MAKKAH – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melalui Satuan Operasi Armuzna telah memfinalisasi persiapan pengamanan dan pelayanan jemaah pada puncak haji 1447 H / 2026 M.
Pola pergerakan jemaah dan petugas akan dimulai pada 7 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah, atau saat Nafar Tsani.
Koordinator Bidang Satuan Operasi Armuzna dan Pelindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Harun Arrasyid, menjelaskan bahwa satuan ini dibentuk untuk mengkoordinasikan pergerakan jemaah dan petugas dari Makkah menuju Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
“Tujuan dibentuknya satuan operasional ini agar kegiatan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, serta rangkaian ibadah haji seperti tawaf ifadah dapat terlayani dengan baik,” ujar Harun dalam arahannya, Senin (18/5/2026).
Berbeda dari tahun sebelumnya, PPIH kali ini mengusung konsep baru dengan membagi tugas ke dalam tiga Satgas, yakni Satgas Arafah yang bertanggungjawab Daker Bandara.
Kedua Satgas Muzdalifah yang bertanggung jawab Daker Makkah. Terakhir, Satgas Mina yang bertanggung jawab PPIH Daker Madinah.
Konsep terbaru lainnya adalah pembentukan Tim Khusus Mina. Tim ini akan bergerak lebih awal pada 7 Dzulhijjah langsung menuju Mina, tidak ke Arafah.
Mayoritas anggota tim berasal dari petugas perlindungan jemaah (Linjam) yang sudah bertugas pada tahun sebelumnya.
“Timsus Mina akan menempati pos-pos untuk menyambut jemaah murur, memantau pergerakan dari tenda ke lantai 3, serta memberikan pengawasan dan bantuan saat jemaah melakukan jamarat di malam 10 Dzulhijjah. Malam itu krusial, jadi kami butuh petugas dengan tenaga masih fresh,” jelas Harun.
Mengenai skema murur tanazul, Harun memastikan kedua skema ini sudah masuk tahap finalisasi dan akan dilaksanakan tahun ini.
Detail teknis akan disampaikan menjelang puncak haji.
Kedua skema ini bertujuan mengatur pergerakan jemaah lansia dan difabel agar tetap bisa melaksanakan mabit di Muzdalifah tanpa harus turun dari bus.
Harun mengimbau jemaah mulai menjaga stamina dan kesehatan sejak sekarang, serta menghindari aktivitas berlebihan di luar hotel.
Sebab, pergerakan puncak haji berlangsung kurang lebih 6-7 hari dan membutuhkan kondisi fisik prima.
“Bagi jemaah, tetaplah berada dalam rombongan, jangan bergerak sendiri-sendiri. Mereka berada di tempat baru dan butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” tegasnya.
Untuk penghentian operasional bus salawat dan konsumsi, Harun menyebut hal itu sudah direncanakan dan akan disampaikan langsung oleh Kabid Transportasi dan Konsumsi PPIH.
PPIH berharap seluruh rangkaian persiapan berjalan lancar agar jemaah dan petugas dapat melaksanakan ibadah puncak haji dengan aman dan tertib. (*/Red/MCH-2026)