini bukan masalah sepele. Kondisi ini dinilai melanggar AD/ART HMI dan merusak sistem kaderisasi.

Sekretaris Umum HMI Komisariat FASEI Abdul Wahid Kohar mengatakan, masa kepengurusan HMI Cabang Serang sudah habis. Tapi KONFERCAB untuk memilih ketua baru belum juga dilaksanakan.

“Kami menilai kondisi hari ini bentuk kemunduran demokrasi organisasi. Ketika periodesasi sudah berakhir tapi regenerasi tidak segera dilaksanakan, maka itu pengabaian konstitusi dan pengkhianatan semangat kaderisasi yang jadi ruh perjuangan HMI,” ujar Abdul Wahid.

Ia menegaskan tidak ada alasan yang bisa membenarkan pengabaian AD/ART.

Abdul Wahid meminta HMI dikelola sesuai aturan, bukan kehendak segelintir orang atau kepentingan politik internal.

“HMI bukan milik segelintir orang. HMI milik seluruh kader yang kedaulatannya dijamin AD/ART. Karena itu, segala upaya mempertahankan status quo dengan mengabaikan KONFERCAB tidak bisa dibenarkan secara organisasi maupun moral,” tegasnya.

Ia juga menolak alasan penundaan karena program kerja. Justru penundaan yang panjang membuat kepemimpinan HMI Cabang Serang kehilangan legitimasi.

Atas kondisi itu, HMI Komisariat FASEI menyampaikan 4 tuntutan:

1. Mendesak HMI Cabang Serang segera menetapkan dan laksanakan KONFERCAB secepatnya.

2. Mendesak PB HMI ambil langkah sesuai konstitusi, termasuk bentuk caretaker jika perlu.

3. Mengajak seluruh kader HMI se-Cabang Serang kawal konstitusi dan tolak praktik inkonstitusional.

4. Menegaskan regenerasi kepemimpinan tidak boleh dihambat kepentingan apa pun.

“Diam terhadap pelanggaran konstitusi sama artinya membiarkan kemunduran organisasi. Hari ini persoalannya bukan siapa pemimpin berikutnya,” kata dia.

“Tapi apakah HMI masih punya keberanian tunduk pada konstitusinya sendiri. Jika konstitusi diabaikan, HMI sedang mempertaruhkan marwah, integritas, dan masa depan kaderisasi,” pungkas Abdul Wahid. ***

Comments (0)
Add Comment