Iklan Banner

Sorban Hijau Dan Kembalinya Putra Pandeglang: Sebuah Klimaks Di Sabtu Syahdu

Pandeglang Gerindra HUT

Catatan Reflektif Menuju Muktamar XXI

Oleh: Ocit Abdurrosyid Siddiq, Alumnus MI dan MTs Mathlaul Anwar Binuangeun

Sabtu pagi ini, 21 Februari 2026, udara Pandeglang dan Serang seolah membawa vibrasi yang berbeda. Di meja saya, kopi hitam sisa buka puasa tadi masih mengepul, namun pikiran saya tertuju pada sebuah adegan yang baru saja tersaji di Cadasari hingga ke jantung Kota Serang.

Dua orang menteri Republik Indonesia turun ke tanah kelahiran Mathla’ul Anwar. Ada Menko Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman.

Kedatangan mereka untuk meresmikan Pondok Pesantren milik Ustadz Adi Hidayat adalah sebuah kehormatan bagi Banten. Namun, bagi mata seorang pengamat organisasi, ada pemandangan yang jauh lebih “berbicara” daripada sekadar seremonial peresmian.

Sosok Iftitah Sulaiman tampil begitu mencolok. Beliau bukan sekadar menteri yang datang bertamu; beliau adalah putra asli Pandeglang yang pulang ke rahim ideologisnya. Dan siang itu, beliau mengirimkan pesan visual yang sangat kuat: Sorban hijau melingkar di bahu, dan kopiah hitam bertuliskan “Mathla’ul Anwar” bertengger di kepala.

“Hehe…” Saya kembali tersenyum simpul di balik cangkir kopi.

Jujur, sebelumnya saya merasa gamang. Kabar burung yang beredar tentang pengusungan beliau sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBMA sempat membuat saya menimbang-nimbang dalam keraguan. Apakah ini hanya sekadar isu musiman, ataukah sebuah desain besar?

Agil HUT Gerindra

Namun, melihat adegan tadi siang—saat kedua menteri tersebut mengunjungi kediaman Ketua Umum PBMA Kiai Embay Mulya Syarif di Kota Serang dengan atribut lengkap MA tersebut—kegamangan saya seolah menemukan jawabannya. Sebuah pembenaran yang tak perlu banyak penjelasan verbal.

Dalam filsafat simbol, atribut bukanlah sekadar kain. Sorban hijau dan kopiah MA di kepala seorang menteri yang sedang naik daun adalah “Pernyataan Kesetiaan” sekaligus “Proyeksi Kekuatan”. Ini adalah sebuah sinyal bahwa kontestasi Muktamar XXI bukan lagi sekadar urusan domestik internal, melainkan sudah menarik perhatian radar kekuasaan di tingkat nasional.

Betapa indahnya kontestasi ini!

Jika tempo hari kita melihat manuver media yang rapi melalui halaman pertama koran, hari ini kita melihat manuver simbolik yang tak kalah dahsyat. Kehadiran Iftitah di kediaman Kiai Embay dengan simbol organisasi Mathla’ul Anwar seolah ingin menegaskan: “Saya pulang bukan sebagai tamu, tapi sebagai anak kandung yang siap berkhidmat.”

Bagi saya yang tak sempat hadir dalam acara tadi siang, fenomena ini membuat konstelasi Muktamar semakin kaya warna. Kita melihat potensi-potensi terbaik MA berserakan dan kini mulai berkumpul. Ada yang berjuang lewat jalur dakwah, jalur parlemen, jalur birokrasi, hingga jalur menteri.

Semua potensi ini—termasuk Iftitah dengan profil menteri dan putra daerahnya—adalah aset berharga. Kegamangan saya berubah menjadi rasa syukur. Ternyata, Mathla’ul Anwar masih memiliki daya pikat yang luar biasa, sehingga putra-putra terbaik bangsa pun merasa bangga mengenakan kopiah kita di hadapan publik dan koleganya di kabinet.

Muktamar XXI di Serang nanti kelihatannya tidak hanya akan menjadi ajang adu gagasan, tapi juga ajang pembuktian: Siapa nakhoda yang paling mampu mengorkestrasi seluruh potensi raksasa ini menjadi kekuatan nyata untuk Indonesia 2045?

Selamat datang di gelanggang, Pak Menteri. Sorban hijau itu sangat serasi. Dan untuk kita semua, mari kita nikmati indahnya drama pengabdian ini. Kopi saya sudah habis, tapi rasa penasaran saya tentang akhir cerita ini justru baru saja dimulai. ***

Rifki HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien