LEBAK– Upaya memutus rantai penularan tuberkulosis (TBC) di wilayah Kabupaten Lebak terus membutuhkan keterlibatan tenaga kesehatan, keluarga pasien, kader, hingga pemerintah desa.
Salah satu langkah yang didorong UPTD Puskesmas Rawat Inap Binuangeun adalah mengintegrasikan kegiatan pelacakan kontak atau tracking TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Kepala Puskesmas Binuangeun, Halimatu Saadiah, menjelaskan bahwa pelacakan kontak menjadi langkah penting untuk menemukan orang yang berisiko tertular TBC, terutama mereka yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan pasien.
“Penanganan TBC tidak cukup hanya berfokus pada pasien yang sudah terdiagnosis. Orang-orang di sekitarnya juga perlu diperiksa agar potensi penularan bisa diketahui lebih awal dan segera ditangani sesuai hasil pemeriksaan,” ujar Halimatu.
Menurutnya, data Register TBC 03 masih mencatat kasus TBC dengan hasil pemeriksaan bakteriologis positif atau BTA positif di wilayah kerja Puskesmas Binuangeun.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penularan dapat terjadi, terutama ketika seseorang melakukan kontak dekat dengan pasien TBC yang menular.
“Melalui investigasi kontak, petugas dapat mengidentifikasi anggota keluarga dan kontak erat yang membutuhkan skrining. Integrasi dengan CKG juga menjadi kesempatan untuk memperluas edukasi dan mendorong masyarakat lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya,” katanya.
Investigasi kontak atau tracking TBC merupakan upaya menemukan orang yang berpotensi tertular dari pasien yang telah terdiagnosis.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menemukan kasus baru, tetapi juga mengidentifikasi kontak yang memenuhi syarat untuk mendapatkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Halimatu mengatakan, sasaran kegiatan meliputi pemeriksaan gejala, pengambilan sampel dahak bagi kontak yang memerlukan pemeriksaan, serta pemeriksaan lanjutan berdasarkan indikasi medis.
Pemeriksaan dapat mencakup Tes Cepat Molekuler (TCM) dan foto rontgen dada sesuai hasil penilaian tenaga kesehatan.
“Pemeriksaan dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing orang. Jika ditemukan gejala atau faktor risiko, petugas akan mengarahkan sasaran untuk menjalani pemeriksaan lanjutan agar penanganannya tepat,” jelasnya.
Ia menambahkan, target indikator investigasi kontak yang digunakan dalam program ini adalah sedikitnya 10 kontak diperiksa untuk setiap satu kasus indeks. Target tersebut menjadi salah satu acuan untuk memperluas jangkauan skrining di lingkungan pasien.
“Semakin banyak kontak yang berhasil dijangkau dan diperiksa, semakin besar peluang menemukan orang yang membutuhkan pengobatan atau pencegahan sejak dini,” ungkap Halimatu.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pembentukan tim melalui penetapan penanggung jawab dan petugas pelaksana. Tim melibatkan penanggung jawab program TBC, petugas Klaster 4 Integrasi Layanan Primer (ILP), tim CKG, bidan atau perawat desa, serta kader kesehatan.
Sebelum turun ke lapangan, petugas melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan unsur lintas sektor, termasuk pemerintah kecamatan dan desa. Selanjutnya, tim memetakan sasaran yang akan dikunjungi atau diundang untuk mengikuti kegiatan pemeriksaan.
“Halimatu menyampaikan bahwa koordinasi lintas sektor diperlukan agar pelaksanaan kegiatan berjalan terarah. Kader juga berperan membantu menyampaikan undangan, mendampingi petugas, dan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan TBC.”
Pada hari pelaksanaan, masyarakat mendapatkan penjelasan mengenai alur kegiatan, edukasi pencegahan penularan, serta masker sesuai kebutuhan. Petugas kemudian melakukan skrining gejala dan mengambil sampel dahak bagi kontak yang memenuhi kriteria pemeriksaan.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat masyarakat lebih mudah mengakses layanan kesehatan sekaligus memahami bahwa pemeriksaan kontak merupakan bagian penting dari upaya melindungi keluarga.
Puskesmas Binuangeun juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala yang dapat mengarah pada TBC. Keluhan yang perlu diperhatikan antara lain batuk berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, demam berkepanjangan, keringat malam tanpa aktivitas berat, badan lemas, sesak napas, dan nyeri dada.
Pada sebagian orang, TBC juga dapat menimbulkan pembesaran kelenjar, misalnya di leher. Sementara itu, pada anak, tanda yang perlu diperhatikan dapat berupa berat badan tidak naik, penurunan berat badan, atau kondisi tubuh yang terus melemah.
“Jika mengalami batuk berkepanjangan atau memiliki keluhan yang mengarah pada TBC, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu sampai kondisi semakin berat,” tutur Halimatu.
Ia mengingatkan bahwa gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terkena TBC. Diagnosis harus dilakukan oleh tenaga kesehatan melalui pemeriksaan yang sesuai.
Selain pemeriksaan, dukungan keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan. Pasien perlu menjalani pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan, minum obat secara teratur, mengikuti jadwal kontrol, serta menjalani pemeriksaan pemantauan sesuai ketentuan.
Puskesmas Binuangeun juga menekankan pentingnya menjaga etika batuk, menggunakan masker ketika bergejala sesuai anjuran petugas, serta memastikan rumah memiliki ventilasi yang baik. Jendela sebaiknya dibuka secara rutin agar pertukaran udara berlangsung lebih baik.
“Pasien TBC membutuhkan dukungan, bukan pengucilan. TBC bukan aib dan bukan kutukan. Dengan diagnosis yang tepat serta pengobatan yang dijalani sampai tuntas sesuai arahan tenaga kesehatan, TBC dapat disembuhkan,” kata Halimatu.
Menurutnya, kerahasiaan kondisi kesehatan pasien juga perlu dijaga agar masyarakat tidak takut memeriksakan diri. Edukasi yang berkelanjutan diharapkan dapat mengurangi stigma sekaligus meningkatkan kesadaran untuk melakukan deteksi dini.
Apabila hasil pelacakan mengarah pada dugaan TBC, petugas akan mengarahkan orang tersebut untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan TCM dapat dilakukan sesuai indikasi, disertai pemeriksaan lain seperti foto rontgen dada atau pemeriksaan pendukung berdasarkan penilaian medis.
Jika TBC terkonfirmasi, pasien akan mendapatkan konseling, edukasi, dan pengobatan antituberkulosis sesuai standar pelayanan. Petugas juga melakukan pencatatan pada Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), membantu memastikan kepatuhan pengobatan, serta mengatur pemantauan dan pemeriksaan dahak sesuai jadwal.
“Setelah ditemukan kasus baru, penanganan tidak berhenti pada pemberian obat. Petugas juga perlu menindaklanjuti kontak erat, memberikan edukasi, memantau pengobatan, dan memastikan pasien mendapatkan layanan sampai dinyatakan sembuh sesuai evaluasi tenaga kesehatan,” jelas Halimatu.
Kontak yang tidak menunjukkan gejala tetap perlu dinilai berdasarkan usia, riwayat paparan, dan faktor risiko untuk menentukan apakah memerlukan TPT.
Sementara itu, orang yang bergejala harus menjalani evaluasi lebih lanjut sebelum keputusan pencegahan atau pengobatan ditetapkan.
Ke depan, Puskesmas Binuangeun merencanakan pengaktifan kembali inovasi KUDEKAP TB atau Kunjungi Dekati Penderita TB. Puskesmas juga mendorong pemantauan melalui kader PENABULU, yakni pendamping pasien tuberkulosis, serta pemberdayaan masyarakat melalui gerakan TOSS TB: Temukan dan Obati Sampai Sembuh.
Halimatu berharap keterlibatan kader, keluarga, pemerintah desa, dan kecamatan dapat memperkuat upaya pencegahan penularan di masyarakat.
“Penanggulangan TBC membutuhkan kerja bersama. Keluarga dapat membantu pasien menjalani pengobatan, kader mendampingi dan menemukan warga yang bergejala, sedangkan pemerintah desa dan kecamatan dapat mendukung sosialisasi serta kegiatan kesehatan di lingkungannya,” pungkasnya.
Melalui integrasi pelacakan kontak TBC dengan CKG, Puskesmas Binuangeun mendorong masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan, mendukung pasien menjalani pengobatan hingga tuntas, dan ikut menciptakan lingkungan yang sehat tanpa stigma terhadap penderita TBC. (*/Sahrul).