PWI Cilegon Bertolak ke Solo Sempatkan Mampir di Tegal, Nikmati Ponggol Setan dan Sejarahnya di Tengah Malam

 

CILEGON – Dalam perjalanan menuju Solo untuk menghadiri pengukuhan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat masa bakti 2025–2030, Pengurus PWI Kota Cilegon menyempatkan diri singgah di warung legendaris Ponggol Setan Ibu Kusniroh.

Lokasinya di Jalan Kemuning, Kota Tegal, Jawa Tengah.

Persinggahan itu bukan sekadar memenuhi rasa lapar, melainkan juga menjawab rasa penasaran akan popularitas kuliner khas Tegal yang sarat sejarah.

Rombongan PWI Cilegon menyempatkan keluar ruas tol Tegal pada tengah malam, hanya untuk mampir ke warung tersebut sekitar pukul 01.30 dinihari.

Ketua PWI Kota Cilegon, Ahmad Fauzi Chan, mengungkapkan bahwa momentum singgah ini menjadi pengalaman yang amat berharga.

“Kuliner ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga jejak budaya dan kisah panjang masyarakat yang melahirkannya,” kata Kang Ichan, sapaan akrabnya.

Menurut informasi di lokasi, warung Ponggol Setan Ibu Kusniroh telah berdiri sejak tahun 2000 dan bertahan hingga kini.

Keberadaannya kian memperkaya ragam kuliner khas Tegal yang memang dikenal menyimpan nilai sejarah dan cita rasa unik.

Salah satu sajian ikoniknya adalah Sega Ponggol atau Nasi Ponggol, hidangan berupa nasi yang dipadukan dengan sambal tempe, dibungkus daun pisang.

Sajian sederhana ini ternyata lahir dari perjuangan rakyat Tegal pada masa kolonial.

Kala itu sejarah menunjukan, Tegal yang menjadi pusat perdagangan pesisir turut menjadi tempat persinggahan para pedagang dan nelayan.

Nasi ponggol dipilih sebagai bekal praktis bagi pekerja perkebunan tebu, dibagi rata dalam pincukan sebagai simbol keadilan oleh mandor kebun.

Hidangan ini juga menjadi santapan sarapan para petani bawang sebelum turun ke sawah.

Kini, nasi ponggol berkembang dalam ragam penyajian. Tidak hanya berisi nasi dan sambal goreng tempe, tetapi juga dilengkapi bihun goreng, oseng sayur, ayam, telur, hingga aneka gorengan. Menu ini lazim dijajakan pada pagi hari di hampir setiap sudut kampung di Tegal.

“Sejarah sering kali tersimpan dalam hal-hal sederhana, bahkan dalam sepincuk nasi yang diwariskan lintas generasi,” ujar Kang Ichan.

Warisan kuliner seperti ponggol bukan sekadar hidangan, melainkan juga cermin kearifan lokal yang terus hidup dalam keseharian masyarakat Tegal. (*/Nandi)

Karang Taruna Gerem
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien