Wamenhaj Dahnil: Lempar Jumrah Bisa Dibadalkan Jika Tak Kuat, Jemaah Jangan Paksakan Diri

MAKKAH – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI Dahnil Anzhar Simanjuntak mengingatkan jemaah haji Indonesia agar tidak memaksakan diri saat menjalani ritual lempar jumrah di Mina.

Jika kondisi fisik tidak memungkinkan, ibadah tersebut bisa dibadalkan atau dilakukan dengan dijamak.

Pernyataan itu disampaikan Dahnil saat turun langsung ke area jamarat, Rabu 28 Mei 2026 pukul 10.45 waktu setempat.

Dahnil memantau kondisi jemaah di hari pertama mabit di Mina sekaligus mengecek kesiapan tenda dan adaptasi terhadap cuaca ekstrem.

Dari pantauannya, banyak jemaah yang tersesat di hari pertama. Kondisi itu, menurut Dahnil, wajar terjadi karena jemaah masih beradaptasi dengan lokasi dan menghadapi mobilitas tinggi.

“Dari siang tadi saya telusuri, saya sudah pulang balik ke sini dua kali. Memang biasanya hari pertama di Mina itu banyak jamaah yang tersesat,” ujar Dahnil.

Ia menjelaskan, hari pertama di Mina memang paling menguras tenaga. Berbeda dengan wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah yang lebih banyak berdiam, di Mina jemaah harus bergerak bolak-balik untuk lempar jumrah selama tiga hari.

“Karena baru hari pertama mereka sedang pengenalan lokasi. Biasanya di Mina itu lebih meletihkan karena mobilitasnya tinggi. Kalau di Muzdalifah kan berdiam. Kalau di Arafah juga berdiam. Nah kalau ini mobilitasnya tinggi,” jelas Dahnil.

Melihat kondisi itu, Dahnil menegaskan pentingnya jemaah mengenali batas kemampuan diri. Jika merasa tidak kuat, ia mendorong jemaah memanfaatkan syariat badal.

“Nah oleh sebab itu yang paling penting, kalau tidak sanggup, ada baiknya dibadalkan. Bukan yang kuat,” tegasnya.

Imbauan ini bertujuan mencegah risiko kelelahan, dehidrasi, dan insiden desak-desakan di area jamarat yang padat, terutama pada jam-jam puncak.

Selain soal mobilitas, Dahnil juga menyoroti perbedaan adaptasi jemaah terhadap suhu di tenda. Dalam satu tenda, ada yang tahan dingin, ada yang tidak kuat panas.

Ia menemukan sejumlah jemaah memilih tidur di luar tenda karena AC disetel maksimal dan mereka tidak kuat dingin.

“Ketika AC-nya maksimal, yang nggak kuat dingin akhirnya keluar dari tenda. Mereka pilih tidur di luar tenda, ditaruh kasur di luar. Tadi saya temukan yang begitu,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Dahnil juga mengapresiasi kelancaran evakuasi jemaah dari Muzdalifah ke Mina. Ia mengaku sempat turun tangan menertibkan antrean pada malam sebelumnya.

Hasilnya, seluruh jemaah Indonesia sudah meninggalkan Muzdalifah pada pukul 06.30 WAS, jauh lebih cepat dibanding tahun lalu yang masih tersisa hingga siang hari.

“Alhamdulillah ini termasuk keberangkatan yang cepat. Tahun lalu di siang hari masih ada di Muzdalifah. Ini setengah tujuh sudah clear. Sudah bergerak ke Mina,” kata Dahnil.

Kecepatan ini dicapai berkat penerapan sistem dua jalur setelah jemaah dari Arafah habis, sehingga antrean terurai lebih cepat.

Dahnil memastikan pihaknya akan terus memantau kondisi lapangan agar ibadah jemaah berjalan aman dan nyaman.

Dahnil juga mengimbau jemaah menjaga kesehatan, mengikuti arahan petugas, dan tidak ragu meminta bantuan jika merasa lelah. (*/Red/MCH-2026)

Dahnil Anzar SimanjuntakmabitminaWamenhaj
Comments (0)
Add Comment