Pengurus Rayon PMII STIE Al-Khairiyah Dilantik Sekaligus Gelar Dialog Publik

AL KHAIRIYAH CILEGON PANDEGLANG

CILEGON- Pengurus Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PR PMII) STIE Al-Khairiyah menggelara acara Palantikan sekaligus Dialog Publik dengan tema “Rekonstruksi Paradigma Mahasiswa Al-Khairiyah dalam Mewujudkan Universitas Al-Khairiyah” yang betempat di Yayasan Al-Khairiyah Citangkil, Sabtu (24/32018).

Sebelum Dialog Publik, PR PMII STIE Al-Khairiyah yang diketuai Afri Nuari, dengan Sekretaris Noviyanti,dan Bendahara Syifa Urrahmah, resmi dilantik.

Berbagai tamu undangan yang hadir diantaranya Ketua Umum PC PMII Kota Cilegon Andra Imam Putra Graha, Majelis Pembina PMII Cilegon H. Habibi Haliburton, Ikatan Alumni PMII Cilegon, Tatan Spartan, PCI NU FREU & Praktisi Akademik Pengendalian Mutu Pendidikan dan Pengembangan Pengajaran Dr. Tech. Agus Pramono, Pengasuh Pondok Pesantren sekaligus Dewan Pembina PB Al-Khairiyah Citangkil Ustadz Alwiyan Qosid Syam’un.

Dalam samhutannya, Ketua PMII Al-Khairiyah Edi Djunadi mengatakan, PMII dengan pemikirannya mewarnai pergerakan mahasiswa di Al-Khairiyah.

“Sejak tahun 2013 sampai saat ini PMII hadir mewarnai pergolakan pemikiran mahasiswa mahasiswa Al-Khairiyah. Kehadiran PMII diharapkan mampu untuk meningkatkan kualitas Mahasiswa Al-Khairiyah dan kualitas Perguruan tinggi Al-Khairiyah,” katanya.

Sedangkan MABINCAB PMII Cilegon H. Habibi Haliburton dalam sambutannya mengungkapakan, eksistensi PMII di Kota Cilegon yang kini terus berkembang. Ia berpesan agar PMII lebih peka terhadapa perubahan sosial dan berpihak kepada rakyat.

“Kaderisasi PMII di Cilegon telah berlangsung selama 17 tahun mulai tahun 2001 dari mulai hanya 2 sampai 3 orang yang hari ini telah beregenerasi hingga ratusan kader. Bahwa PMII sebagai organisasi mahasiswa harus peka terhadap perubahan sosial dan senantiasa berada di pihak rakyat serta mampu mengisi pos kepemimpinan ke depan agar bisa menjalankan agenda agenda yang baik dan benar,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua IKA PMII Cilegon Tatan Spartan selaku alumni PMII akan menyiapkan wadah penguatan organisasi. Ia juga mengajak kepada pengurus PMII saat ini untuk mampu mengahdapi tantangan.

“Kami di Ikatan Alumni PMII Cilegon yang masih baru terbentuk adalah menyiapkan wadah wadah untuk pengembangan alumni dan penguatan kekuatan alumni, serta bagaimana mempersiapkan wadah wadah strategis untuk mendistribusikan kader-kader di ruang profesional. Maka kader PMII harus pula mempersiapkan diri dengan kualitas dan kapabilitas yang mapan dan siap ditempatkan di pos manapun,” tegasnya.

Dalam acara Dialog Publik, untuk Pemateri diisi oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Al-Khairiyah Ustadz Alwijan Qosyid Syam`un / Gus Alwi menyampaikan keynote speech pada acara Pelantikan dan Dialog Publik yang digelar Oleh Pengurus Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia STIE Al-Khairiyah (PR PMII STIE Al-Khairiyah).

Dalam materinya, Gus Alwi berpesan agar Mahasiswa Al-Khairiyah bisa mengembangkan riset dan mengimplementasikan inovasi bagi kemajuan dan terwujudnya Universitas Al-Khairiyah. Dia juga mengapresiasi PMII Al-Khairiyah yang ikut serta dalam merumuskan gagasan Universitas Al-Khairiyah.

“Saat ini Yayasan Al-Khairiyah sedang berjuang untuk menjadikan Yaysan Al-Khairiyah Sebagai Pusat Pendidikan di Banten Khusunya dan Indonesia Umumnya. Al-Khairiyah memiliki sejarah panjang di Negara Indonesia. sejak lahirnya Al-Khairiyah sampai sekarang tetap konsisten mengusung pencerdasan ummat,” terangnya.

Gus Alwi berharap, Mahasiswa sebagai elemen terbesar di dalam Perguruan Tinggi memiliki peran aktif untuk membantu dalam suskesi Universitas Al-Khairiyah. Karena Apabila mahasiswa tidak ikut berperan serta maka gagasan ini akan sulit terealisasi.

“Mahasiswa Al-Khairiyah harus memiliki pandangan kedepan agar tidak tertinggal,” kata Gus Alwi

Selain itu, PMII Al-Khairiyah diharapkan menjadi garda terdepan dalam pengembangan intelektual Mahasiswa di Tiga Sekolah Tinggi Al-Khairiyah.

“PMII Al-Khairiyah harus memiliki minat budaya Literasi yang tinggi,” ujar Gus Alwi.

Sementara Pemateri selanjutnya diisi oleh Dr. Tech Agus Pramono Praktisi Akademik Pengendalian Mutu Pendidikan dan Pengembangan Pengajaran, yang memaparkan tema; “Persiapan Membentuk Perguruan Tinggi setara Universitas”

Dalam materinya Dr. Agus menjelaskan, peraturan yang diatur dalam Permendikti mengenai syarat dan standar minimal peningkatan kelas PT menjadi Universitas, diantaranya dibutuhkan 4 Fakultas dengan minimal 2 Prodi di satu fakultas. Selain itu tenaga pengajar yang tersertifikat dan terstandarisasi harus mumpuni dalam mencapai akreditasi yang baik.

“Cilegon dan Banten Khususnya harus mempersiapkan diri dalam program Internasionalisasi Universitas di Indonesia, diantaranya tentang wacana kampus internasional yang akan membuka kampus di Indonesia, ada dampak posistif terkait transformasi iptek yang makin cepat namun juga ada dampak negatifnya yaitu menurunkan minat dan ketertatikan terhadap kampus lokal. Maka harus cermat dan bergegas untuk membenahi bagi seluruh civitas akademika,” paparnya.

Selain itu, Dr. Agus juga menjabarkan metode menghadapi persaingan global, dari mulai mempersiapkan akademik hingga intelektual dan softskill.

“Menurut Rais Syuriah PCI NU Federasi Rusia dan Eropa Utara, salah satu kunci untuk menghadapi persaingan global adalah mempersiapkan kemampuan akademik dengan peningkatan intelektual dan softskill serta peningkatan Spiritual, karena spiritual menjadi kunci penentu keberhasilan masa depan.” Tandasnya. (*/Ilung)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *