Perajin Topi Anyaman Pandan di Pandeglang Berharap Dukungan Pemerintah untuk Akses Pasar
Pemerintah untuk Akses Pasar
SERANG – Ratusan perajin topi anyaman daun pandan di Kecamatan Banjar dan Kecamatan Mekarjaya, Kabupaten Pandeglang, kini menghadapi persoalan serius setelah jalur pemasaran utama mereka terhenti sejak Februari 2026.
Para pelaku UMKM berharap pemerintah daerah maupun provinsi dapat membantu membuka akses pasar baru agar usaha tradisional tersebut tetap bertahan.
Adi Pandat, pemilik UMKM kerajinan anyaman pandan di Pandeglang, mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun hasil produksi para perajin disalurkan untuk kebutuhan ekspor melalui perusahaan mitra, PT Dados Sekana.
Namun, kerja sama tersebut berakhir sehingga ribuan produk tak lagi terserap pasar.
“Kurang lebih sudah 30 tahun topi anyaman kami diserap untuk ekspor. Sekarang penyerapan berhenti, sekitar 2.000 topi masih menumpuk dan belum terjual,” ujar Adi, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, penghentian kerja sama terjadi karena pemilik perusahaan mitra sudah berusia lanjut dan tidak memiliki penerus usaha.
Kondisi ini membuat para perajin terpaksa menurunkan kapasitas produksi karena pasar lokal belum mampu menyerap dalam jumlah besar seperti sebelumnya.

Jika sebelumnya produksi bisa mencapai ribuan unit per bulan, kini hanya ratusan topi yang dibuat untuk memenuhi permintaan skala lokal. Penurunan tersebut berdampak langsung pada pendapatan perajin.
Tercatat sekitar 157 perajin menggantungkan hidup dari kerajinan anyaman daun pandan ini.
Sebagian besar di antaranya merupakan warga lanjut usia yang menjadikan produksi topi sebagai sumber penghasilan utama keluarga.
“Kami khawatir kehilangan mata pencaharian. Topi anyaman pandan ini selama ini jadi produk unggulan karena sudah tembus pasar ekspor, walaupun lewat perusahaan perantara,” jelasnya.
Para perajin berharap pemerintah dapat memfasilitasi promosi dan pemasaran, baik dengan mendorong penggunaan produk lokal oleh instansi pemerintah maupun membantu mempertemukan perajin dengan calon pembeli baru, termasuk membuka peluang ekspor secara langsung.
Selain topi, para perajin di Banjar dan Mekarjaya juga memproduksi berbagai kerajinan lain seperti tas kaneron, sajadah, tikar, sandal, dompet, hingga tentengan.
Namun, produk yang selama ini rutin diekspor melalui perusahaan mitra hanyalah topi anyaman pandan.
Dengan dukungan pemasaran yang tepat, para pelaku UMKM di Pandeglang optimistis kerajinan anyaman pandan tetap memiliki peluang besar menembus pasar nasional maupun internasional.***

