MADINAH – Kota Madinah tidak hanya menjadi tujuan utama ibadah bagi jemaah haji dan umrah, tetapi juga menyimpan banyak situs bersejarah yang berkaitan erat dengan perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW).
Salah satu tempat yang kerap menarik perhatian para peziarah adalah Sumur Ghars, sebuah sumur kuno yang memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi umat Islam.
Sumur Ghars berada di kawasan Madinah dan dikenal sebagai salah satu sumber air yang sangat dicintai Rasulullah SAW.
Berdasarkan catatan sejarah, sumur tersebut pertama kali digali oleh Malik bin Nahhat, seorang penduduk Madinah yang juga merupakan ayah dari sahabat Nabi, Sa’ad bin Khaitsamah.
Keistimewaan Sumur Ghars tidak hanya terletak pada usianya yang telah berlangsung sejak masa awal Islam, tetapi juga karena kedekatannya dengan kehidupan Rasulullah SAW.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW sering menggunakan air dari sumur tersebut untuk berwudhu maupun diminum sehari-hari.
Mutowif atau pembimbing ibadah di Madinah, Ustadz Ibrohim Fadlannul Haq, menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki kecintaan khusus terhadap Sumur Ghars ini.
Bahkan, Nabi pernah berpesan kepada Ali bin Abi Thalib mengenai penggunaan air sumur tersebut saat prosesi pemulasaraan jenazah beliau.
“Ya Ali, apabila aku meninggal dunia, maka mandikanlah jasadku dengan air dari sumurku, yaitu Sumur Ghars,” ujar pria yang akrab disapa Ustadz Boim ini.
Ustadz Boim yang merupakan mahasiswa asal UIM Madinah menjelaskan, ada sejumlah riwayat hadits yang berkaitan dengan sumur bersejarah tersebut.
Menurutnya, Sumur Ghars juga memiliki keutamaan tersendiri dalam sebuah riwayat mimpi Rasulullah SAW.
Dalam mimpi tersebut, Nabi melihat dirinya berada di sebuah sumur yang termasuk bagian dari sumur-sumur yang ada di surga.
Riwayat itu kemudian menjadi salah satu alasan mengapa banyak umat Islam memandang Sumur Ghars sebagai tempat yang penuh keberkahan.
Ustadz Boim menjelaskan, keberadaan Sumur Ghars menjadi salah satu bukti sejarah yang memperlihatkan betapa Madinah memiliki banyak lokasi yang menyimpan kenangan perjalanan dakwah Rasulullah SAW.
Hal ini serupa dengan Raudhah di Masjid Nabawi, yang disebut oleh Rosulullah SAW sebagai taman di antara taman-taman surga.
Meski demikian, Ustadz Boim menegaskan bahwa secara syariat tidak terdapat anjuran khusus yang mewajibkan atau mengutamakan kunjungan ke Sumur Ghars.
Dalam tuntunan fiqih, hanya terdapat empat lokasi di Kota Madinah yang memiliki dalil khusus dianjurkan oleh Nabi untuk diziarahi oleh umat Islam.
Empat lokasi tersebut adalah Masjid Nabawi, Masjid Quba, Makam Baqi, dan Makam Syuhada Uhud.
Tempat-tempat tersebut dikenal dengan istilah masjidani wa maqbarotan, yakni dua masjid dan dua kompleks pemakaman yang memiliki keutamaan berdasarkan hadits dan riwayat yang sahih.
Meski tidak termasuk dalam lokasi yang memiliki anjuran khusus, Sumur Ghars tetap menjadi tujuan kunjungan banyak jemaah, terutama dari Indonesia.
Kehadiran mereka didorong oleh rasa cinta kepada Rasulullah SAW serta keinginan untuk mengenal lebih dekat sejarah Islam dari tanah suci.
Bagi para peziarah, kunjungan ke Sumur Ghars menjadi sarana edukasi dan refleksi sejarah.
Dengan melihat langsung lokasi yang pernah digunakan Rasulullah SAW, mereka berharap dapat semakin memahami perjuangan Nabi sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada beliau.
Sumur Ghars yang ada saat ini adalah bentuk hasil renovasi Kerajaan Arab Saudi yang sudah ke sekian kalinya.
Sumur tersebut kini hanya menjadi situs sejarah, dan keberadaannya juga dilindungi dengan dikurung menggunakan kerangka besi.
Meski terkurung dan hanya bisa dilihat dari sisi luar, namun diketahui Sumur Ghars masih menghasilkan air yang jernih dan bahkan bisa dinikmati oleh para peziarah.
Tak sedikit jemaah yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berwudhu atau mencicipi air dari sumur yang diyakini pernah digunakan Rasulullah SAW itu.
Untuk masuk ke area sumur jika dalam kondisi ramai pengunjung, maka petugas akan mengatur skema antrean agar tidak terjadi penumpukan di dalam situs tersebut.
Air dari dalam sumur disedot dengan pompa dan dialirkan melalui pipa ke penampungan yang ada di area pintu keluar situs tersebut.
Peziarah bisa mengambil airnya melalui keran, namun sangat dilarang menggunakan botol yang dibawa dari luar.
Pengunjung yang kedapatan membawa botol akan diambil oleh petugas yang berjaga. Namun untuk bisa mendapatkan air sedikit lebih banyak, pengunjung diperbolehkan dengan membeli kendi yang terbuat dari tanah yang disediakan oleh pengelola sumur.
Untuk meminum air dari Sumur Ghars tersebut, pengunjung bisa sepuasnya mengambil langsung dari keran, dan bahkan disediakan gelas plastik untuk sekedar minum.
Bagi jemaah haji dan umrah, tentu pengalaman mengunjungi Sumur Ghars ini menjadi bagian dari perjalanan spiritual selama berada di Kota Madinah. (*/Red/MCH-2026)