SERANG – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Serang, Febri, meninjau langsung lokasi bencana tanah longsor di Desa Kadubeureum, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.
Dalam peninjauan tersebut, Dinas PUPR memanfaatkan teknologi drone untuk memantau kondisi longsoran secara lebih efektif dan aman.
Febri mengatakan, penggunaan drone dilakukan untuk melihat secara detail area longsor yang sulit dijangkau secara langsung, sekaligus sebagai langkah awal dalam proses pemetaan dan penanganan bencana.
“Kita sudah pakai drone supaya lebih efektif, kita bisa mendekati area longsor tanpa harus turun langsung ke titik rawan. Drone sudah kita kirim ke lokasi untuk membantu proses reshape atau pemetaan awal bersama BPBD dan Dinas Sosial,” ujar Febri, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, Dinas PUPR akan terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Serang dan Dinas Sosial dalam penanganan dampak longsor, serta aktif mendampingi warga terdampak sesuai arahan pimpinan daerah.
“Kami terus siaga dan membersamai warga yang terdampak, sebagaimana arahan dan perintah Ibu Bupati. Kehadiran pemerintah di tengah warga sangat penting dalam situasi seperti ini,” tegasnya.
Terkait pemetaan lokasi longsor, Febri mengungkapkan saat ini proses masih berjalan dan hasil awal diperkirakan baru bisa terlihat dalam waktu dekat.
“Pemetaan detail belum ada karena kita baru tiba di lokasi. Insya Allah besok sudah ada indikasi awal dari hasil pemetaan drone. Saat ini masih tahap reshape dan observasi,” jelasnya.
Menanggapi isu adanya aktivitas pertambangan di sekitar lokasi longsor, Febri menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
“Tambang tidak ada, itu hanya isu-isu saja. Tidak ada aktivitas pertambangan di lokasi longsor,” katanya.
Sementara terkait penebangan pohon, Febri mengakui memang terdapat satu hingga dua pohon yang ditebang oleh warga setempat di lahan milik pribadi.
“Penebangan pohon ada satu-dua, itu dilakukan warga di lahan milik mereka sendiri. Bukan perusahaan, murni warga setempat. Meski begitu, sementara ini kita larang dulu demi keselamatan,” ujarnya.
Adapun material longsoran yang masih menumpuk di bibir tebing hingga saat ini belum dapat dievakuasi karena kondisi tanah yang masih labil.
“Belum ada yang berani masuk ke area longsor. Tanah masih sangat labil. Kalau dipaksakan menggunakan alat berat, getarannya bisa memicu longsor susulan dan membahayakan nyawa,” kata Febri.
Ia menambahkan, sesuai arahan Bupati Serang, proses evakuasi material longsor akan dilakukan setelah kondisi tanah benar-benar stabil dan cuaca mendukung.
“Kita menunggu tanah kering dan tidak labil. Evakuasi akan dilakukan ke titik nol, tapi untuk sementara alat berat tidak bisa masuk, penanganan masih dilakukan secara manual,” pungkasnya.***