Dua Anak Sakit di Rumah Reyot, Sang Ayah di Lebak Hanya Bisa Menahan Tangis

 

LEBAK– Di sebuah rumah reyot yang nyaris ambruk di Kampung Gubug, Desa Calungbungur, Kecamatan Sajira, tersimpan kisah pilu yang menyesakkan dada.

Dalam gubuk berdinding kayu lapuk dan beralaskan tanah itu, sepasang orang tua hanya bisa menatap dua anak mereka yang sakit, sambil menggantungkan harapan pada langit.

Rizky Muhammad, bayi mungil yang baru berusia dua bulan, lahir dengan kondisi yang tak pernah mereka bayangkan tanpa anus (atresia ani) dan langit-langit mulut yang terbelah (cleft palate).

Sementara sang kakak, Awal, yang kini berumur empat tahun, belum mampu berbicara sepatah kata pun.

Ia hanya bisa menatap kosong, karena didiagnosis mengalami keterlambatan bicara (speech delay).

“Waktu itu kita sampai patungan di kecamatan buat ongkos mereka ke Jakarta. Karena kondisinya mendesak,” tutur Eka, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lebak, Sabtu (7/6/2025).

Sudah Dapat Bantuan, Tapi Anak Masih Lapar

Meski telah mendapatkan sejumlah bantuan seperti BPJS PBI, BLT Dana Desa, dan Baznas, kenyataannya bantuan itu belum cukup untuk menutup kebutuhan utama mereka.

Yang paling mendesak saat ini: susu khusus untuk Rizky agar berat badannya naik dan bisa menjalani operasi penyelamat nyawa.

“Sekarang beratnya baru 6 kilogram. Padahal harus lebih dari itu supaya bisa dilakukan kolostomi. Tapi susunya mahal. Dan ayahnya, Pak Erwin, sekarang betul-betul tak punya penghasilan,” jelas Eka.

Erwin, sang ayah, hanya bisa terdiam setiap kali anaknya menangis kelaparan atau kesakitan. Ia ingin bekerja, ingin berbuat sesuatu, tapi tak ada peluang yang datang.

Waktu hanya terus berjalan, sementara kondisi anak-anaknya menunggu keputusan medis yang tak bisa ditunda.

Mereka Tidak Butuh Belas Kasihan, Mereka Butuh Kesempatan

Pemerintah daerah kini sedang mengupayakan agar keluarga ini mendapatkan program kewirausahaan dari Kementerian Sosial. Sebuah langkah kecil yang diharapkan bisa memberi mereka napas lebih panjang dalam perjuangan ini.

“Kita sedang ajukan ke Galih Pakuan agar Pak Erwin bisa ikut program kewirausahaan. Setidaknya ada jalan keluar yang bisa mereka tempuh,” ucap Eka.

Di Rumah Tanpa Jendela, Ibu Menangis Setiap Malam

Di dalam rumah kecil itu, Tuti ibu dari Rizky dan Awa tidak pernah bisa tidur nyenyak. Ia memeluk anaknya yang lemah setiap malam, berharap keajaiban datang.

Dinding rumahnya kini tak mampu lagi melindungi dari dinginnya malam atau derasnya hujan, tapi ia masih berusaha melindungi anak-anaknya dari keputusasaan.

Harapan Tuti sederhana: melihat anaknya sehat, dan suaminya bisa bekerja. Tapi harapan itu, hingga kini, masih tergantung di antara kabar yang belum pasti dan janji yang belum tiba.

Kisah ini bukan hanya cerita tentang kemiskinan. Ini tentang kesakitan yang tak bisa ditawar, dan tentang orang tua yang hanya bisa menangis saat tak mampu menenangkan anaknya yang kesakitan.

Ini tentang keluarga yang sebenarnya sudah “terdata”, tapi belum benar-benar tersentuh oleh sistem yang katanya menjamin perlindungan sosial.

Di balik semua angka statistik dan program-program besar, kisah ini menyuarakan satu hal: hadirkan bantuan bukan hanya dalam catatan, tapi dalam tindakan nyata. (*/Sahrul).

Lebakrumah reyot
Comments (0)
Add Comment