SERANG – Program Keluarga Berencana (KB) di Kota Serang masih menghadapi keterbatasan dukungan anggaran dari pemerintah daerah.
Untuk memastikan pelayanan KB tetap berjalan, Pemkot Serang lebih banyak mengandalkan dukungan anggaran pemerintah pusat melalui Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB).
Kepala Bidang KB DP3KB Kota Serang, Hj. Imas Hotimah, mengatakan anggaran yang dialokasikan melalui APBD Kota Serang untuk program KB hanya sekitar Rp5 juta.
Sementara itu, dukungan anggaran dari pemerintah pusat mencapai sekitar Rp1,8 miliar dalam satu tahun.
“Kalau anggaran dari APBD kita masih sangat minim, sekitar Rp5 juta. Dari pusat sekitar Rp1,8 miliar untuk satu tahun, tetapi itu sudah dalam bentuk paket dan masuk ke faskes,” kata Imas, Kamis, (1/10/2026).
Menurut Imas, dukungan dana dari pemerintah pusat tersebut digunakan untuk menunjang pelayanan KB melalui fasilitas kesehatan yang telah bekerja sama dengan DP3KB Kota Serang.
Saat ini, terdapat 16 puskesmas, sekitar 100 klinik, serta sejumlah rumah sakit di Kota Serang yang memberikan pelayanan KB kepada masyarakat.
Meski dukungan anggaran dari APBD masih terbatas, Imas menyebut capaian program KB di Kota Serang setiap tahun menunjukkan peningkatan.
Target yang ditetapkan pemerintah pusat pada prinsipnya juga dapat dicapai.
“Kalau target yang belum tercapai biasanya karena kendala teknis. Misalnya calon akseptor sudah dijadwalkan, tetapi batal datang karena kondisi keluarga,” ujarnya.
Dalam pelayanan KB, masyarakat dapat memperoleh berbagai jenis alat kontrasepsi, mulai dari Intrauterine Device (IUD), implan, Metode Operasi Pria (MOP), Metode Operasi Wanita (MOW), kondom, pil hingga suntik.
Pelayanan kontrasepsi tersebut diberikan secara gratis bagi masyarakat yang memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan yang telah bekerja sama.
Imas menjelaskan, sasaran utama program KB adalah pasangan usia subur (PUS). Namun, upaya edukasi juga dilakukan kepada calon pengantin melalui bimbingan pranikah.
Salah satu materi yang diberikan berkaitan dengan kesiapan pasangan untuk menikah dan memiliki anak, termasuk melalui aplikasi Elsimil atau Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil.
Bagi pasangan muda yang dinilai masih memiliki risiko untuk segera memiliki anak, DP3KB mendorong adanya penundaan kehamilan pertama.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan alat kontrasepsi, seperti kondom atau pil, maupun melalui penundaan usia perkawinan sesuai kondisi dan edukasi yang diberikan.
Untuk target kepesertaan KB, Imas menyebut angka yang ditetapkan berada di kisaran 80 persen dari pasangan usia subur. Namun, pencapaiannya tetap disesuaikan dengan kondisi pelayanan dan dukungan anggaran yang tersedia.
Penjaringan calon akseptor dilakukan melalui kader KB yang tersebar di seluruh wilayah Kota Serang, mulai dari tingkat kecamatan, kelurahan hingga RT dan RW.
Para kader tersebut berperan menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai jadwal dan lokasi pelayanan KB, sekaligus membantu menjangkau pasangan usia subur yang menjadi sasaran program.
Dengan dukungan fasilitas kesehatan dan jaringan kader tersebut, DP3KB Kota Serang terus mendorong agar pelayanan KB dapat diakses masyarakat secara luas, meski dukungan anggaran dari APBD masih terbatas.***