SERANG – Warga Perumahan Kiara Garden 2, Kecamatan Curug, Kota Serang, Banten, dibuat resah dengan serbuan lalat yang masuk hingga ke dalam rumah.
Kondisi tersebut disebut bukan baru terjadi, melainkan telah dikeluhkan warga selama sekitar tiga tahun dan semakin parah dalam sepekan terakhir.
Salah seorang warga, Sri, mengungkapkan keluhan tersebut melalui akun Instagram pribadinya @sri_mstf.
Dalam unggahannya, tampak lalat berkerumun dalam jumlah banyak di sekitar lingkungan permukiman.
Menurut Sri, jumlah lalat saat ini sudah jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
Bahkan, dalam beberapa menit saja lalat disebut dapat kembali memenuhi area rumah.
“Tidak ada hari tanpa lalat. Cuma yang sebanyak ini sudah sekitar satu mingguan. Dalam lima menit saja bisa sebanyak itu, sudah melebihi seperti di pasar ayam,” ujar Sri saat dikonfirmasi, Sabtu (8/8/2026).
Ia menuturkan, gangguan lalat juga dirasakan warga di blok lainnya. Bahkan, di salah satu blok disebut ditemukan belatung dalam jumlah banyak.
Sri menduga kondisi tersebut berkaitan diduga adanya aktivitas peternakan dan usaha pembuatan pupuk di sekitar kawasan permukiman.
Namun, ia menegaskan warga belum dapat memastikan sumber utama munculnya lalat tersebut.
“Di sini memang ada peternakan juga. Jadi penyebabnya ada dua, entah yang mana yang menyebabkan lalat itu,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Sri, sangat mengganggu aktivitas warga. Lalat bahkan masuk ke dalam rumah dan hinggap pada berbagai barang, termasuk perlengkapan serta mainan anak.
“Kalau ke rumah saya, lalat itu ada 10 sampai 20. Anak saya masih kecil, bayi. Barang-barang dan mainan anak juga jadi terkena lalat,” ungkapnya.
Sri mengaku selama ini menggunakan perangkap lem untuk mengurangi jumlah lalat. Namun, menurutnya, langkah tersebut hanya bersifat sementara karena lalat terus berdatangan.
Ia berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat turun langsung ke lokasi untuk memastikan penyebab munculnya lalat dalam jumlah besar sekaligus mencari solusi bagi warga.
Menurutnya, persoalan tersebut sebelumnya telah disampaikan kepada pengurus lingkungan dan anggota dewan setempat.
Namun, hingga kini warga masih menunggu adanya penanganan yang lebih konkret.
“Saya sebenarnya cuma kesal saja. Kali ini benar-benar banyak. Saya juga tidak tahu harus lapor ke mana, makanya nekat bersuara,” tuturnya.
Sri berharap keluhan warga tidak hanya berhenti pada laporan, tetapi ditindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap lokasi yang diduga menjadi sumber gangguan.
“Harapannya ada yang benar-benar mengecek penyebabnya, supaya tidak terus seperti ini. Apalagi ada anak-anak kecil di lingkungan sini,” pungkasnya.***