Ada Fasilitas Kursi Roda Gratis untuk Lansia dan Disabilitas di Masjid Nabawi, Bisa Dipinjam di 5 Titik Pos PPIH 

MADINAH – Petugas Seksi Khusus Nabawi memperkuat pelayanan bagi jemaah haji Indonesia gelombang kedua di Madinah.

Penguatan difokuskan pada kelompok lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas agar ibadah di Masjid Nabawi dapat berjalan aman dan nyaman.

Kepala Seksi Khusus Nabawi M. Thoriq mengatakan, fasilitas pendukung disiapkan di setiap pos pelayanan. Salah satunya ketersediaan kursi roda untuk membantu mobilitas jemaah rentan.

“Untuk jemaah haji gelombang kedua, kita akan melaksanakan penguatan pelayanan terhadap lansia dan disabilitas, antara lain kita menyiapkan kursi roda di setiap pos,” ujar Thoriq, Kamis (11/6/2026).

Adapun lokasi lima pos pelayanan di halaman Masjid Nabawi ini, yaitu pos 1 berada di dekat pintu gerbang nomor 336.

Kemudian untuk pos 2 di dekat pintu 328, lalu di pintu 310 untuk pos 3, selanjutnya pos 4 di pintu 365, dan terakhir pos 5 di pintu 360.

Thoriq menegaskan, Seksus Nabawi menyiapkan langkah antisipasi jika kebutuhan kursi roda meningkat.

Seluruh anggota ditugaskan berkoordinasi dengan layanan Nusuk Care untuk memastikan sarana mobilitas tetap tersedia.

“Kalaupun nanti kita kekurangan kursi roda, saya menugaskan seluruh anggota Seksus Nabawi untuk meminjam kursi roda di Nusuk Care,” katanya.

Selain mobilitas, layanan kesehatan juga diperkuat mengingat suhu udara Madinah mencapai 42 derajat Celsius. Petugas menyediakan air minum, sandal cadangan, dan water spray untuk mengurangi risiko dehidrasi jemaah saat beraktivitas di sekitar Masjid Nabawi.

“Mengingat suhu harian saat ini adalah 42 derajat dan cukup panas dan cukup terik, sehingga untuk menghindari jemaah dehidrasi dan sebagainya kita juga membantu mengambilkan air minum,” jelas Thoriq.

Di bidang edukasi, petugas aktif mendampingi jemaah memahami penggunaan aplikasi Nusuk dan tata tertib Masjid Nabawi.

Pemahaman aturan dinilai penting agar jemaah dapat beribadah khusyuk tanpa kendala.

“Kita mengedukasi jemaah dalam penggunaan aplikasi Nusuk, dan juga mengedukasi jemaah agar mematuhi tata tertib yang ada di Masjid Nabawi ini supaya mereka bisa beribadah dengan khusyuk,” ujar Thoriq.

Terkait kunjungan ke Raudhah, Thoriq menjelaskan sistem masuk dilakukan secara kolektif menggunakan tasreh atau izin resmi melalui aplikasi Nusuk.

Mekanisme itu memastikan setiap kloter mendapat kesempatan sama.

“Setiap kloter mempunyai hak jemaahnya untuk masuk Raudhah full satu kloter,” katanya.

Pada sesi sore, sekitar 1.045 jemaah masuk Raudhah dalam satu waktu. Total kuota harian dapat mencapai ribuan orang.

“Bisa kurang lebih sampai 8.000 orang dalam satu hari, laki-laki maupun yang wanita,” ujar Thoriq.

Thoriq menilai jemaah gelombang kedua lebih siap menghadapi kondisi di Madinah.

Pengalaman selama di Makkah membuat mereka memahami orientasi medan, fasilitas, dan tata cara beraktivitas di Tanah Suci.

“Jemaah haji gelombang kedua ini lebih memahami situasi, jadi mereka sudah cukup orientasi, sudah cukup pengalaman di Makkah,” ujarnya.

Kesiapan itu berdampak pada penurunan kasus jemaah tersesat atau kesulitan menemukan hotel.

“Relatif kasus jemaah yang lupa jalan pulang ke hotel, kesasar dan sebagainya agak lebih sedikit dibandingkan dari jemaah haji gelombang pertama,” pungkasnya. (*/Red/MCH-2026)

Jemaah HajiKursi rodaLansiaMadinah
Comments (0)
Add Comment