Didominasi Usia Muda, Dinkes Cilegon Catat 102 Kasus Baru Penderita HIV pada 2025
CILEGON — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, Banten mencatat sebanyak 102 kasus baru HIV sepanjang tahun 2025.
Kasus tersebut merupakan temuan baru dan tidak digabungkan dengan kasus lama maupun pasien yang telah memasuki stadium AIDS.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon, drg. Hj. Ratih Purnamasari, mengatakan pada tahun yang sama juga ditemukan sejumlah kasus yang telah berkembang menjadi AIDS, serta enam kasus kematian.
“Pada 2025 ditemukan 102 kasus baru HIV. Data ini merupakan temuan baru, tidak termasuk kasus lama maupun kategori AIDS,” ujarnya, dalam keterangan resminya, Jum’at (3/4/2026).
Memasuki 2026, hingga Februari tercatat 16 kasus baru HIV. Dari jumlah tersebut, delapan kasus berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), satu kasus dari pelanggan pekerja seks, satu kasus dari pasangan orang dengan HIV dalam hubungan suami-istri, serta dua kasus dari populasi umum yang tidak teridentifikasi faktor risikonya.
Selain itu, terdapat satu kasus HIV dengan komplikasi tuberkulosis (TBC) dan tiga kasus yang telah memasuki tahap AIDS disertai infeksi menular seksual (IMS).
Sementara itu, tidak ditemukan kasus dari ibu hamil, waria, pengguna narkoba suntik, maupun warga binaan pemasyarakatan.
Ratih menjelaskan, HIV dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga penderitanya rentan terhadap infeksi lain.
“Penderita HIV sangat rentan terhadap infeksi oportunistik seperti TBC karena sistem kekebalan tubuhnya menurun,” katanya.
Secara kumulatif, sejak pencatatan dimulai pada 2005 hingga Februari 2026, total kasus HIV/AIDS di Kota Cilegon mencapai 1.484 kasus.
Rinciannya, sebanyak 1.060 kasus terjadi pada laki-laki dan 424 kasus pada perempuan.
Kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia 20–49 tahun atau usia produktif.
Meski demikian, kasus juga ditemukan pada anak-anak akibat penularan dari ibu ke anak.
Dalam upaya pencegahan dan penanganan, Dinkes Cilegon telah melakukan berbagai langkah, di antaranya pemeriksaan Mobile Voluntary Counseling and Testing (VCT) ke kelompok berisiko, sosialisasi di masyarakat, sekolah, dan perusahaan, serta program skrining ibu hamil untuk HIV, sifilis, dan hepatitis.
Selain itu, kampanye Hari AIDS Sedunia setiap 1 Desember dan pendekatan berbasis komunitas juga terus dilakukan guna meningkatkan kesadaran masyarakat.
Ratih menegaskan bahwa penularan HIV sangat berkaitan dengan perilaku berisiko, seperti hubungan seksual tanpa pengaman, berganti-ganti pasangan, serta penggunaan narkoba suntik.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menghindari perilaku berisiko, menggunakan alat pelindung saat berhubungan seksual, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin,” katanya.
Ia menambahkan, pencegahan HIV membutuhkan peran bersama, tidak hanya pemerintah, tetapi juga keluarga, sekolah, dan masyarakat.
“Edukasi sejak dini sangat penting, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun melalui pendekatan keagamaan dan moral,” ujarnya.***


