Pungutan Uang Gedung SMAN 5 Cilegon Banyak Dikeluhkan, Walimurid Harap Ditiadakan

CILEGON – Keluhan terkait uang gedung di SMA Negeri 5 Cilegon semakin luas seluruh walimurid yang anaknya bersekolah SMA Negeri 5 itu rata-rata merasa keberatan dan berharap pihak sekolah untuk menarik kebijakan tersebut dan menghapus kebijakan itu.

“Saya selaku walimurid berharap pihak sekolah untuk tidak meneruskan kebijakan agar para walimurid membayar uang gedung sebesar Rp2 juta dan berharap pihak sekolah menghapus kebijakan dan meniadakan uang gedung dengan dalih membangun ruang kelas dam membangun Wc,” ujar Walimurid yang enggan disebutkan namanya, Minggu (29/8/2021).

Soal uang gedung yang diberatkan oleh para walimurid itu lanjutnya memang tidak di sosialisasian terlebih dahulu oleh pihak sekolah melainkan para orang tua dipanggil satu persatu dan disuruh untuk menanda tangani surat kesepakatan yang isinya kesanggupan membayar uang gedung sebesar Rp2 juta/siswa.

“Saya juga sempet mempertanyakan soal itu, ketika saya dipanggil dan bertemu dengan guru walikelas. Kok ada pak uang gedung di sekolah ini, lalu guru itu menerangkan bahwa uang gedung itu untuk pembangunan ruang kelas dan pembangunan Wc yang belum rampung,” katanya.

“Yang rada aneh pak, ketika saya akan meminta surat permohonan itu agar diketahui suami. Pihak sekolah tidak memberikan bahkan ketika saya meminta akan memoto surat dengan handphone pihak sekolah juga tidak memberbolehkan disitu saya menjadi bertanya – tanya ada apa ini?. Bahkan guru yang bersangkutan menerangkan bahwa semua walimurid semua sama memberikan kesanggupan infaknya kepada pihak sekolah dengan besaranya Rp2 juta,” imbuhnya.

Hal senada juga diungkapkan walimurid lainya. Ia juga mengeluhkan pungutan uang gedung yang dilakukan oleh pihak sekolah.

“Seharusnya pihak sekolah harus ngerti dengan kondisi saat ini yang mana di pandemi covid – 19 ini perekonomian saya terpuruk. Suami saya saat ini tidak bekerja. Boro-boro untuk menyicil untuk biaya hidup sehari-hari saja saya kewalahan. Semoga pihak sekolah mendengar jeritan para walimurid sehingga kebijakan itu di tarik dan tidak ada lagi infak dengan dalih pembangunan ruang kelas dan pembangunan Wc,” katanya.

Ketika Fakta Banten mengkonfirmasi dengan salah satu guru di SMA Negeri 5, Mahdi banyaknya soal keluhan itu ia tidak menjawab dan menyarankan besok aja bertemu di sekolah soal itu.

“Owh, besok dateng aja ke sekolah sekitar jam 9 pagi,” katanya. (*/Red)

Demokrat
Royal Juli