LEBAK – Pelayanan kesehatan yang berkualitas bukan hanya tentang pemeriksaan dan pengobatan, tetapi juga menyangkut keramahan, komunikasi yang baik, serta perlakuan yang setara kepada setiap pasien.
Prinsip tersebut menjadi perhatian Puskesmas Banjarsari, Kabupaten Lebak, dalam memperkuat komitmen peningkatan pelayanan menuju Lebak Sehat dan Lebak Ruhay.
Komitmen itu ditindaklanjuti setelah adanya masukan dari seorang pasien bernama Omah mengenai pengalaman pelayanan di ruang anak pada Senin, 19 Oktober 2026, sekitar pukul 10.00 WIB.
Pihak Puskesmas Banjarsari bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak kemudian melakukan evaluasi, pembinaan pegawai, dan kunjungan langsung ke rumah pasien pada Rabu, 21 Oktober 2026, sekitar pukul 15.00 WIB.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas komunikasi antara petugas dan masyarakat sekaligus menjadikan masukan pasien sebagai bahan pembelajaran bagi penyelenggara pelayanan kesehatan.
Kepala Puskesmas Banjarsari, Iyan Hardiansyah, S.Kep.Ns., bersama Kepala Tata Usaha dan bidan desa mendatangi kediaman Omah untuk menindaklanjuti persoalan yang disampaikan.
Dalam kunjungan tersebut, manajemen puskesmas menyampaikan permohonan maaf atas pengalaman pelayanan yang dirasakan kurang nyaman serta menjelaskan langkah perbaikan yang akan dilakukan.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan pihak Puskesmas Banjarsari pembinaan dilakukan terhadap petugas yang bersangkutan dan seluruh pegawai, termasuk bidan, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya.
Puskesmas juga berkomitmen melakukan evaluasi secara berkelanjutan agar peningkatan mutu pelayanan tidak hanya menjadi respons atas masukan masyarakat, tetapi menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari.
“Saya berjanji akan terus melakukan evaluasi terhadap semua pegawai dan meningkatkan pelayanan dengan mengedepankan keramahan melalui prinsip 3S, yaitu senyum, salam, dan sapa,” kata Iyan kepada Fakta Banten, Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pegawai agar senantiasa memperhatikan sikap dan cara berkomunikasi ketika memberikan pelayanan.
“Puskesmas dan semua pegawai berkomitmen meningkatkan pelayanan serta lebih peduli terhadap semua pasien tanpa membeda-bedakan status pasien,” lanjutnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Endang Komarudin, menjelaskan bahwa kepala dinas bersama dirinya telah melakukan evaluasi melalui pertemuan daring dengan jajaran Puskesmas Banjarsari.
Evaluasi tersebut dilakukan untuk memahami persoalan sekaligus menentukan langkah perbaikan yang diperlukan.
Menurut Endang, hasil evaluasi menunjukkan adanya miskomunikasi dan persoalan intonasi dalam interaksi antara petugas dan keluarga pasien.
“Pada dasarnya kami tidak membela siapa-pun. Namun, setelah kami simpulkan, ada miskomunikasi dan intonasi dari petugas,” ujar Endang.
Ia memahami bahwa keluarga pasien dapat merasa khawatir ketika merasa mendapatkan penjelasan yang kurang ketika menerima obat, kemudian diminta bertanya kembali kepada bidan yang dimaksud.
Situasi tersebut dapat menimbulkan kebingungan apabila penjelasan yang diterima belum sepenuhnya dipahami.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga komunikasi agar tetap jelas dan nyaman diterima masyarakat.
“Kami memahami kepanikan keluarga ketika mendapatkan penjelasan yang dirasa kurang, kemudian diminta bertanya kembali kepada bidan yang dimaksud. Begitu pun, posisi bidan saat itu sedang memberikan pelayanan kepada banyak pasien dan dijawab dengan intonasi yang menurut keluarga tinggi,” jelasnya.
Endang menilai persoalan tersebut perlu disikapi secara bijaksana dengan mengutamakan komunikasi dan perbaikan pelayanan.
Menurutnya, evaluasi seharusnya tidak diarahkan untuk memperpanjang perbedaan pandangan, tetapi menjadi kesempatan memperbaiki hal-hal yang masih perlu ditingkatkan.
“Namun, kalau mencari siapa yang salah dan benar tidak akan ada solusi. Sebab, untuk meningkatkan pelayanan, semua unsur harus terlibat guna mewujudkan Lebak Sehat,” katanya.
Ia juga mengapresiasi keterbukaan masyarakat dalam menyampaikan masukan.
Baginya, pengalaman pasien merupakan salah satu sumber pembelajaran untuk membantu fasilitas kesehatan memahami kebutuhan masyarakat secara lebih baik.
“Kami sangat menerima masukan dan saran dari pasien. Terima kasih. Kami berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan peningkatan pelayanan demi terwujudnya Lebak Sehat dan Lebak Ruhay,” ungkap Endang.
Komitmen tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara Dinas Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam membangun pelayanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan medis, tetapi juga memperhatikan aspek kenyamanan dan komunikasi.
Setelah menerima kunjungan dan penjelasan dari pihak Puskesmas Banjarsari, Omah menyampaikan bahwa dirinya merasa puas atas iktikad baik yang ditunjukkan manajemen.
“Alhamdulillah, setelah ada kunjungan dari puskesmas, saya merasa puas dikarenakan ada iktikad baik dari pihak puskesmas,” ungkap Omah.
Ia juga menyampaikan bahwa penjelasan yang diberikan membuat dirinya merasa lebih memahami persoalan yang telah dibicarakan bersama.
“Saya puas tentang penjelasan masalah yang dihadapi. Sehingga saya lebih memahami soal pelayanan. Insyaallah puskesmas akan memberikan pelayanan yang lebih baik,” ujarnya.
Omah berharap langkah perbaikan tersebut dapat diterapkan secara konsisten sehingga masyarakat merasa nyaman ketika datang untuk mendapatkan pemeriksaan maupun pengobatan.
“Harapan saya, pelayanan puskesmas lebih ramah dan tidak membedakan yang mampu dan tidak mampu,” tuturnya.
Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pasien membutuhkan pelayanan yang menghargai martabatnya.
Keramahan, perhatian, dan penjelasan yang mudah dipahami merupakan bagian penting dari pengalaman pasien, selain pemeriksaan dan penanganan medis.
Bagi masyarakat, komunikasi yang baik membantu memahami informasi mengenai obat, pemeriksaan, maupun langkah lanjutan yang harus dilakukan.
Sementara bagi petugas, mendengarkan pertanyaan pasien dan memberikan penjelasan dengan bahasa yang jelas dapat membantu mengurangi risiko kesalahpahaman.
Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Karena itu, kualitas pelayanan perlu terus dijaga melalui pembinaan sumber daya manusia, evaluasi internal, serta keterbukaan terhadap kritik dan saran.
Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan dapat menghadapi berbagai situasi, termasuk jumlah pasien yang ramai dan kebutuhan pelayanan yang beragam.
Namun, kondisi tersebut tetap perlu diimbangi dengan komunikasi yang santun dan penjelasan yang memadai agar masyarakat memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Penerapan prinsip 3S, yakni senyum, salam, dan sapa, diharapkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar tercermin dalam interaksi sehari-hari.
Setiap pasien perlu memperoleh perhatian yang layak tanpa membedakan kondisi ekonomi, latar belakang sosial, maupun keadaan lainnya.
Pada saat yang sama, masukan masyarakat perlu diterima sebagai bagian dari upaya bersama membangun pelayanan kesehatan yang semakin baik.
Melalui komunikasi terbuka, evaluasi yang berkelanjutan, dan pembinaan yang tepat, persoalan pelayanan dapat menjadi pelajaran untuk mencegah kesalahpahaman serupa.
Tindak lanjut yang dilakukan Puskesmas Banjarsari bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak menjadi bagian dari upaya tersebut.
Ke depan, konsistensi dalam menjalankan komitmen perbaikan akan menjadi hal penting agar masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara nyata.
Mewujudkan Lebak Sehat dan Lebak Ruhay membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pelayanan yang humanis tumbuh ketika petugas bersedia mendengarkan, manajemen terbuka terhadap evaluasi, dan masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan serta harapannya.
Dengan semangat itu, peningkatan pelayanan kesehatan tidak sekadar berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pada rasa aman, nyaman, dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di Kabupaten Lebak. (*/Sahrul).