Peringatan Seabad Al-Khairiyah, Haji Mumu Soroti Ketimpangan Perlakuan Pendidikan Swasta dan Negeri
CILEGON – Peringatan 100 tahun berdirinya Organisasi Al-Khairiyah berlangsung khidmat dan sederhana, dipusatkan di Gedung Serbaguna Al-Khiriyah, Cilegon, Senin (05/05/2025).
Momentum peringatan seabad ini menjadi refleksi perjuangan Al-Khairiyah dalam dunia pendidikan dan dakwah di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum Al-Khairiyah, H. Ali Mujahidin yang akrab disapa H. Mumu, menyampaikan pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan swasta, khususnya dalam hal perlakuan yang tidak setara dibandingkan dengan lembaga pendidikan negeri.
“Kita tidak ingin menyalahkan pemerintah, tapi ingin memberikan masukan, bahwa semua yang menyelenggarakan pendidikan harus diperlakukan sama,” ujar H. Mumu.
Ia mencontohkan kebijakan pemerintah yang mewajibkan perguruan tinggi dipimpin oleh lulusan S3, yang menjadi beban tersendiri bagi lembaga pendidikan swasta yang tidak mendapat dukungan anggaran untuk menggaji para tenaga pendidiknya dari negara.

“Pendidikan punya pemerintah digaji negara, tapi untuk swasta kami hanya mengandalkan dari iuran siswa saja,” tambahnya.
Lebih lanjut, H. Mumu mengungkapkan dilema yang dihadapi Al-Khairiyah. Di satu sisi, mereka diamanahi untuk tidak membebani peserta didik dengan pungutan yang memberatkan.
Namun di sisi lain, mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk menggaji para tenaga pendidik dan pengelola.
“Walaupun kita tahu para tenaga pendidik di Al-Khairiyah itu semuanya ibadah, tapi kita juga harus memperhatikan kesejahteraan mereka,” katanya,
Untuk itu, H. Mumu berkomitmen untuk menjadikan Al-Khairiyah agar terus berkembang secara profesional tanpa meninggalkan akar tradisi dan nilai perjuangan.
“Al-Khairiyah harus menjadi organisasi modern tanpa menghilangkan identitas jati dirinya,” ungkapnya. (*/Ika)

