Perempuan Buruh Lebak Bangkit di May Day 2026: Dari Pabrik ke Panggung Perlawanan

LEBAK– Suasana peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kabupaten Lebak terasa berbeda.

Bukan sekadar aksi rutin tahunan, momentum kali ini justru menjadi panggung kuat bagi perempuan buruh untuk menyuarakan keberanian, ketidakadilan, dan harapan perubahan yang lebih nyata.

Di tengah barisan massa aksi, suara perempuan terdengar lebih lantang.

Mereka tidak lagi berdiri di belakang, melainkan tampil di garis depan, membawa isu-isu krusial yang selama ini kerap terpinggirkan.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Kabupaten Lebak, Susilawati, menegaskan bahwa May Day tahun ini menjadi simbol kebangkitan perempuan buruh dalam melawan berbagai bentuk ketimpangan di dunia kerja.

“Perempuan buruh bukan hanya pelengkap. Kami adalah bagian utama dari roda industri, tetapi masih sering diperlakukan tidak adil, baik dari sisi upah, perlindungan kerja, hingga hak-hak dasar lainnya,” tegas Susilawati kepada Fakta Banten, Sabtu (2/5/2026).

Menurutnya, realitas di lapangan menunjukkan masih banyak perempuan pekerja yang menghadapi diskriminasi sistematis.

Mulai dari upah yang tidak setara, minimnya jaminan kesehatan, hingga rentan terhadap praktik kerja tidak manusiawi.

Ia juga menyoroti praktik outsourcing yang dinilai semakin memperburuk kondisi perempuan buruh.

Status kerja yang tidak pasti membuat mereka sulit mendapatkan perlindungan maksimal, termasuk hak cuti melahirkan dan keamanan kerja.

“Perempuan buruh sering berada dalam posisi paling rentan. Ketika sistem kerja tidak jelas, mereka yang pertama kali merasakan dampaknya. Ini yang kami lawan,” ujarnya.

Tak hanya soal ekonomi, May Day 2026 di Lebak juga menjadi ruang ekspresi perlawanan terhadap stigma sosial.

Perempuan buruh kini mulai berani bersuara, mengorganisir diri, dan menuntut ruang yang lebih adil dalam struktur ketenagakerjaan.

Aksi yang berlangsung tertib tersebut dipenuhi berbagai simbol perjuangan.

Poster-poster bertuliskan tuntutan kesetaraan gender, penghapusan diskriminasi, hingga perlindungan terhadap pekerja perempuan menjadi pemandangan dominan.

Susilawati menambahkan, perjuangan ini bukan sekadar tuntutan sesaat, melainkan gerakan berkelanjutan yang harus diperjuangkan bersama.

“May Day bukan hanya seremoni. Ini adalah pengingat bahwa perjuangan buruh, khususnya perempuan, belum selesai. Kami ingin didengar, dihargai, dan dilindungi,” katanya.

Peringatan May Day di Lebak tahun ini pun menjadi penanda bahwa arah gerakan buruh mulai mengalami pergeseran.

Jika sebelumnya lebih banyak didominasi isu umum ketenagakerjaan, kini suara perempuan hadir sebagai kekuatan utama yang tidak bisa lagi diabaikan.

Dengan semangat solidaritas, perempuan buruh Lebak menunjukkan bahwa perubahan bukan sesuatu yang mustahil selama keberanian untuk melawan terus dijaga dan diperjuangkan. (*/Sahrul).

Comments (0)
Add Comment