Pengembangan Sambungan Rumah Tak Sesuai Target, Pendapatan Perumdam Kota Serang Menurun

SERANG – Target pengembangan sambungan rumah (SR) yang belum terealisasi membuat proyeksi pendapatan Perumdam Tirta Madani Kota Serang dalam perubahan RKAP 2026 mengalami penurunan.

Sejumlah rencana pemasangan jaringan di kawasan perumahan hingga kini masih terkendala proses pelaksanaan dan perizinan.

Direktur Perumdam Tirta Madani Kota Serang, Arif Setiawan, mengatakan penurunan pendapatan tersebut terutama disebabkan target pengembangan sambungan rumah (SR) yang belum terealisasi sesuai rencana.

“Prinsipnya untuk perubahan RKAP tahun 2026 ini ada penurunan dari rencana anggaran murni tahun 2026. Penurunan pendapatan tersebut disebabkan pengembangan sambungan rumah kita tidak sesuai dengan yang ditargetkan,” kata Arif, Jumat (21/8/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah rencana pemasangan sambungan rumah di kawasan perumahan, seperti Mandela Citra, Padma, dan Harmoni, hingga kini masih dalam tahap persiapan pelaksanaan.

Selain itu, pengembangan jaringan distribusi utama (JDU) menuju wilayah Sempu juga terkendala proses perizinan karena pemasangan pipa harus menggunakan ruas jalan nasional.

Menurut Arif, proses perizinan dengan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) membutuhkan waktu cukup panjang.

Namun, izin tersebut ditargetkan sudah dapat digunakan untuk pelaksanaan pemasangan jaringan pada Agustus 2026.

“Ketika pengembangan pendapatan tidak tercapai, ujungnya akhirnya berkurang terhadap pendapatan dan penerimaan di perusahaan kami,” ujarnya.

Untuk tahun 2026, Perumdam Tirta Madani menargetkan penambahan sekitar 1.230 pelanggan baru. Namun, hingga saat ini realisasinya baru mencapai sekitar 300 pelanggan.

Arif menyebut salah satu kendala lainnya adalah kondisi air tanah di sejumlah kawasan perumahan yang masih dinilai cukup baik oleh masyarakat.

Kondisi tersebut membuat sebagian calon pelanggan belum tertarik beralih menggunakan layanan Perumdam.

Meski demikian, Arif menilai peluang pengembangan pelanggan Perumdam Tirta Madani ke depan masih cukup besar.

Salah satunya melalui program penyediaan air dari jalur Sindangheula. Program tersebut nantinya dapat melayani sejumlah kawasan perumahan yang selama ini belum terjangkau jaringan Perumdam, seperti Puri Anggrek, Puri Persada, dan Grand Sutra.

“Untuk saat ini kami akan mendapatkan jatah dari program Sindangheula itu total 200 liter per detik. Namun, kami akan memprioritaskan pembangunan off-take di Cipocok sebesar 100 liter per detik dari suplai Sindangheula,” jelasnya.

Selain kawasan perumahan, Perumdam juga melihat potensi kebutuhan air bersih dari rencana pengembangan kawasan industri di Karangantu maupun Walantaka.

Arif juga menyoroti kondisi pelayanan air bersih di wilayah utara Kota Serang, khususnya Kecamatan Kasemen.

Ia mengatakan, secara umum kebutuhan air bersih di wilayah tersebut masih dapat dipenuhi. Namun, pihaknya berencana melakukan peningkatan kapasitas sistem pengolahan air pada tahun mendatang.

“Kasemen saat ini masih bisa kami penuhi. Insyaallah tahun depan kami akan melakukan upgrading sistem yang ada di IPA Banten dan menambah kapasitasnya,” katanya.

Menurutnya, ketersediaan dan keandalan air baku menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan air bersih. Terlebih saat musim kemarau, intrusi air laut dapat menyebabkan air baku menjadi asin.

“Selama ini air baku di Banten itu suka asin ketika kemarau, air laut intrusi masuk ke instalasi kami. Namun apabila ini sudah handal, bendungan sudah dipasang, maka air baku kami akan lebih handal dan lebih baik,” ujarnya.

Untuk memperkuat pasokan air sebelum suplai Sindangheula tersedia, Perumdam Tirta Madani juga berencana menjalin kerja sama dengan Perumdam Tirta Albantani Kabupaten Serang pada 2027.

Arif mengatakan, kerja sama tersebut berupa pembelian air curah dari Perumdam Tirta Albantani di kawasan Ciruas-Ranjeng yang berada di sekitar perbatasan dengan Walantaka.

Pihaknya akan menyiapkan nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama business to business (B2B), termasuk menghitung harga pembelian air per meter kubik serta harga jual kepada calon pelanggan.

“Setelah dilakukan analisa, berapa kami harus beli per kubik dan kami pun harus menjual kepada calon pelanggan. Otomatis di situ harus ada profit bagi perusahaan kami,” katanya.

Di tengah kondisi kemarau saat ini, Arif mengakui adanya peningkatan permintaan bantuan pasokan air bersih dari masyarakat.

Permintaan tersebut tidak hanya datang dari pelanggan Perumdam, tetapi juga masyarakat yang belum menjadi pelanggan.

Menurut Arif, sebagai perusahaan daerah yang bergerak dalam pelayanan air bersih, Perumdam memiliki kewajiban untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pasokan air, khususnya dalam kondisi kemarau.

“Dengan kondisi seperti ini, Perumdam mempunyai kewajiban untuk membantu,” pungkasnya.***

Comments (0)
Add Comment