Untuk Bertahan Hidup, Ini Kisah Pilu Ibu Gendong Anak Mengamen di Lampu Merah Samping Pemkot Cilegon
CILEGON – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Kota Cilegon, pemandangan memilukan terlihat setiap hari di lampu merah depan Gedung Pemerintah Kota Cilegon.
Annisa (30), warga Kelurahan Ramanuju, Kota Cilegon, harus menggendong anaknya yang masih berusia empat tahun sambil mengamen untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup.
Di bawah terik matahari dan deru kendaraan, Annisa berjalan menghampiri pengendara dengan membawa satu buah salon kecil bermusik religi shalawatan, berharap uluran tangan.
Penghasilan yang diperoleh tidak menentu, bahkan sering kali hanya cukup untuk membeli makan dan susu anaknya.
“Selama setahun saya ngamen di lampu merah ini. Kalau ditanya mau kerja, ya pengen sekali. Tapi makin bingung, yang penting jalanin saja hidup ini. Mau nyerah pun buat apa, ngeluh juga tidak ada gunanya,” kata Annisa dengan suara sedih saat ditemui, Sabtu (23/8/2025).
Ia menuturkan, biaya hidup semakin menjerat. Kontrakan tempat tinggalnya kerap menunggak, sementara kebutuhan anak tak bisa ditunda.
“Kadang saya sampai harus ngutang bayar kontrakan. Susu anak pun kadang tidak kebeli. Bantuan dari pemerintah juga belum pernah saya terima,” ujarnya.
Annisa tak sendiri. Suaminya asli Kota Cilegon pun ikut mengamen di jalanan, sementara dua keponakannya juga melakukan hal serupa untuk biaya sekolah.
“Ponakan saya ada yang kelas empat SD, ada yang kelas tiga. Mereka ngamen buat sekolah, saya buat kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Harapan sederhana ia titipkan kepada pemerintah adanya bantuan pangan maupun tempat tinggal yang layak.
“Kalau bisa ada bantuan bahan pokok atau kontrakan, agar hidup kami tidak sesulit ini,” harapnya.
Kisah itu menunjukkan bahwa kemiskinan ekstrem di Cilegon bukan sekadar data, melainkan kenyataan pahit yang dihadapi ribuan keluarga.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon, tercatat sedikitnya 6.800 warga masih masuk kategori sangat miskin.
Lantas, di usia ke-80 tahun Republik Indonesia, kemerdekaan bagi sebagian rakyat tampak masih jauh dari genggaman.
Bagi Annisa dan ribuan warga miskin lainnya, merdeka bukan sekadar simbol, melainkan perjuangan nyata agar bisa bertahan hidup dari hari ke hari.(*/Nandi).

