Awal Puasa Ramadhan 2025, Ini Jadwal Puasa dan Lebaran Versi Al-Khairiyah
CILEGON – Bulan Ramadhan 2025 semakin dekat, dan umat Islam di Indonesia tengah menantikan kepastian mengenai kapan dimulainya 1 Ramadhan 1446 H.
Selain pemerintah, berbagai organisasi Islam seperti Muhammadiyah, dan Al-Khairiyah telah melakukan penetapan awal puasa berdasarkan metode dan perhitungan masing-masing.
Berikut ini adalah jadwal puasa dan Lebaran versi Al-Khairiyah.
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah telah mengumumkan penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1446 H/2025 M.
Pengumuman ini disampaikan dalam konferensi pers yang dihadiri oleh Sekretaris Jenderal PB Al-Khairiyah, H. Ahmad Munji, M.Pd., Sekretaris Majlis Syuro, Ustadz Alwiyan Qosid Syam’un, Wakil Ketua Umum PB Al-Khairiyah, Dr. Deviyantoro, M.M., Rektor Universitas Al-Khairiyah (Unival), Dr. Rafi Udin, M.Si., Ketua Lembaga Falakiyah, Ustad Nurdin, M.Pd., dan Dekan Fakultas Agama Islam, Sayuti Zakariya, M.Pd.
Berdasarkan perhitungan hisab Kriteria Al-Khairiyah dan metode Al-Durr al-Aniq, berikut adalah hasil penetapan tersebut:
Diinformasikan, 29 Sya’ban 1446 H bertepatan dengan Jumat Legi, 28 Februari 2025 M. Kemudian, Ijtimak akhir Sya’ban terjadi pada hari yang sama pukul 07:45:13 WIB.
Berdasarkan koordinat Markaz Falakiyah Al-Khairiyah di Bukit Taqwa, Bantarwaru, Cinangka, Serang, Banten (06° 12’ 3,3” LS dan 105° 54’ 21” BT), matahari terbenam pada pukul 18:17:16 WIB. Hilal terlihat di atas ufuk dengan ketinggian 3° 53’ 32,67”.
Memenuhi kriteria Al-Khairiyah (ijtimak sebelum matahari terbenam, hilal di atas ufuk saat matahari terbenam, ketinggian hilal di atas ufuk secara nasional), maka 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu Pahing, 1 Maret 2025 M.
Berdasarkan informasi, 29 Ramadhan 1446 H bertepatan dengan Sabtu Kliwon, 29 Maret 2025 M. Ijtimak akhir Ramadhan terjadi pada hari yang sama pukul 17:58:08 WIB.

Kemudian matahari terbenam pada pukul 18:04:30 WIB, dengan hilal berada di bawah ufuk (-1° 32’ 11,19”). Karena hilal belum wujud, Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari. Oleh karena itu, 1 Syawal 1446 H/Idul Fitri jatuh pada Senin Pahing, 31 Maret 2025 M.
Kemudian, 29 Dzul Qa’dah 1446 H bertepatan dengan Selasa Wage, 27 Mei 2025 M. Ijtimak akhir Dzul Qa’dah terjadi pada hari yang sama pukul 10:05:44 WIB. Matahari terbenam pada pukul 17:49:10 WIB, dengan hilal terlihat di atas ufuk (1° 17’ 33,7”). Hilal dinyatakan wujud. 1 Dzulhijjah 1446 H jatuh pada Rabu Kliwon, 28 Mei 2025 M. Dan Hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada Kamis Pon, 5 Juni 2025 M, dan Idul Adha (10 Dzulhijjah) jatuh pada Jumat Wage, 6 Juni 2025 M.
Ketua Umum PB Al-Khairiyah, KH. Ali Mujahidin, dalam keterangannya membenarkan bahwa penetapan awal puasa versi Al-Khairiyah jatuh pada tanggal 1 Maret 2025.
Beliau menegaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan perhitungan astronomis yang akurat.
“Ya benar. Al-Khairiyah menetapkan 1 Ramadhan terjadi pada tanggal 1 Maret 2025,” kata Ali Mujahidin, kepada Fakta Banten di Sekretariat PWI Kota Cilegon, pada Jumat (28/2/2025).
Pengumuman ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi seluruh warga Al-Khairiyah dalam menjalankan ibadah di bulan-bulan tersebut.
Selain itu, diharapkan umat Islam dapat saling menghormati perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri, serta menjaga persatuan dan toleransi dalam menjalankan ibadah.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadhan 1446 H pada 28 Februari 2025.
Sidang ini akan melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli falak, organisasi Islam, serta instansi terkait seperti BMKG dan BRIN, untuk memastikan penetapan yang akurat dan dapat menjadi acuan bagi umat Islam di Indonesia.
Perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan antara berbagai organisasi Islam di Indonesia merupakan hal yang lumrah terjadi.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan, seperti rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit) dan hisab (perhitungan astronomi). Meskipun demikian, perbedaan ini seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan sebagai bentuk keragaman dalam praktik keagamaan yang harus dihormati bersama. (*/Hery)

