SIS Cilegon Tambah Fasilitas Baru untuk Jenjang Pendidikan SMP, 5 Core Values Jadi Andalan
CILEGON – Kehadiran Singapore Intercultural School (SIS) Cilegon semakin memperkuat posisi Kota Baja sebagai salah satu pusat pendidikan bertaraf internasional.
Melalui pembangunan fasilitas baru khusus untuk tingkat secondary atau jenjang SMP, sekolah ini menegaskan komitmennya dalam menghadirkan layanan pendidikan yang modern, inklusif, serta berbasis nilai karakter yang kuat.
Kepala Sekolah SIS Cilegon, Eka Fidyanti Haryana, mengungkapkan bahwa gedung baru tersebut dibangun untuk menambah ruang belajar sekaligus menyediakan fasilitas pendukung yang lebih lengkap bagi siswa secondary.
Menurutnya, kebutuhan ruang kelas dan penunjang belajar menjadi salah satu perhatian utama agar proses pembelajaran berjalan optimal.
“Gedung baru itu di atas ada 13 ruangan, itu ada untuk secondary 1, kemudian ada ruangan music, supporting area lainnya termasuk lab,” ujarnya, Rabu (24/9/2025).
Tak hanya menambah ruang kelas, fasilitas baru ini juga memberi perhatian besar pada laboratorium.
Eka menyebut bahwa pembagian ruang laboratorium secara spesifik diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar sains siswa.
“Untuk gedung baru ini kita akan fokus ke science labnya, kita punya 3 science lab saat ini yang dipisahkan, lab kimia, fisika dan biologi,” terangnya.
Lebih jauh, Eka menegaskan bahwa SIS Cilegon tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan konsep pembelajaran inklusif.
Setiap anak, menurutnya, memiliki kecepatan dan cara belajar yang berbeda, sehingga sekolah menerapkan pendekatan yang menyesuaikan dengan potensi masing-masing siswa.
“Prinsip inklusif, karena kami percaya di SIS Cilegon ini ada personalize learning dimana setiap anak itu memiliki skill, kemampuan, kecepatan yang berbeda-beda, kami masukan perencanaannya terhadap inklusifisme tersebut,” kata Eka.
Ia menjelaskan, pendidikan di SIS Cilegon ditopang oleh lima nilai inti yang diterapkan di seluruh sekolah SIS di dunia.
Nilai tersebut bukan hanya slogan, tetapi diintegrasikan ke dalam setiap proses belajar agar peserta didik terbentuk sebagai pribadi yang berkarakter.
“Kami memiliki 5 core values untuk SIS tidak hanya di Cilegon, itu kami Respect, Integrity, Innovation, Perseverance, and Collaboration,” jelasnya.
Nilai-nilai ini, lanjut Eka, sejak dini dipraktikkan oleh siswa baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, mereka tumbuh percaya diri sekaligus memiliki sikap yang menghargai orang lain.
“Itu mereka respect sejak dini, kemudian mereka memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada dalam diri mereka,” tambahnya.
Selain itu, Eka juga menekankan pentingnya kolaborasi dan penghargaan terhadap keberagaman. Latar belakang siswa yang berasal dari berbagai budaya menjadi salah satu kekuatan yang menambah dinamika pembelajaran di SIS Cilegon.
“Itu lebih ke collaboration, jadi kebhinekaan itu tetap harus ditingkatkan, karena kan datang dari muticultural background, jadi kebhinekaan itu sangat kami unggulkan di sini,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Cilegon, Robinsar, menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi SIS dalam menghadirkan pendidikan bertaraf internasional di daerahnya.
Ia menilai keberadaan sekolah ini sejalan dengan visi pemerintah kota dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Kami berterimakasih kepada SIS yang sudah berfokus dalam peningkatan SDM dan pendidikan di Kota Cilegon,” ungkapnya.
Menurut Robinsar, Cilegon sebagai kota industri multinasional dengan banyak pekerja asing membutuhkan lembaga pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lokal maupun ekspatriat.
“Dan yang kita ketahui juga kota Cilegon ini kota industri multinasional, banyak ekspatriat baik dari Korea, India, China, Jepang memang perlu difasilitasi untuk pendidikan putra-putrinya,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan SIS Cilegon bukan hanya memberikan manfaat bagi warga lokal, tetapi juga menjadi daya tarik bagi keluarga ekspatriat agar betah tinggal di Cilegon.
“Ini jadi sarana pendukung agar mereka bisa tinggal, stay di Kota Cilegon,” katanya.
Lebih jauh, Robinsar optimistis SIS Cilegon mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga berdaya saing di tingkat global.
Menurutnya, kombinasi kurikulum internasional dengan penguatan budaya lokal adalah modal besar bagi para siswa.
“Dengan kurikulum yang internasional tapi juga tidak meninggalkan budaya, saya yakin SIS bisa mencetak putra-putri Cilegon yang unggul,” pungkasnya. (*/ARAS)


