Melewati Senja Berselimut Dingin Dieng, Perjalanan Pulang Rombongan Wartawan Cilegon dari Kota Solo
WONOSOBO – Senja menua di ufuk barat ketika deretan puncak gunung di Dataran Tinggi Dieng perlahan diselimuti kabut dan gelap.
Udara dingin merayap masuk dari celah kaca jendela mobil, menandakan bahwa rombongan sudah benar-benar berada di ketinggian.
Sesalnya, pemandangan pegunungan yang tersisa sebelum surya tenggelam gagal dinikmati dengan santai oleh kami di momen itu.
Suara decitan roda akibat bergesekan dengan aspal hitam terdengar nyaring, berpadu dengan desis angin yang menyusuri lembah.
Jalan menurun yang tajam dan berliku di kawasan Gunung Prau dan Sikunir menambah sensasi perjalanan, seolah mengingatkan bahwa setiap meter tanah Dieng menyimpan cerita.
Sekali lagi sayang, kita melewati cerita indah sore itu dengan segala keindahan bentangan alamnya.
Mulai dari Pukul 16.30 wib hingga 17.50 wib, kita melewati begitu saja karena banyaknya perdebatan di rombongan apakah perjalanan harus terhenti, atau memburu waktu untuk segera menuntaskan perjalanan pulang dengan segera.
Setelah mega merah senja mulai menghilang, akhirnya perjalanan panjang dari Solo menuju Banten pun dipaksakan terhenti sejenak.
Alam Dieng, dengan pesona dinginnya yang memanggil, memaksa setiap mata untuk berhenti dan menyapa.
Panggilan alam ini tak sanggup lagi kita menahannya, dan pura-pura tidak ingin memeluknya.
Udara sejuk yang menggigit, jalur berliku di antara tebing dan jurang, serta tanjakan yang menantang menjadi pengalaman berharga bagi kami rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Cilegon, Banten.
Kami baru saja kembali dari acara pengukuhan Pengurus PWI Pusat di Kota Solo, Minggu (5/10/2025) malam.
Anggota PWI Kota Cilegon, Badia Sinaga, menyampaikan bahwa di balik kesibukannya sebagai seorang jurnalis, keindahan alam selalu senantiasa menggodanya untuk berhenti beraktivitas guna sekedar menikmati ciptaan yang kuasa.
“Perjalanan ini seperti pengingat bahwa di balik padatnya rutinitas, alam selalu punya cara untuk mengajak kita berhenti sejenak dan bersyukur. Dieng bukan sekadar tempat singgah, tapi ruang refleksi,” katanya, di sela perjalanan.

Meski singkat, dataran tinggi Dieng di Kabupaten Wonosobo menjadi catatan manis dalam perjalanan pulang itu.
Rasa penasaran yang sejak lama tumbuh tentang “negeri di atas awan” akhirnya menemukan jawabannya indah, damai, dan penuh kejutan.
Meski hanya berniat melintas, panorama Dieng seperti memiliki daya magis yang menahan langkah.
Senja keemasan menggantung di cakrawala, menerangi petak-petak ladang kentang dan kebun carica, sementara deretan penginapan dan rumah penduduk menambah hangat suasana desa di atas gunung.
Rombongan pun memutuskan menepi sejenak. Di tengah kesejukan udara yang menusuk tulang, mereka berhenti untuk beristirahat sekaligus menunaikan salat Maghrib di Masjid Al-Fattah Wonosobo, yang berdiri anggun di kawasan Dieng.
Air wudhu yang dingin seperti es menghadirkan sensasi tersendiri menenangkan sekaligus menyegarkan kerumitan alam fikir.
Dalam keheningan itu, angin yang melintasi pegunungan berpadu dengan khusyuknya doa, menciptakan suasana spiritual yang menenangkan hati.
Tak berhenti di situ, kamera pun segera beraksi. Landmark “Welcome to Dieng Wonosobo” dan Titik Nol Dieng menjadi saksi keceriaan rombongan.
Tawa, canda, dan kekaguman berpadu dalam satu bingkai kebersamaan, seolah perjalanan singkat itu menjadi bonus setelah agenda resmi di Solo.
Ketua PWI Kota Cilegon, Ahmad Fauzi Chan, atau yang akrab disapa Ichan, menyebut keindahan hadir dari hal yang tidak terencana sama sekali.
“Bagi kami, perjalanan ini bukan sekadar lintasan geografis, tapi juga perjalanan batin. Dieng memberi kesejukan yang tidak hanya terasa di kulit, tapi juga di hati. Di sini kami belajar bahwa keindahan dan ketenangan bisa hadir dalam kesederhanaan,” katanya.
Setiap sudut Dieng seperti memanggil untuk diabadikan oleh semua indera raga — dari kabut tipis yang menari di udara hingga lampu-lampu kecil di kejauhan yang menandai kehidupan.
Dieng memang tersohor sebagai permata wisata Pulau Jawa. Telaga Warna dengan gradasi warnanya yang mistis, Kawah Sikidang dengan kepulan belerangnya yang terus menari, hingga Bukit Sikunir yang masyhur dengan panorama matahari terbitnya, semuanya menjadi daya tarik yang sulit dilupakan.
Belum lagi Candi Arjuna, peninggalan sejarah abad ke-8 yang menjadi saksi peradaban Hindu di tanah Jawa, serta Dieng Culture Festival yang setiap tahun menghadirkan perpaduan budaya, musik, dan ritual pemotongan rambut gimbal anak Dieng simbol kesucian dan harapan.
Singgah di Dieng memang hanya sejenak, namun kenangannya terasa panjang. Ada kedamaian yang tak dijelaskan kata-kata, ada keteduhan yang menembus kulit dan hati.
Begitulah Dieng dataran tinggi yang bukan hanya menghadirkan pemandangan memesona, tetapi juga menyuguhkan pengalaman spiritual, kehangatan persahabatan, dan ketenangan jiwa bagi siapa pun yang melintasinya. (*/Nandi)


