LEBAK- Keluarga Mahasiswa Lebak (KUMALA) perlu memperkuat konsolidasi dan menghidupkan kembali peran mahasiswa dalam merespons persoalan masyarakat.
Kader aktif KUMALA, Idham Mufarrij Haqim, menyerukan agar semangat perjuangan organisasi tidak berhenti pada kebanggaan terhadap sejarah, tetapi diwujudkan melalui pemikiran kritis, keberpihakan, dan kerja nyata bagi Kabupaten Lebak.
Bagi Idham, sejarah panjang KUMALA seharusnya menjadi pijakan untuk bergerak, bukan sekadar cerita yang terus diulang.
Warisan para pendahulu akan kehilangan makna apabila tidak dilanjutkan dengan keberanian kader membaca persoalan zaman dan menawarkan solusi bagi masyarakat.
“KUMALA harus tetap menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis dan gerakan yang bermanfaat. Perjuangan para pendahulu jangan hanya dikenang, tetapi harus dilanjutkan melalui tindakan nyata,” demikian pesan yang ingin ditegaskan Idham dalam seruannya kepada kader.
Menurutnya, konsolidasi organisasi tidak cukup dilakukan dengan menyatukan kader dalam satu barisan.
Lebih dari itu, konsolidasi perlu membuka ruang dialog, mengevaluasi perjalanan organisasi, dan merumuskan langkah yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa serta masyarakat Lebak.
Persoalan pendidikan, kesejahteraan, akses pelayanan publik, dan berbagai tantangan pembangunan daerah membutuhkan perhatian generasi muda.
Dalam konteks tersebut, KUMALA diharapkan mampu menjalankan fungsi intelektualnya melalui kajian, advokasi yang bertanggung jawab, serta keterlibatan langsung dalam kehidupan masyarakat.
“Ukuran perjuangan bukan seberapa sering kita berbicara tentang kebesaran organisasi, melainkan seberapa jauh gagasan dan keberadaan kita memberikan manfaat bagi masyarakat,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam seruan tersebut.
Idham juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan di dalam organisasi tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bergerak bersama.
Kritik dan perdebatan justru diperlukan agar KUMALA tetap hidup sebagai ruang pertukaran gagasan, bukan sekadar tempat mempertahankan kepentingan kelompok.
Namun, perbedaan harus disertai tanggung jawab. Setiap kader perlu menjaga komunikasi, menghargai proses organisasi, dan mengutamakan kepentingan bersama tanpa kehilangan keberanian untuk menyampaikan kritik terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki.
Di sisi lain, penghormatan terhadap para kokolot atau pendahulu KUMALA perlu diwujudkan melalui kesungguhan meneruskan nilai perjuangan mereka.
Ilmu, pengalaman, dan dedikasi yang telah diwariskan merupakan modal bagi generasi berikutnya untuk membangun organisasi yang lebih terbuka, kritis, dan dekat dengan persoalan rakyat.
“Terima kasih kepada para kokolot yang telah menjadi bagian dari sejarah perjuangan KUMALA. Ilmu, amal, dan dedikasi yang diwariskan jangan berhenti sebagai kenangan, tetapi harus terus hidup dalam kerja dan pengabdian generasi penerus,” menjadi pesan penghormatan bagi para pendahulu.
Idham menyatakan kesiapannya untuk mengambil bagian dalam perjuangan tersebut bersama kader lainnya.
Baginya, perubahan tidak akan lahir dari satu orang atau sekelompok kecil kader, melainkan dari kesediaan seluruh elemen organisasi untuk berkontribusi dan bekerja secara konsisten.
Pada akhirnya, tantangan KUMALA bukan hanya menjaga nama besar organisasi, melainkan membuktikan relevansinya di tengah masyarakat.
Konsolidasi harus menghasilkan arah gerakan yang jelas, kaderisasi yang berkelanjutan, serta kontribusi yang dapat dirasakan, bukan berhenti sebagai seruan.
Sebab, kebesaran KUMALA tidak cukup diukur dari sejarah yang diwariskan, tetapi dari keberanian generasi hari ini melanjutkan perjuangan dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Lebak. (*/Sahrul).