Di Balik Kotak Suara’ Dibedah, Sastra dan Demokrasi Dipertemukan di H.B. Jassin

JAKARTA — Novel Di Balik Kotak Suara karya Badrul Munir resmi dibedah dalam kegiatan Diskusi Publik dan Launching Novel bertajuk “Demokrasi dalam Sastra, Sastra dalam Demokrasi: Narasi, Imajinasi dan Masa Depan Demokrasi Indonesia”, Sabtu (12/9/2026), di Aula H.B. Jassin, Gedung Ali Sadikin Lt. 4, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

Kegiatan yang diselenggarakan Komunitas BaleBuku bersama Yayasan Bill Qistee Indonesia tersebut mempertemukan perspektif sastra, demokrasi, literasi, budaya, dan kepemiluan.

Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, komunitas literasi, penyelenggara pemilu, pegiat demokrasi, penulis, jurnalis hingga masyarakat umum.

Novel Di Balik Kotak Suara mengangkat perjalanan seorang pengawas pemilu dalam menjaga integritas di tengah dinamika demokrasi Indonesia.

Melalui kisah manusia, pergulatan hati nurani, persahabatan, pengabdian, cinta, serta berbagai tekanan dalam menjalankan tugas, novel ini berusaha menghadirkan demokrasi dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam forum tersebut, pembahasan novel tidak hanya ditempatkan sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai ruang refleksi mengenai bagaimana demokrasi dijalani oleh manusia biasa.

Penulis Di Balik Kotak Suara, Badrul Munir, membawa perspektif literasi sebagai jalan merawat demokrasi. Sementara itu, Anggota Bawaslu RI Dr. H. Puadi, S.Pd., M.M. membahas demokrasi, integritas, dan pengawasan pemilu.

Nadia Hastarini membahas posisi pembaca dalam memaknai demokrasi, Lucia Priandarini mengangkat proses kreatif dan isu sosial dalam sastra, sedangkan Dr. Rahmat Hidayatullah, S.S., M.A. melihat sastra, budaya, dan demokrasi dari perspektif akademik.

Diskusi berlangsung interaktif dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Forum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperluas pemahaman bahwa pendidikan demokrasi tidak selalu harus disampaikan melalui regulasi atau buku teks, tetapi dapat hadir melalui cerita yang menyentuh pengalaman dan kehidupan manusia.

Dalam novel tersebut, Badrul Munir menegaskan bahwa sastra tidak selalu harus menjelaskan atau menghakimi. Sastra terkadang cukup bercerita dan membiarkan pembaca menemukan maknanya sendiri.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap tumbuh ruang dialog antara sastra dan demokrasi, meningkatnya apresiasi terhadap novel sebagai media pendidikan demokrasi, serta terbangunnya kolaborasi lintas komunitas.

“Sebab demokrasi tidak hanya dimenangkan, tetapi juga dijaga.” pungkasnya. ***

Badrul MunirDi balik kotak suaraHb jasinSastra
Comments (0)
Add Comment