KRL Bakal Nyambung Sampai Merak, Proyek Elektrifikasi Rangkasbitung Capai Rp1,29 Triliun

SERANG – Rencana memperpanjang layanan Kereta Rel Listrik (KRL) hingga wilayah Banten bagian barat memasuki tahap penting.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten telah merampungkan studi kelayakan atau feasibility study (FS) elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Serang-Cilegon-Merak.

Hasil kajian tersebut menunjukkan proyek elektrifikasi memiliki kelayakan ekonomi yang cukup baik, dengan kebutuhan investasi diperkirakan mencapai sekitar Rp1,29 triliun.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Banten, Endad Haryanto, mengatakan hasil FS menjadi dokumen kesiapan yang akan digunakan Pemprov Banten untuk mengusulkan elektrifikasi jalur tersebut kepada pemerintah pusat, khususnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

“Pengembangan elektrifikasi jalur kereta api Rangkasbitung-Merak membutuhkan biaya investasi sekitar Rp1,29 triliun. Pengembangan elektrifikasi tersebut memberikan tingkat kelayakan ekonomi yang cukup baik, dengan nilai Economic Internal Rate of Return (EIRR) di atas 10 persen,” kata Endad, Jumat (2/10/2026).

Menurut dia, elektrifikasi tidak hanya berkaitan dengan perubahan sistem operasi kereta dari lokomotif menjadi KRL. Pengembangan tersebut juga diproyeksikan meningkatkan kapasitas angkutan penumpang secara signifikan.

Berdasarkan hasil kajian, kapasitas layanan di lintas Rangkasbitung-Merak diproyeksikan meningkat dari sekitar 9.900 penumpang per hari menjadi 18.000 penumpang per hari setelah elektrifikasi diterapkan.

Saat ini, layanan KRL Commuter Line dari Jakarta baru menjangkau Rangkasbitung. Sementara perjalanan menuju Serang, Cilegon hingga Merak masih menggunakan kereta dengan lokomotif.

Kondisi tersebut membuat penumpang dari arah Merak maupun sebaliknya yang hendak melanjutkan perjalanan menuju Jakarta harus berganti kereta di Stasiun Rangkasbitung.

Dengan elektrifikasi, layanan KRL nantinya berpeluang diperpanjang hingga Serang, Cilegon dan Merak sehingga perjalanan penumpang dari wilayah Banten barat menuju Jakarta dapat berlangsung lebih terintegrasi.

Endad mengatakan pembangunan elektrifikasi tidak harus langsung dilakukan secara keseluruhan dari Rangkasbitung hingga Merak.

Salah satu opsi yang dikaji yakni pembangunan secara bertahap, dimulai dari Rangkasbitung-Serang, kemudian dilanjutkan menuju Cilegon hingga Merak.

Skema bertahap tersebut dinilai memungkinkan pengembangan layanan dilakukan mengikuti kesiapan infrastruktur dan kebutuhan transportasi di masing-masing wilayah.

Rencana elektrifikasi juga dapat diintegrasikan dengan pembangunan jalur ganda (double track) Rangkasbitung-Merak yang telah masuk dalam rencana pembangunan Direktorat Jenderal Perkeretaapian hingga 2029.

Namun, Endad menyebut pengembangan KRL hingga Merak membutuhkan sejumlah infrastruktur pendukung, di antaranya fasilitas stabling KRL, fasilitas pelayanan penumpang dan alih moda, akses menuju stasiun, serta peningkatan keselamatan pada perlintasan sebidang.

Aspek lingkungan, kebencanaan, dampak lalu lintas dan keselamatan masyarakat di sepanjang jalur juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengembangan elektrifikasi tersebut.

Urgensi pengembangan layanan tersebut tidak terlepas dari terus meningkatnya jumlah pengguna KRL lintas Tanah Abang-Rangkasbitung.

Data KAI menunjukkan jumlah pelanggan lintas Rangkasbitung meningkat dari 43,31 juta orang pada 2022 menjadi 77,55 juta orang pada 2025. Sementara sepanjang Januari-Mei 2026, jumlah pengguna telah mencapai sekitar 33,4 juta orang.

Kepadatan juga terlihat dari tingkat okupansi pada jam sibuk yang mencapai sekitar 161 persen, sehingga KAI melakukan berbagai langkah peningkatan kapasitas layanan pada lintas tersebut.

Endad mengatakan rampungnya FS menjadi salah satu tahapan penting agar rencana elektrifikasi dapat dibawa ke pemerintah pusat.

Pemprov Banten selanjutnya akan menggunakan dokumen tersebut sebagai dasar pengusulan kepada Kementerian Perhubungan agar rencana elektrifikasi Rangkasbitung-Merak dapat masuk dalam pembahasan dan tahapan pembangunan berikutnya.

“Dokumen studi kelayakan ini menjadi salah satu dokumen kesiapan untuk disampaikan kepada pemerintah pusat, khususnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian,” ujar Endad.

Jika terealisasi, perpanjangan elektrifikasi ini akan membuka konektivitas KRL yang lebih panjang dari Jakarta menuju wilayah Banten hingga Merak.***

elektrifikasiMerakPemprov BantenRangkasbitung
Comments (0)
Add Comment