Sebulan Mengayuh Asa, Tukang Sol Sepatu Asal Palembang Rela Bersepeda Demi Bertemu Gubernur Jabar Dedi Mulyadi
SERANG – Di tengah hiruk-pikuk konten viral dan pencitraan instan, kisah sederhana justru datang dari seorang tukang sol sepatu bernama Ali, warga asal Palembang, Sumatra Selatan.
Dengan sepeda tua dan peralatan kerja di tas punggungnya, Ali menempuh perjalanan panjang lintas pulau selama lebih dari satu bulan demi satu tujuan: bersilaturahmi dan berdiskusi langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Perjalanan itu bukan perjalanan biasa. Ali tidak membawa proposal proyek, tidak pula berharap bantuan materi.
Ia hanya membawa niat, kerja keras, dan keyakinan serta sebuah sepeda yang setia menemaninya dari Palembang hingga Jawa Barat.
Ali mengaku pertama kali mengenal sosok Dedi Mulyadi bukan dari baliho atau panggung politik, melainkan dari konten YouTube yang kerap menampilkan sisi kemanusiaan, kepedulian sosial, dan kesederhanaan sang gubernur.
“Dari situ saya merasa ingin ketemu langsung, sekadar ngobrol, silaturahmi, diskusi soal kehidupan,” ujar Ali kepada warga yang ditemuinya di perjalanan, Sabtu (24/1/2026).
Dorongan itulah yang membuatnya mantap mengayuh sepeda menembus panas, hujan, tanjakan, dan batas lelah manusia.
Selama perjalanan, Ali tidak sepenuhnya bergantung pada belas kasihan orang lain.
Ia tetap bekerja sebagai tukang sol sepatu keliling, menawarkan jasanya di kampung-kampung yang ia lewati.
Di situlah ia makan, beristirahat, dan kembali mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan.
“Biar pelan, yang penting jalan,” prinsip sederhana yang ia pegang.
Tas yang dibawanya berisi alat-alat sol sepatu, pakaian seadanya, dan perlengkapan dasar bersepeda. Tidak ada kemewahan, hanya keteguhan hati.
Setelah perjalanan panjang, Ali akhirnya tiba di kediaman Dedi Mulyadi di Jawa Barat. Namun, harapan untuk bertatap muka belum terwujud. Dedi Mulyadi diketahui sedang menjalankan tugas negara di luar daerah.
Ali tidak kecewa berlebihan. Ia justru menerimanya dengan lapang dada.
“Tidak apa-apa. Mungkin belum rezekinya. Anggap saja usaha, pengalaman, sekaligus jalan-jalan,” katanya sambil tersenyum.
Kisah Ali bukan soal bertemu pejabat atau tidak. Perjalanan ini menjadi cermin ketulusan rakyat kecil, tentang mimpi, keberanian, dan cara sederhana menghargai proses hidup.
Di saat banyak orang mengukur keberhasilan dari hasil instan, Ali menunjukkan bahwa perjalanan itu sendiri adalah kemenangan.
Meski harus kembali ke Palembang tanpa bertemu langsung dengan Dedi Mulyadi, Ali pulang membawa cerita, pengalaman, dan pelajaran berharga bahwa harapan tidak pernah sia-sia selama diperjuangkan dengan jujur. (*/Sahrul).
