CILEGON – Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Al-Khairiyah (GEMA Al-Khairiyah) Institut Agama Islam Al-Khairiyah menggelar Seminar Literasi Digital bertema “Student Care, Cognitive Warfare” di Auditorium Institut Agama Islam Al-Khairiyah, Citangkil, Kota Cilegon, Banten, Rabu (12/8/2026) lalu.
Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya meningkatkan kapasitas mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi dan dinamika ruang digital yang semakin kompleks.
Tema Student Care, Cognitive Warfare diangkat untuk merespons berbagai tantangan di era digital, mulai dari derasnya arus informasi, pembentukan opini, manipulasi narasi hingga pengaruh teknologi terhadap pola pikir dan perilaku generasi muda.
Ketua DPK GEMA Al-Khairiyah Institut Agama Islam Al-Khairiyah, Abdu Rosyid, mengatakan literasi digital menjadi bagian penting dalam membangun kualitas intelektual mahasiswa.
“Mahasiswa hari ini hidup dalam ruang digital yang sangat terbuka. Setiap informasi dapat dikonsumsi dalam hitungan detik, tetapi tidak semua informasi memiliki kebenaran dan nilai edukatif. Karena itu, mahasiswa harus memiliki daya kritis agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi mampu membaca, menganalisis, dan menguji setiap informasi secara objektif,” kata Abdu.
Menurutnya, cognitive warfare menjadi salah satu tantangan yang perlu dipahami mahasiswa karena bentuk peperangan pada era digital tidak selalu berlangsung secara fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui informasi, narasi, persepsi dan pembentukan opini publik.
“Tema Student Care, Cognitive Warfare ini kami pilih karena mahasiswa harus mendapatkan perhatian serius dalam menghadapi perubahan ekosistem digital. Kita harus membangun mahasiswa yang memiliki ketahanan berpikir, tidak mudah terprovokasi, tidak gampang termakan hoaks, dan tetap menjadikan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai akademik sebagai dasar dalam mengambil sikap,” ujarnya.
Abdu menambahkan, organisasi mahasiswa memiliki tanggung jawab menghadirkan ruang edukasi yang mampu menjawab berbagai persoalan dan tantangan zaman.
“GEMA Al-Khairiyah harus hadir sebagai ruang kaderisasi yang mampu menjawab persoalan kontemporer. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan media sosial, tetapi bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat intelektualitas, menyebarkan gagasan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Seminar Literasi Digital, Putri, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran dan diskusi bagi mahasiswa untuk memahami dinamika ruang digital secara lebih kritis.
“Kami ingin seminar ini tidak berhenti pada pemahaman mengenai teknologi, tetapi juga mengajak mahasiswa menyadari bahwa ruang digital memiliki pengaruh besar terhadap cara kita berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Karena itu, mahasiswa harus memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mengelola informasi secara bijak,” kata Putri.
Ia berharap peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam aktivitas sehari-hari, terutama ketika menerima maupun menyebarkan informasi melalui media digital.
“Harapan kami, setelah mengikuti kegiatan ini mahasiswa dapat lebih kritis dalam menerima informasi, mampu melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi, serta menjadikan media digital sebagai ruang untuk belajar, berdiskusi, berkarya, dan menyampaikan gagasan yang konstruktif,” ujarnya.
Seminar tersebut juga menyoroti bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis dalam menggunakan perangkat dan platform digital, tetapi mencakup kesadaran kritis, etika, keamanan, kemampuan analitis serta tanggung jawab sosial.
Bagi mahasiswa sebagai kelompok intelektual, kemampuan memilah informasi dan mempertahankan independensi berpikir dinilai penting agar tidak mudah menjadi objek manipulasi informasi maupun propaganda digital.
Melalui seminar tersebut, DPK GEMA Al-Khairiyah berupaya membangun kesadaran mahasiswa bahwa menghadapi era digital membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Ketahanan intelektual, kedewasaan berpikir, kecakapan literasi dan kemampuan melakukan verifikasi informasi menjadi modal penting dalam menghadapi perkembangan ruang digital.
Kegiatan itu sekaligus menjadi bagian dari komitmen DPK GEMA Al-Khairiyah untuk menghadirkan program edukatif yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa serta perkembangan zaman.
“Mahasiswa harus merdeka dalam berpikir, kritis dalam menerima informasi, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Jangan sampai kita menguasai teknologi, tetapi justru dikendalikan oleh teknologi dan informasi yang kita konsumsi,” pungkas Abdu Rosyid.***