Kadis DPK Cilegon Sebut Tingkat Gemar Baca Masyarakat Tergolong Rendah

CILEGON – Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Cilegon, Ismatullah, mengungkapkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat di Kota Cilegon masih tergolong rendah berdasarkan hasil survei internal yang dilakukan oleh pihaknya.
“Masyarakat Cilegon ini, berdasarkan hasil survei, tingkat kegemaran membacanya baru mencapai 65 persen. Artinya, dari total jumlah penduduk sekitar 470 ribu jiwa, hanya sekitar 300 ribu orang yang memiliki kebiasaan membaca. Sisanya masih tergolong malas membaca,” kata Ismatullah di Cilegon, Minggu (18/5/2025).
Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya tengah mengupayakan pembangunan perpustakaan yang lebih representatif dan menarik minat masyarakat agar lebih gemar membaca.
“Upaya lainnya, kami sedang melakukan pembangunan perpustakaan yang lebih representatif, sehingga bisa diminati oleh masyarakat,” jelasnya.
Ismatullah juga menekankan pentingnya kehadiran perpustakaan di berbagai tempat, termasuk di lingkungan industri, organisasi perangkat daerah (OPD), hingga fasilitas publik seperti warung atau halte.
“Industri harus memiliki perpustakaan, OPD juga harus punya. Bila perlu, warung dan halte pun harus dilengkapi dengan buku. Seperti di Taman Kopasus, haltenya sudah ada koleksi bukunya. Soal dibaca atau tidak, itu urusan belakang. Tapi pojok literasi harus terus diperbanyak sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini Pemerintah Kota Cilegon tengah melakukan pembenahan di kantor Walikota dan gedung DPRD untuk menyediakan pojok literasi.
Hal ini bertujuan agar masyarakat yang tengah menunggu tamu atau urusan lainnya bisa membaca dan meningkatkan literasi.
“Makanya kantor wali kota dan gedung dewan sekarang sedang dibenahi untuk membuat pojok literasi, supaya saat menunggu tamu bisa baca-baca walau hanya selembar,” katanya.
Menurut dia, dari hasil survei yang dilakukan DPK Cilegon, baru beberapa perusahaan yang menyediakan perpustakaan atau pojok literasi, khususnya dari sektor perbankan.
“Kalau perusahaan yang sudah kami survei, rata-rata yang menyediakan perpustakaan itu dari kalangan perbankan. Salah satunya adalah Bank Jabar yang sudah punya pojok literasi,” ungkap Ismatullah.
Ia menegaskan bahwa upaya peningkatan literasi masih menjadi proses perjuangan panjang yang terus dilakukan, salah satunya dengan mendorong perusahaan dan industri untuk menyediakan pojok literasi bagi karyawannya.
“Ini menunjukkan bahwa kita masih dalam proses berjuang, dan salah satu langkah nyatanya adalah membangun pojok literasi di industri dan perusahaan agar budaya membaca di masyarakat bisa semakin berkembang,” pungkasnya.(*/Nandi)


