SERANG — Jalan utama yang menjadi akses vital warga Kampung Kalomberan, Desa Cikedung, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, Banten, hingga kini masih memprihatinkan.
Kondisi jalan sepanjang sekitar 4 kilometer itu disebut warga telah rusak parah selama puluhan tahun.
Ironisnya, jalan tersebut bukan luput dari perhatian. Sejumlah pejabat bahkan disebut telah datang meninjau kondisi jalan, salah satunya Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto.
Namun, kunjungan demi kunjungan itu belum juga berujung pada perbaikan. Warga masih harus berjibaku melewati jalan berlubang, berbatu, terjal, bahkan sebagian badan jalan masih berupa tanah.
Kondisi semakin membahayakan ketika hujan turun. Jalan menjadi licin dan dipenuhi genangan air sehingga berisiko bagi warga yang melintas menggunakan sepeda motor maupun mobil.
“Jalan ini sudah berpuluh-puluh tahun dengan kondisi rusak parah. Kalau lewat sini sering jatuh karena kondisinya rusak, licin dan banyak bebatuan,” kata warga setempat, Komarudin, saat ditemui, Kamis (20/8/2026).
Menurut dia, kerusakan jalan tidak hanya membuat kendaraan warga cepat mengalami kerusakan, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat.
“Motor rusak, bahaya, apalagi kalau kondisi hujan,” ujarnya.
Komarudin menegaskan, jalan tersebut merupakan salah satu akses utama warga untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk menuju pasar dan mengangkut hasil pertanian.
“Ya, jalan ini bisa disebut jalan utama. Kami warga di sini berharap sekali jalan ini diperbaiki seperti jalan pada umumnya, sehingga enak dilintasi. Warga yang berjualan juga tidak terhambat kalau mau ke pasar,” katanya.
Ia menambahkan, jalan tersebut juga menjadi akses penting bagi aktivitas pertanian masyarakat, termasuk distribusi hasil pertanian.
“Jalan ini juga akses pertanian, termasuk untuk membawa dan menjual hasil pertanian, seperti beras,” sambungnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Ahmad Roup. Ia bahkan mengungkapkan kondisi jalan tersebut pernah menyulitkan warga yang hendak mendapatkan pertolongan medis.
“Pernah kejadian warga sini yang mau melahirkan dibawa pakai mobil. Mau ke puskesmas, sebelum sampai puskesmas sudah berojol (melahirkan) duluan saat lewat jalan ini,” tuturnya.
Ahmad juga mempertanyakan tindak lanjut pemerintah setelah sejumlah pejabat datang melihat kondisi jalan tersebut.
“Pernah ada pejabat, istri gubernur, kemudian juga Menteri Yandri berkunjung. Tapi tetap saja jalan yang rusak ini belum ada solusi,” katanya.
Soroti Peran Industri
Di tengah kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki, warga juga berharap adanya perhatian dari kalangan industri yang beraktivitas dan memanfaatkan sumber daya di wilayah tersebut.
Warga menyinggung tanggung jawab sosial perusahaan, khususnya PT Krakatau Tirta Industri (KTI), yang disebut mengambil sumber air dari mata air yang berada di desa tersebut.
Warga berharap keberadaan perusahaan di wilayah mereka juga diiringi kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat, termasuk perbaikan infrastruktur jalan.
“Kalau dari kami sebagai warga, harapannya kepada Pemerintah Kabupaten Serang, Pemerintah Provinsi, pemerintah pusat, hingga industri PT KTI yang mengambil air dari mata air di sini, bisa memberikan perhatian untuk segera memperbaiki jalan yang rusak parah ini,” ujar Ahmad.
Warga berharap persoalan tersebut tidak kembali berhenti pada kunjungan dan janji. Mereka mendesak pemerintah lintas tingkatan serta pihak perusahaan untuk segera mencari solusi konkret terhadap kondisi jalan yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi aktivitas masyarakat Cikedung.
Bagi warga, jalan yang layak bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan, akses pendidikan dan kesehatan, kelancaran ekonomi, serta mobilitas hasil pertanian masyarakat.***