Iklan Banner

Mendongkrak Peran Pemuda dalam Perubahan Sosial

Oong Ade HUT Gerindra

 

CILEGON– Tahun 2045 menjadi tonggak penting dalam perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas. Pemerintah menetapkan visi besar tersebut sebagai arah pembangunan jangka panjang, bersamaan dengan momentum bonus demografi yang berlangsung sejak 2015 dan diperkirakan mencapai puncaknya pada 2035.

Pada periode ini, jumlah penduduk usia produktif akan mendominasi, menjadi potensi besar bagi kemajuan bangsa.

Namun, di sisi lain, ledakan populasi produktif ini dapat berbalik menjadi malapetaka jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ledakan usia produktif bisa menjadi ancaman apabila kemampuan dan keterampilan kerja para pemuda tidak mumpuni dan profesional, demikian salah satu catatan penting dalam diskursus pembangunan daerah yang kini tengah ramai diperbincangkan.

Ahmad Aflahul Aziz, tokoh muda asal Kota Cilegon, menyoroti kondisi tersebut dengan penuh kesadaran.

Ia menilai, tanpa pendampingan dan pembinaan yang tepat, bonus demografi tidak akan menjadi berkah, melainkan beban sosial dan ekonomi.

“Perlu ada pendampingan dan mentoring agar bonus demografi ini tidak malah jadi bencana bagi daerah,” ujar politikus muda Partai Gerindra itu, Senin (20/10/2025).

Menurut Aziz, salah satu kunci penting dalam menghadapi era bonus demografi adalah memastikan setiap pemuda memiliki life skill yang kuat dan pengalaman kerja yang relevan dengan kebutuhan industri.

“Saya berharap ada wadah yang mampu mendorong life skill dan experting bagi para pemuda, terutama di Cilegon, agar serapan tenaga kerja bisa optimal,” ia berharap.

Ia menambahkan, daerah industri seperti Cilegon memiliki peluang besar untuk menyerap tenaga kerja muda lokal apabila dibarengi dengan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Kalau pemuda dibekali kemampuan yang tepat, maka mereka bukan hanya pencari kerja, tapi juga bisa menjadi pencipta lapangan kerja,” ujar Aziz menegaskan.

Anggota Komisi VI DPRD Cilegon tersebut menilai bahwa ledakan penduduk usia produktif harus disambut dengan program-program yang benar-benar menyentuh kepentingan pemuda.

Program tersebut harus mampu membuka ruang ekspresi, kreativitas, dan kontribusi nyata bagi perubahan sosial.

“Pemuda harus diberikan ruang untuk berinovasi dan berkontribusi sesuai dengan potensinya,” katanya.

Salah satu wadah yang dinilai strategis untuk mendorong hal tersebut adalah Karang Taruna.

Menurut Aziz, organisasi ini memiliki basis sosial yang kuat di tingkat akar rumput dan dapat menjadi motor penggerak perubahan di masyarakat.

Agil HUT Gerindra

“Karang Taruna punya potensi besar untuk mendorong gerakan sosial dan ekonomi yang berbasis pada semangat gotong royong,” tuturnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa peran pemuda harus dilibatkan secara partisipatif dalam setiap agenda pembangunan daerah.

Partisipasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk nyata keterlibatan pemuda dalam mengambil keputusan dan melaksanakan program sosial.

“Peran pemuda ini penting untuk terus dilibatkan secara partisipatif sehingga mampu menjawab tantangan ke depan yang lebih berat,” imbuhnya.

Dalam konteks sosial, Aziz menilai pemuda memiliki keunggulan tersendiri dibanding kelompok usia lain. Mereka memiliki energi, waktu, dan semangat yang besar untuk mengabdi.

“Dalam bidang sosial, pemuda memiliki ruang yang sangat luas. Ada energi, waktu, dan pikiran yang bisa disumbangkan untuk membantu pemerintah meningkatkan kesejahteraan dan mengatasi berbagai isu sosial,” terangnya.

Aziz juga mengingatkan bahwa perubahan sosial tidak akan terjadi hanya melalui kebijakan pemerintah.

Perubahan sejati, menurutnya, lahir dari inisiatif masyarakat, terutama kaum muda yang memiliki idealisme dan semangat perubahan.

“Pemuda harus menjadi motor penggerak perubahan, bukan hanya penonton dalam proses pembangunan,” ujarnya.

Namun, ia tak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi dunia kepemudaan saat ini. Banyak organisasi kepemudaan yang kehilangan arah dan konsolidasi, bahkan terjebak dalam konflik internal yang menghambat produktivitas.

“Kondisi kepemudaan saat ini masih dalam keadaan kalut, maka perlu konsolidasi yang jelas agar peran pemuda bisa dimaksimalkan,” tegasnya.

Selain itu, menurutnya, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan organisasi pemuda dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan. Kolaborasi tersebut menjadi kunci agar program kepemudaan tidak berhenti di tataran seremonial.

“Sudah saatnya semua pihak memandang pemuda bukan sebagai beban, tapi sebagai mitra strategis dalam pembangunan,” ucap Aziz.

Ia berharap pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang membuka ruang seluas-luasnya bagi pemuda untuk berperan di berbagai sektor.

Lebih jauh, Aziz menilai bahwa keberhasilan Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh seberapa siap generasi mudanya menghadapi perubahan sosial dan ekonomi yang begitu cepat.

“Kalau pemuda hari ini kuat, maka masa depan bangsa juga akan kuat,” tambahnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen pemuda di Kota Cilegon untuk terus mengasah kapasitas diri, memperluas jejaring, dan aktif dalam kegiatan sosial. .

“Jangan tunggu perubahan datang, tapi jadilah bagian dari perubahan itu sendiri,” tutup Aziz penuh semangat. (*/ARAS)

Ade Hasbi HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien