MAKKAH — Seorang jemaah haji asal Tangerang Selatan tetap dapat menunaikan ibadah haji meski mengalami cedera serius pada bagian kaki menjelang keberangkatan.
Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk memenuhi panggilan ke Tanah Suci.
Sosok tersebut adalah Tsamrotul Fuadah, seorang guru sekolah dasar yang telah menantikan kesempatan berhaji selama kurang lebih 15 tahun.
Ia berangkat bersama putranya, Muhammad Amri Lubab (24), yang setia mendampingi selama proses ibadah.
Setibanya di Mekah, Fuadah terlihat menjalani aktivitas dengan bantuan kursi roda yang didorong langsung oleh anaknya.
Keduanya tampak kompak menjalani rangkaian ibadah dengan penuh ketulusan.
Kelancaran ibadah Fuadah turut didukung oleh Tim Lansia dan Disabilitas (Landis) serta Tim Kesehatan PPIH Arab Saudi.
Sejak berada di Madinah hingga tiba di Makkah, Fuadah mendapatkan perhatian dan perawatan secara intensif.
Sugita Esadora selaku petugas Landis Daerah Kerja Mekah menjelaskan bahwa pendampingan terhadap Fuadah dilakukan secara menyeluruh, mencakup berbagai kebutuhan dasar hingga pemantauan kesehatan rutin.
“Kami membantu kebutuhan harian di hotel, mulai dari mandi hingga penggantian popok. Tim kesehatan juga melakukan visitasi tiga kali sehari untuk memastikan kondisi fisiknya stabil,” jelasnya.
Kondisi Fuadah bermula dari insiden yang terjadi sehari sebelum keberangkatan.
Pada Rabu (22/4/2026), ia terjatuh dari tangga setelah menghadiri acara pelepasan jemaah haji di Tangerang Selatan.
Akibat kejadian tersebut, Fuadah harus mendapatkan penanganan medis di RSUD Kota Tangerang.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya robekan otot pada kaki, meskipun tidak ditemukan patah tulang.
Sejak saat itu, ia harus menggunakan pelindung khusus yang membalut kaki kirinya guna menopang aktivitas selama menjalankan ibadah haji.
Meski sempat diliputi kekhawatiran, Fuadah tetap berangkat setelah dinyatakan masih memenuhi syarat istitaah oleh tim medis yang menangani.
“Saya kira ini adalah panggilan Allah. Jika saat itu dokter menyatakan saya tidak memenuhi syarat istitaah, dengan legowo saya akan menerima. Tapi Allah berkata lain,” tutur Fuadah saat ditemui di Hotel Al-Hidayah, kawasan Aziziyah, Makkah, Minggu (3/5/2026).
Bagi Fuadah, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bentuk penuntasan niat dan harapan yang telah ia simpan selama bertahun-tahun.
Keberangkatan tersebut juga memiliki makna emosional mendalam, mengingat ia kini didampingi oleh putranya yang menggantikan peran sang ayah.
Awal daftar haji bersama sang suami, namun ternyata pendamping hidupnya telah wafat sekitar satu setengah tahun lalu. Sehingga digantikan sang anak melalui mekanisme pelimpahan porsi haji.
Momen haru pun terjadi ketika Fuadah dan putranya tiba di depan Ka’bah untuk melaksanakan umrah wajib pada Sabtu (2/5/2026) sore.
Dalam pelaksanaan tawaf dan sa’i, Amri memilih untuk tidak menggunakan jasa pendorong kursi roda profesional dan memutuskan untuk mendorong ibunya sendiri sepanjang rangkaian ibadah tersebut.
“Saya sudah bilang pakai jasa pendorong saja, tapi dia tidak mau. Dia ingin membuktikan baktinya kepada orangtua,” kenang Fuadah dengan mata berkaca-kaca.
Usai menyelesaikan tawaf dan sa’i, Fuadah tak mampu menahan haru dan langsung memeluk putranya dengan penuh rasa syukur atas kebersamaan mereka di Tanah Suci.
Saat ini, Fuadah bersiap menunggu rangkaian puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), dengan harapan dapat menyempurnakan seluruh prosesi ibadah.
“Alhamdulillah, dengan kondisi keterbatasan ini, saya tetap diberi kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya,” pungkasnya. (*/Red/MCH-2026)