Istana Tamiyang Hanya Pencitraan, Warga Harus Tetap Kritisi Tambang Pasir JLS
CILEGON – Keberadaan Istana Pasir yang dibuat oleh pengusaha tambang pasir di Jalan Lingkar Selatan (JLS) tepatnya di Lingkungan Temiyang, Kelurahan Lebak Denok, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, yang mulai ramai dikunjungi warga yang penasaran. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi lingkungan sekitarnya.
Seperti yang diungkapkan oleh Ayuni Mastuher di Media Sosial Facebook Selasa (26/6/2018) siang sekitar pukul 14.00 WIB. Ia merasa khawatir adanya keramaian di tempat wisata Istana Pasir itu menstimulasi hadirnya praktik prostitusi.
“Saya bukan berprasangka buruk. Apalagi menuduh.. saya cuma takut. Adanya tempat wisata di daerah ini.. takut memicu ada nya prostitusi jika ramai nya sampe malam..,” tulisnya, melalui akun @Ayuniee Mastuher Ibnu Fatani, Selasa (26/6/2018).
Meski disatu sisi bangga, Ayunie juga merasa takut karena masih lemahnya pengawasan dan keamanan di kawasan JLS, sehingga hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh oknum remaja yang nongkrong.
“Karena yang saya lihat daerah JLS luput dari pengawasan keamanan. Dari mulai remaja yang tongkrong2 putra putri campur baur.. yg tidak jelas. Apa kepentingan nya.. Saya sangat bangga melihat tempat wisata ini.. senang karena ada seseorang yang menyalurkan bakat dan kreatifitasnya melalui kerukan pasir/wadas itu. Namun perlu ditanya.. apa manfaat dari itu semua.. apa cuma untuk kepentingan usaha yg menghasilkan pundi” rupiah…..???? Saya takut.. Saya takut. Dengan generasi sekarang. Semono be lah. Bokan nyangkin dawa,” terang Ayunie.

Postingannya tersebut, hingga sore pukul 17.00 WIB, sudah mendapat like ratusan dan puluhan komentar yang menanggapinya.
Menyikapi hal tersebut, Aktivis Ikatan Mahasiswa Cilegon (IMC), Asep Soenaryo, juga mengkritisi soal seringnya banjir di Cilegon yang diduga akibat praktik tambang pasir yang terus terbiarkan.
“Yang seharusnya disadari masyarakat Cilegon adalah intensitas banjir di Cilegon yang terus meningkat dan semakin parah sejak marak aktivitas tambang pasir di kawasan JLS,” himbau Mahasiswa STAK Cilegon ini.
Bahkan pihaknya juga mensinyalir adanya upaya pencitraan dari pihak tertentu, untuk menutupi kerusakan alam akibat tambang pasir dengan dibangunnya wisata Istana Pasir di tambang pasir tersebut.
“Bisa jadi ini upaya pengelabuan saja. Ratusan bukit hilang, lahan-lahan jadi tandus bahkan jadi berkubang karena diambil pasirnya. Tapi ini luput dari perhatian dan jarang yang mengkritisi. Sementara satu bukit dihias begitu, kenapa masyarakat mudah tergiur dan melupakan dampak kerusakannya?” ungkapnya.
Asep juga berharap kepada pihak Pemerintah Kota Cilegon dan Provinsi Banten agar lebih concern terhadap lingkungan hidup.
“Ini harus jadi perhatian serius pemerintah, karena dampak lingkungan itu urusan jangka panjang sampai anak cucu, bukan kerusakan saat ini saja,” tegasnya. (*/Ilung)

