PANDEGLANG–Minggu (6/9/2026) pagi, aktivitas warga di sejumlah wilayah Kabupaten Pandeglang diwarnai kegiatan membersihkan rumah dan halaman yang dipenuhi abu vulkanik.
Debu berwarna gelap itu merupakan sisa material erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) malam.
Butiran debu halus yang menempel di teras, halaman, hingga sebagian bagian dalam rumah membuat warga harus berulang kali melakukan pembersihan.
Debu yang telah disapu dan dipel kembali muncul, terbawa angin yang masih berembus di sejumlah wilayah.
Di Desa Jiput, Kecamatan Jiput, warga bernama Eroh terlihat sibuk mengepel dan membasahi halaman rumahnya.
Ia mengaku harus membersihkan rumah beberapa kali karena debu terus berdatangan.
“Harus beberapa kali,” ujarnya.
Sejak pagi, Eroh telah membersihkan rumah dan halaman. Namun, hingga siang hari pekerjaan tersebut belum juga selesai karena debu kembali menempel di lantai dan pelataran rumah.
Bahkan, hingga malam hari, debu masih terlihat di sejumlah bagian rumah.
Sebagian abu juga masuk melalui ventilasi sehingga Eroh bersama suaminya terpaksa menutup lubang ventilasi menggunakan kertas untuk mengurangi debu yang masuk.
Kondisi tersebut membuat Eroh mulai merasakan gangguan pada tenggorokannya.
Ia khawatir paparan debu vulkanik juga berdampak terhadap kesehatan keluarganya.
“Sudah gak enak tenggorokan,” katanya.
Kekhawatiran itu membuat Eroh melarang anak-anaknya bermain di luar rumah.
Ia memilih menjaga anak-anak tetap berada di dalam rumah untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Eroh bahkan sempat meminta adik iparnya membelikan masker untuk anak-anak.
Namun, masker yang dibutuhkan untuk melindungi saluran pernapasan itu sulit ditemukan sejak siang hari.
Keluhan kesehatan mulai dirasakan pada sore hari. Selain tenggorokan yang terasa tidak nyaman, rasa gatal pada kulit juga mulai muncul.
Anak-anak kemudian langsung dimandikan dan diminta mengganti pakaian yang dikenakan untuk bermain seharian.
Bagi Eroh yang masuk generasi milenial, kondisi tersebut menjadi pengalaman baru namun juga kembali mengingatkannya pada aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 2018.
Saat tsunami terjadi ketika itu, rumahnya sempat menjadi tempat pengungsian keluarga mertuanya yang berasal dari wilayah pesisir Carita.
Erupsi pada Jumat hingga Sabtu lalu juga meninggalkan suasana mencekam bagi warga Jiput.
Langit sempat terlihat gelap dan suara gemuruh erupsi serta getaran yang terasa pada jendela rumah membuat warga panik.
Beberapa kali gempa turut menambah kekhawatiran masyarakat.
Cerita tentang abu vulkanik pun menjadi pengalaman yang dirasakan banyak warga.
Tak hanya di Pandeglang, warga di sejumlah daerah lain, termasuk Jakarta hingga Bandung, turut membagikan aktivitas mereka membersihkan rumah dan lingkungan dari debu vulkanik.
Bagi generasi yang lebih tua, kondisi tersebut juga mengingatkan pada erupsi Gunung Galunggung di Tasikmalaya pada 1982.
Ketika itu, letusan gunung yang telah lama tertidur tersebut mengirimkan material abu hingga wilayah yang jauh dari pusat erupsi.
Ibu Mertua Eroh turut mengenang peristiwa tersebut. Saat masih bersekolah, Emah menyaksikan dampak erupsi Gunung Galunggung yang abunya disebut mencapai Pandeglang.
Di Jiput, ketebalan abu bahkan disebut mencapai sekitar satu sentimeter.
“Dulu waktu gunung Galunggung, debunya segini,” ujar Emah sambil menunjuk ujung jarinya.
Tak hanya meninggalkan lapisan abu, erupsi Gunung Galunggung saat itu juga membuat aktivitas warga terganggu karena suasana menjadi gelap akibat material vulkanik yang memenuhi udara.
Sejumlah referensi mencatat erupsi Gunung Galunggung berlangsung dalam periode panjang, sejak Juli 1982 hingga Januari 1983.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu catatan erupsi besar yang masih dikenang masyarakat hingga kini.
Kini, cerita tentang debu vulkanik kembali menjadi pengalaman baru bagi generasi milenial, Gen Z, hingga generasi Alfa.
Abu yang menempel di halaman rumah bukan sekadar pekerjaan tambahan untuk dibersihkan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa aktivitas gunung api dapat membawa dampak hingga wilayah yang berada jauh dari sumber erupsi. (*/ARAS)