Biaya Rp500 Juta Jadi Calon Ketua Kadin Cilegon Disebut Tutup Peluang Pengusaha Kecil
CILEGON – Hajat organisasi para pengusaha Kota Cilegon yang akan digelar pada 18-19 September 2024 mendatang, dengan ketentuan merogoh uang pendaftaran sebesar 500 juta bagi calon Ketua, dirasa menutup peluang pengusaha kecil yang memiliki potensi mampu memimpin Kadin Kota Cilegon ke depan.
Seyogyanya, dalam rangka mencetak calon Ketua Kadin utamanya diperlukan ide dan gagasan yang besar, mampu merubah para pengusaha lokal memiliki daya saing yang cukup kuat dibanding pengusaha luar Cilegon.
Direktur PT Alam Jaya Sari, Mahfud Hasan, pengusaha asal Kota Cilegon mengatakan, secara pribadi dirinya tidak bisa menolak keputusan adanya uang pendaftaran sebesar lima ratus juta. Mengingat, keputusan itu, merupakan keputusan internal (panitia mukota).
Kendati begitu, hal tersebut bisa menutup peluang pengusaha kecil untuk menjadi seorang pemimpin. Karena, nilai lima ratus juta bukanlah angka kecil dan bisa mengganggu cashflow keuangan pengusaha.
Semestinya sambung Mahfud, panitia penyelenggara berfikir keras, bagaimana penyelenggaraan Mukota Kadin itu, bisa menarik bagi para pengusaha Kota Cilegon untuk saling berbagi gagasan besar.
“Saya yakin, banyak pengusaha-pengusaha yang memiliki ide dan gagasan yang bagus, untuk memajukan bagaimana pengusaha Kota Cilegon bisa mandiri di tempatnya sendiri, bisa sukses di tempatnya sendiri, dan bisa berjaya di tempatnya sendiri,” ucap Mahfud, Rabu (4/9/2024).
Bukan hanya soal besaran uang pendaftaran, soal dukungan 200 perusahaan sebagai bagian syarat pencalonan Ketua Kadin, sebaiknya dihilangkan. Karena kata dia, jelas akan menimbulkan suatu bentuk yang sifatnya transaksional atau jual beli suara. Bahkan, dua ratus dukungan perusahaan terhadap calon Ketua Kadin belum tentu semua dalam keadaan aktif.
“Karena kita juga tidak pernah tahu, ada pengusaha yang sudah vacum, tapi saat ada pergelaran Mukota seperti ini, dia aktifkan kartunya. Banyak yang terjadi hal-hal seperti itu,” jelasnya.
Oleh sebab itu, Mahfud berharap, terkait dukungan dua ratus perusahaan baiknya dihilangkan saja. Dikarenakan, Kadin merupakan organisasi usaha, bukan organisasi partai. Sehingga, pada saat pengusaha dibebankan dengan biaya besar, dipastikan akan minder.
Mahfud berharap, gaya seperti itu ke depan mulai dirubah sedikit demi sedikit, agar para pengusaha Kota Cilegon juga merasa dihargai sebagai pengusaha.
Senada dengan Direktur PT Galaxy Maha Putra, Didi Iskandar, angka lima ratus juta adalah angka yang sangat memberatkan dalam kondisi hari ini di Kota Cilegon.
Karena angka itu, untuk tujuan menunjukan loyalitas dan kualitas membangun organisasi. Lantas angka sebesar itu untuk tujuan apa.
“Itu uang untuk memperkaya panitia kah, atau untuk membiayai kegiatan panitia-panitia selama Mukota ini, atau hanya untuk membendung, menutup keran demokrasi dalam regulasi kepemimpinan Kadin di Kota Cilegon,” ujarnya.
Karena itu, Didi merasa prihatin, dimana di dalamnya telah ada dua calon Ketua Kadin yang sudah mendaftar. Jikapun ini dirasa sah oleh panitia, Didi merasa, kalau itu relevansinya untuk kegiatan Mukota dan realible dengan angka yang sangat fantastis, tidak masalah. Hanya saja, jangan dijadikan sebagai alat komoditi untuk mendapatkan uang dari calon.
Seharusnya, para pelaku usaha, disamping didapatkan dari calon dengan tidak mematok uang lima ratus juta, mereka para anggota dan pengurus, bersama-sama membentuk tim untuk mendapatkan pembiayaan tersebut.
“Jangan sampai semua dibebankan kepada bakal calon. Dan ini tidak relevan dengan jiwa pengusahanya. Misal saya mendaftar jadi calon Ketua Kadin dan harus membayar dengan uang dua ratus juta, lantas panitia kerjanya apa?” sambung Didi.
Dia juga menambahkan, dalam merencanakan pelaksanaan Mukota dapat dihitung berapa besaran biaya atau estimasi untuk menutup hajat pengusaha di Kota Cilegon tersebut.
“Jangankan empat ratus, untuk seribu lima ratus peserta Mukota saja, jika digelar di The Royal Hotel Krakatau, itu akan mampu menampung peserta Mukota,” pungkasnya. (*/Wan)
