Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat Cemaskan Gejala ‘Ghost Fishing’

JAKARTA – Meskipun menyimpan kekayaan ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan dunia, laut Indonesia saat ini menghadapi tekanan yang sangat berat.

Saat menghadiri peringatan Hari Laut Internasional, di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Sabtu (23/5/2026) pagi, Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengemukakan, sampah plastik terus meningkat, pencemaran pesisir semakin meluas, dan abrasi yang mengancam pulau-pulau kecil.

Selain itu ada ancaman lain yang sering tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat merusak bagi laut kita, yaitu sampah atau bekas alat tangkap perikanan yang hilang, tertinggal, atau dibuang ke laut.

“Fenomena ini dikenal sebagai ghost fishing atau jaring hantu,” ungkap Jujur.

Ia menegaskan, jaring, tali, perangkap, dan berbagai alat tangkap yang tenggelam ke dasar laut dapat terus “menjebak” ikan, penyu, mamalia laut, bahkan merusak terumbu karang selama bertahun-tahun.

Menteri LH itu menilai laut kita seolah terus menangkap dan merusak dirinya sendiri, bahkan tanpa aktivitas penangkapan.

Yang lebih mengkhawatirkan, jelas Jumhur, sebagian besar sampah ini tidak terlihat dari permukaan.

Sampah tersebut berada di dasar laut, menumpuk secara perlahan, merusak ekosistem secara diam-diam, dan sering kali luput dari perhatian publik.

“Karena itu, menjaga laut bukan hanya tentang melindungi lingkungan dan biodiversitas, tetapi juga tentang menjaga kesehatan, ketahanan pangan, dan masa depan generasi kita,” tegas Jumhur.

Tidak Bisa Pemerintah Sendiri

Menteri LH/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat menegaskan, pihaknya terus memperkuat langkah pengendalian sampah laut dan pemulihan ekosistem pesisir melalui penguatan kebijakan, pengawasan pencemaran, pemulihan ekosistem, penguatan sistem pemantauan sampah laut, termasuk sampah bekas alat tangkap perikanan, serta pelibatan aktif masyarakat dan pemerintah daerah.

Tetapi, Jumhur mengingatkan, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Ia menegaskan, masalah sampah laut tidak selesai hanya dengan membersihkan pantai sesekali.

“Penyelesaian harus dimulai dari daratan: mengurangi plastik sekali pakai, memperbaiki tata kelola sampah, memperkuat ekonomi sirkular, meningkatkan pengelolaan alat tangkap ikan melalui program 3R, membangun perubahan perilaku masyarakat dan melaksanakan Gerakan Pilah Sampah melalui pembentukan kader Gerakan Pilah Sampah,” ucap Jumhur merinci.***

Comments (0)
Add Comment