TANGSEL – Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) Tamsil Linrung menanggapi serius pemberitaan dan perbincangan publik di media sosial yang berkembang belakangan ini mengenai dua peristiwa di lingkungan sekolah internasional ICM Serpong, Tangerang Selatan.
Dua kasus tersebut yakni dugaan pelecehan yang kini ditangani aparat penegak hukum, serta insiden bullying antara siswa dalam kegiatan Pramuka pada akhir Agustus lalu.
“Kedua peristiwa ini adalah musibah bagi kami semua, dan yang paling utama, bagi anak-anak serta keluarga yang mengalaminya,” ujar Tamsil dalam keterangannya yang diterima Fakta Banten, Minggu (27/9/2026).
Tamsil menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh siswa dan keluarga yang terdampak dari kedua peristiwa tersebut.
Menurutnya, tak ada alasan yang bisa membenarkan seorang anak pulang dari kegiatan sekolah dengan luka fisik maupun psikis, apalagi harus meninggalkan lingkungan belajar karena trauma.
“Saya sudah berkomunikasi langsung dengan orang tua korban perundungan, menyampaikan permohonan maaf dan dukungan moral. Kepada korban dugaan pelecehan dan keluarganya, kami memastikan pendampingan dan pemulihan diberikan sepenuhnya, serta proses keadilan dikawal sampai tuntas,” kata Tamsil.
Dia menegaskan, tidak ada ruang sedikit pun di ICM bagi tindakan yang mencederai keselamatan anak, dan akhlakul karimah.
Pengelolaan sekolah berasrama, menurutnya, memang tidak sederhana, tetapi kerumitan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk berpaling dari tanggung jawab.
Terkait penanganan kasus bullying, Tamsil menjelaskan bahwa fungsi Dewan Pembina bukan mengelola operasional sekolah sehari-hari, melainkan memastikan nilai-nilai yang menjadi fondasi ICM benar-benar ditegakkan oleh manajemen.
Dia menyebutkan, manajemen sekolah telah melakukan pemeriksaan internal, memberikan sanksi kepada siswa dan pembina yang terkait, memfasilitasi pertemuan antar orang tua, serta melaporkan kejadian tersebut kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
“Saya juga memahami adanya keberatan dari pihak keluarga korban terkait respons sekolah, dan itulah yang sedang kami telusuri lebih dalam,” ujarnya.
Adapun mengenai dugaan pelecehan, Tamsil menegaskan sikap ICM yang mendukung penuh proses yang bergulir di ranah aparat penegak hukum.
“Tidak ada intervensi dari saya, dari yayasan, atau dari siapa pun. Tidak ada perlakuan istimewa bagi siswa mana pun, apa pun latar belakang orang tuanya,” tegas Tamsil.
Ia juga menepis anggapan bahwa ada perbedaan perlakuan di ICM berdasarkan latar belakang siswa. Menurutnya, ICM sejak awal didirikan sebagai sekolah yang terbuka bagi anak-anak dari berbagai kalangan.
Dia bahkan menggelontorkan program beasiswa penuh hingga dukungan uang saku bulanan bagi siswa dari kalangan dhuafa. Program itu dijalankan bersama lembaga pengelola zakat nasional.
“Begitu seorang anak masuk gerbang sekolah, ia tunduk pada aturan yang sama. Identitasnya cuma satu, sebagai pelajar yang ingin tumbuh dan berkembang bersama ICM, terlepas dari siapa pun orang tuanya. Relasi personal, jabatan, atau kedekatan politik tidak memengaruhi. Ukurannya adalah fakta, aturan, dan kepentingan terbaik bagi anak,” kata Tamsil.
Menanggapi informasi yang simpang siur di media sosial, termasuk spekulasi mengenai identitas dan latar belakang pelaku merupakan anak pejabat, Tamsil menyatakan hal itu merupakan ranah privasi korban maupun yang diduga terlibat.
“Mereka adalah anak di bawah umur yang identitasnya dilindungi hukum, dan sepatutnya dilindungi pula oleh kita semua yang peduli pada pendidikan. Saya mengajak semua pihak lebih bijaksana dan menahan diri,” imbuhnya.
Sebagai wujud komitmen moral dan kelembagaan, Tamsil menyampaikan sejumlah langkah konkret yang telah diputuskan.
Pertama, pemulihan korban sebagai prioritas utama. Yayasan menanggung sepenuhnya pendampingan psikologis dan pemulihan bagi seluruh korban tanpa syarat apa pun.
Kedua, evaluasi menyeluruh atas sistem, bukan berhenti pada individu yang terlibat. Pembenahan mencakup kesiapan pembina di lapangan, SOP kegiatan luar kelas maupun asrama, mekanisme pengaduan, hingga fasilitas pengamanan.
Ketiga, penguatan langkah mitigasi berupa larangan bimbingan perseorangan di ruang tertutup. Setiap kegiatan siswa didampingi minimal dua guru atau pembina dewasa. “Ini SOP yang sudah berjalan sejak awal, saya pastikan implementasinya,” kata Tamsil.
Keempat, ICM membuka ruang aman bagi siswa dan orang tua untuk bersuara melalui layanan pengaduan serta layanan konseling bagi siswa. Ia menjamin semua laporan akan ditindak lanjuti.
Kepada para orang tua siswa, Tamsil menyampaikan bahwa ia memahami kegelisahan yang dirasakan saat ini, dan kekhawatiran itu tidak akan dianggap ringan oleh pihak sekolah. Ia mengingatkan kembali bahwa sejak awal berdiri, ICM dirancang sebagai kolaborasi antara sekolah dan keluarga, bukan relasi satu arah.
“Sekolah punya wadah di mana guru dan orang tua bertemu. Wali kelas dan guru mata pelajaran berkomunikasi mengenai perkembangan anak didik, dan berbagai dinamika yang terjadi. Ini rutin setiap term. Bahkan dapat dilakukan setiap saat. Ada juga majelis taklim dimana orang tua difasilitiasi, bisa saling berkomunikasi. Sejak awal kita sangat terbuka” kata Tamsil.
Dia menegaskan, orang tua adalah mitra sekolah dalam mendidik. Ia mengajak untuk melihat, menilai, dan mengawasi langsung pembenahan yang dilakukan setelah kejadian.
Sebagai tindak lanjut, ICM akan mengadakan pertemuan langsung dengan seluruh orang tua, membentuk forum pengawasan bersama yang melibatkan perwakilan orang tua dan pemerintah, menyampaikan laporan perkembangan secara berkala, serta membuka pintu sekolah bagi orang tua yang ingin berdialog langsung dengan pengelola kapan pun diperlukan.
Di akhir keterangannya, Tamsil turut membagikan refleksi pribadi sebagai pendiri ICM. Ia mengatakan ICM dibangun dari nol dengan mimpi agar setiap anak mendapat akses pendidikan berkualitas.
Setiap anak yang masuk di gerbang ICM, pulang dalam keadaan lebih baik dari saat ia datang. Lebih berilmu, lebih berakhlak, dan yang paling utama, merasa aman selama proses menimba ilmu di ICM.
Dia berterima kasih kepada para orang tua, alumni, dan masyarakat yang telah menyuarakan keprihatinan mereka Hal itu menunjukkan bahwa banyak pihak masih menaruh harapan pada ICM sebagai rumah pendidikan yang dipercaya.
“Harapan itulah yang akan kami jawab, bukan dengan kata-kata hari ini saja, melainkan dengan langkah-langkah yang bisa disaksikan dan ditagih oleh siapa pun. Sampai tuntas. Saya berdiri pada kepentingan masa depan anak-anak ICM, serta kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan,” tutup Tamsil. (*/Ajo)