Kritik Pernyataan Kabid DLH Cilegon Yang Buat Gaduh, Tokoh Masyarakat Desak Aktivitas Galian di Gerem Dihentikan
CILEGON – Sejumlah tokoh masyarakat bersama warga Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, mendesak agar aktivitas pertambangan galian batu di wilayah tersebut segera dihentikan secara permanen.
Desakan itu muncul menyusul dampak lingkungan yang dirasakan warga, mulai dari air bersih yang menjadi keruh, kerusakan kawasan permukiman, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi banjir dan longsor akibat aktivitas pertambangan yang dinilai tidak tertata.
Selain menyoroti aktivitas galian, tokoh masyarakat juga mengkritik pernyataan Kepala Bidang Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Andhi Rana.
Pernyataannya dinilai tidak sesuai dengan kondisi faktual di lapangan dan justru memicu kegaduhan karena dianggap berpihak kepada pengusaha tambang.
Salah satu tokoh masyarakat Kelurahan Gerem, Nikmatullah, menegaskan bahwa penambangan harus dihentikan tanpa pengecualian, terlepas dari ada atau tidaknya izin.
“Intinya, mau berizin atau tidak, aktivitas penambangan harus dihentikan selamanya karena dampaknya langsung merusak lingkungan,” ujar Nikmatullah, Kamis (8/1/2025).
Ia juga menyebut sejumlah warga terdampak dijanjikan penyelesaian perataan, namun hingga kini kondisi lahan justru rusak parah.
Bahkan, pemilik tanah yang terdampak turut melayangkan tuntutan.

Nikmatullah mengaku dirinya juga menjadi korban langsung. Ia membantah pernyataan Kabid DLH yang menyebut lokasi galian jauh dari rumahnya.
“Faktanya, galian itu berada di samping rumah saya. Saat hujan, air bercampur tanah merah mengalir sampai ke teras rumah,” katanya.
Menurutnya, air di rumahnya juga sempat tercemar dan telah diperiksa oleh tim DLH Kota Cilegon, yang menduga pencemaran tersebut berasal dari rembesan aktivitas galian.
Warga pun meminta pihak pengelola galian bertanggung jawab penuh atas dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Mereka juga mendesak dilakukan evaluasi menyeluruh serta pemulihan kawasan, termasuk penanaman kembali pohon dan penataan lingkungan.
“Wilayah Gerem sebelumnya asri. Sekarang rusak. Kami ingin lingkungan kami diperbaiki,” pungkas Nikmatullah.
Hal senada disampaikan Ketua RT 01 RW 04 Kelurahan Gerem, Sukia. Ia menyebut warga semakin khawatir dengan kondisi lingkungan sekitar.
“Air sekarang keruh, lumpur menumpuk, dan kami khawatir tanah itu jebol sehingga berdampak ke masyarakat,” ujarnya.
Sukia menegaskan, dirinya bersama warga secara tegas menolak aktivitas pertambangan tersebut dan mendesak pihak tambang serta pemerintah untuk bertindak.
“Saya sebagai RT dan warga tidak pernah memberikan izin adanya tambang di lokasi itu,” tegasnya.***


