Ular Piton Muncul Pasca Banjir di Ramanuju Cilegon, Lurah Benarkan Sempat Ditangkap Lalu Lepas

CILEGON– Lingkungan Sumampir RT 01 RW 01 Kelurahan Ramanuju, Kecamatan Purwakarta kembali banjir tadi malam dan terkait isu keberadaan ular piton yang keluar ke permukiman warga di Kelurahan Ramanuju dibenarkan oleh pihak kelurahan.
“Ular tersebut diketahui muncul pascabanjir yang terjadi sekitar sepekan lalu, bertepatan dengan kunjungan Walikota Cilegon ke lokasi terdampak banjir,” kata Lurah Ramanuju Euis Susanti saat dikonfirmasi, Rabu, (31/12/2025)
Ia pun menjelaskan, ular piton itu sempat ditangkap oleh warga, namun kemudian lepas dan hingga kini belum diketahui keberadaannya.
“Iya, jadi waktu itu seminggu yang lalu, pas dikunjungi sama Pak Walikota juga kan, memang ada ular yang ditangkap sama warga, nah sekarang lepas lagi, itu juga infonya dari warga bilang “Bu awas ular yang ditangkap lepas lagi,” lanjut dia.
“Waduh saya kaget dong, lepas kemana juga nggak tahu,” ungkap Euis.
Menurutnya, ular piton tersebut bukan hewan peliharaan warga, melainkan hasil tangkapan akibat banjir yang sebelumnya melanda kawasan tersebut.
“Bukan punya warga. Itu memang hasil tangkapan bekas banjir seminggu yang lalu. Mungkin karena lapar atau kondisi alamnya,” akunya.
Ia juga menambahkan, warga RT 01 yang menangkap ular tersebut bukan pemilik, melainkan hanya mengamankan ular yang muncul di lingkungan mereka.
“Yang nangkap itu warga RT 01, tapi dia bukan pemilik. Karena itu memang hasil tangkapan dari dampak banjir,” tambah Euis.
Banjir yang terjadi saat itu diketahui merendam permukiman warga hingga air masuk ke dalam rumah.

“Kalau banjir semalam nggak separah minggu lalu. Airnya paling di atas mata kaki, tapi memang sempat masuk ke rumah-rumah warga,” ujarnya
Di sisi lain, ia juga menyebutkan, banjir diduga dipicu oleh aliran sungai dari arah kawasan forest yang masuk ke wilayah permukiman. Selain itu, terdapat indikasi rembesan air dari lantai dan sisi bangunan.
“Memang ada aliran sungai dari arah forest masuk ke wilayah kami. Ada juga air yang keluar dari lantai keramik. Kalau soal rembesan samping, waktu Pak Wali sidak juga belum ditemukan pastinya” tuturnya.
Euis pun menduga, salah satu penyebab banjir adalah sistem drainase yang sudah tertutup oleh pembangunan perumahan di sekitar lokasi.
“Ini juga jadi pertanyaan, apakah saluran-saluran air yang lama itu tertutup perumahan atau bagaimana,” ucapnya.
Sebagai tindak lanjut kata Euis, Pemkot Cilegon melalui Dinas terkait telah menggelar rapat pascakejadian dan menyiapkan langkah penanganan.
“Setelah apel itu langsung rapat. Karena ini permukiman padat dan alat berat nggak bisa masuk, kata Pak Kadis PU kemungkinan akan dibuat biopori di RT 01,” jelasnya.
Selain biopori kata Euis, ke depan juga direncanakan adanya penanganan sedimen di aliran sungai.
“Ke depan mungkin juga ada pengurukan sedimen kali,” imbuhnya.
Diketahui, wilayah terdampak banjir berada di kawasan perbatasan tiga kelurahan, yakni Ramanuju, Masigit, dan Kebon Dalem.
“Kalau dibilang satu kawasan itu sebenarnya tiga kelurahan. Sebagian masuk Ramanuju, sebagian Masigit, dan sebagian Kebon Dalem. Tapi yang paling terdampak itu Ramanuju dan Masigit karena memang berdekatan,” tutup Euis. (*/Ali)

