Pertumbuhan Ekonomi Banten Capai 5,29 Persen, Pemerintah Fokus Kembangkan Banten Selatan
SERANG – Pertumbuhan ekonomi Banten pada triwulan III mencapai 5,29 persen, di atas rata-rata nasional yang sebesar 5,04 persen.
Namun, pertumbuhan tersebut belum merata karena masih terkonsentrasi di wilayah utara.
Demikian disampaikan Asisten Daerah (Asda) II Bidang Pembangunan dan Ekonomi Pemerintah Provinsi Banten, Budi Santoso, usai Forum Ekonomi Banten 2025 yang digelar Bank Indonesia Banten, di hotel Aston Serang, Selasa (9/12/2025).
Budi Santoso mengatakan, untuk mengatasi ketimpangan ini diperlukan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, perbankan, dunia investasi, hingga media massa.
“Pemerintah pusat telah memprioritaskan pembangunan infrastruktur di Banten Selatan, seperti proyek jalan tol Serang – Panimbang, jalur komuter Rangkasbitung – Serpong, serta rencana reaktivasi jalur kereta Rangkasbitung, Saketi, Labuan dan Saketi, Bayah,” ucapnya.
Selain itu, Pemprov Banten juga menyiapkan program pembangunan jalan usaha tani sepanjang 80 kilometer melalui program BPR Andra yang difokuskan di wilayah Lebak, Pandeglang, dan sebagian Kabupaten Serang.
“Ini bagian dari upaya kita untuk mengangkat perekonomian masyarakat di Banten Selatan,” tambah Budi.
Dari sisi tata ruang, pemerintah kabupaten/kota juga mulai menyiapkan kawasan industri baru yang mendukung pengembangan wilayah.

“Di Lebak akan dikembangkan kawasan industri Cileles, sementara di Pandeglang ada kawasan industri Bojong. Semua disesuaikan dengan potensi tol dan infrastruktur yang sedang dibangun,” ujarnya.
Budi menyebutkan bahwa realisasi investasi di Provinsi Banten pada 2025 mencapai Rp91 triliun, menempatkan Banten di posisi keempat secara nasional. Namun, sebagian besar investasi tersebut masih terkonsentrasi di wilayah utara.
“Untuk wilayah selatan, kita sedang menyiapkan tata ruang dan infrastruktur agar investor mulai melirik. Sektor prioritasnya adalah pertanian dan pariwisata. Jangan sampai pariwisata hanya identik dengan Anyer, padahal di selatan banyak potensi yang lebih indah,” katanya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Ameriza M. Moesa, menilai bahwa pengembangan wilayah selatan menjadi kunci dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.
“Selama ini Banten masih under utility potensi besar di bidang pertanian dan pariwisata belum tergali secara optimal. Padahal sektor-sektor ini bisa menjadi motor pertumbuhan baru,” ungkap Ameriza.
Menurutnya, disparitas antara wilayah utara dan selatan menjadi salah satu penyebab masih tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan di Banten meski pertumbuhan ekonominya tergolong baik.
“Dengan membangun wilayah selatan, kita berharap terjadi lompatan pertumbuhan ekonomi. Momentum pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan MRT yang akan masuk ke selatan harus dimanfaatkan dengan baik,” jelasnya.
Ameriza menambahkan, pemerintah daerah perlu menyiapkan kebijakan dan insentif yang menarik bagi investor.
“Selain menyiapkan lahan seperti di kawasan Cileles yang dekat dengan pintu tol, perlu juga diterapkan konsep industri hijau agar pembangunan di Banten Selatan lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Ia berharap Forum Ekonomi Banten 2025 dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan Banten yang tumbuh inklusif, berdaya saing, dan sejahtera.***
