LEBAK– Pagi hingga hari beranjak sore, Saen (53) akrab dengan sunyi di antara nisan dan pepohonan.
Tangannya membersihkan rumput dan menyapu area pemakaman yang telah dirawatnya selama sekitar 15 tahun di Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten.
Setelah pekerjaannya selesai, Saen tidak pulang ke rumah dengan halaman luas atau bangunan permanen. Ia kembali ke sebuah gubuk bilik berukuran sekitar 5 meter x 5 meter yang menjadi tempatnya berteduh sekaligus beristirahat.
Lantainya masih tanah. Dindingnya terbuat dari bilik. Saat hujan turun, air terkadang masuk dan merembes ke dalam gubuk.
Namun, Saen tidak banyak mempersoalkannya.
“Kalau kondisi bukan rumah sih sebenarnya gubuk bilik. Menurut saya masih layak buat saya. Karena hidupnya juga sendiri,” kata Saen, Rabu (30/9/2026).
Kalimat sederhana itu menggambarkan bagaimana Saen menjalani hidupnya. Ia tinggal seorang diri dan belum berkeluarga. Tidak ada pekerjaan lain yang memberinya penghasilan rutin.
Sementara kebutuhan makan tetap harus dipenuhi setiap hari.
Untuk bertahan hidup, Saen mengandalkan pemberian warga yang datang berziarah ke makam. Jika ada yang memberikan uang, biasanya sekitar Rp20.000 hingga Rp50.000.
Tetapi pemberian itu tidak selalu datang.
“Kalau ada yang ngasih, saya terima. Orang saya juga butuh makan,” ujarnya.
Ada hari ketika ia menerima pemberian dari warga. Ada pula hari ketika tidak ada uang yang dibawa pulang.
Dalam keadaan seperti itu, Saen berusaha menjalani hidup dengan sesederhana mungkin. Ia memperkirakan kebutuhan berasnya sekitar setengah liter sehari.
“Itu enggak tiap hari, tapi alhamdulillah cukup aja. Sekecil apa pun kalau di cukupin,” katanya.
Di balik kehidupan yang tampak sederhana itu, Saen telah menghabiskan waktu sekitar 15 tahun untuk merawat tempat pemakaman umum tersebut.
Ia menyapu, membersihkan lingkungan makam dan menjaga agar kawasan pemakaman tetap terawat. Pekerjaan itu dilakukannya tanpa gaji tetap.
“Enggak ada gaji. Gaji di akhirat itu,” ucapnya.
Gubuk tempat Saen tinggal saat ini juga memiliki cerita tersendiri. Sebelum menempatinya, ia mengaku sempat menumpang di emperan rumah milik kakaknya.
Bambu dan kayu untuk membuat gubuk diperoleh dari tetangga. Sementara pembangunannya dilakukan sendiri.
“Bambunya, kayunya dari tetangga. Yang ngerjain saya sendiri,” tuturnya.
Di dalam gubuk, sebuah amben sederhana menjadi tempat Saen duduk dan beristirahat. Air untuk kebutuhan sehari-hari dialirkan dari rumah tetangga. Fasilitas sanitasi dibuat sederhana di bagian belakang.
Keterbatasan itu tidak membuat Saen berhenti menjalani rutinitasnya. Hari demi hari ia tetap kembali ke makam yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya bekerja.
Ia juga mengatakan dirinya tercatat dalam kategori Desil 3 pada data kesejahteraan sosial. Namun, menurut pengakuannya, Saen belum menerima Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dari pemerintah pusat.
Bantuan yang pernah diterimanya, kata Saen, berasal dari pemerintah desa berupa beras dan uang yang bersumber dari dana desa.
“Dari desa doang. Selain dari itu belum ada,” katanya.
Bagi Saen, hidup tidak selalu tentang memiliki banyak. Ia menjalani hari dengan apa yang ada, menerima pemberian ketika datang, dan mencukupkan kebutuhan ketika rezeki sedang terbatas.
Selama 15 tahun, ia menjaga tempat orang-orang dimakamkan. Ketika warga datang untuk berziarah, ia berada di sana. Ketika makam kembali sepi, ia tetap menjalankan pekerjaannya.
Kemudian, saat hari berakhir, Saen kembali ke gubuk biliknya.
Tidak ada kepastian berapa uang yang akan diperoleh hari itu. Tidak ada gaji tetap yang menantinya setiap bulan. Yang ada hanyalah pekerjaan yang terus dijalani dan keyakinan untuk mencukupkan apa yang dimiliki.
Di tengah kehidupan yang sederhana dan memilukan itu, Saen memilih tidak banyak meminta. Ia hanya berusaha menjalani hari, satu demi satu.
“Sekecil apa pun kalau di cukupin,” ucapnya. (*/Sahrul).