Iklan Banner

Dispora Banten Ungkap Penyebab Meninggalnya Atlet Tinju Asal SMAN 3 Kota Serang

DPRD Kab Serang HPN

 

SERANG – Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Provinsi Banten, Ahmad Syaukani, buka suara soal meninggalnya salah satu atlet Cabor Tinju Alexandria Warman.

Ia membantah sejumlah kabar meninggalnya almarhumah imbas latihan yang keras, konsumsi berlebihan obat-obatan tertentu maupun tekanan menjelang kejuaraan.

“Untuk obat-obatan, saya tidak melihat, mendengar atlet yang bersangkutan mengonsumsi obat apa pun. Saya tidak tahu soal itu. Semua atlet yang menggunakan obat apa pun harus dengan rekomendasi dokter,” ujarnya, Selasa (21/10/2025).

Ia mengungkapkan bahwa prosedur di asrama Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Banten, para atlet harus memberitahukan terlebih dahulu apabila memang mengkonsumsi obat-obatan.

Para atlet juga, jelasnya, disediakan fasilitas dokter untuk melayani konsultasi sekaligus pengobatan apabila mereka mengalami sakit ataupun cidera saat latihan.

“Kami sudah memfasilitasi dokter yang melayani secara berkala maupun on call,” jelasnya.

Terkait tekanan, Syaukani menjelaskan, atlet asal SMAN 3 Kota Serang saat itu tak dipilih untuk maju kejuaraan nasional seperti Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS).

Pada hari Kamis, (9/10) lalu, kata dia, pelatih tak memilih Alexa untuk mengikuti POPNAS karena ada beberapa syarat yang tak dipenuhi oleh almarhumah.

Maka alasan tekanan yang menjadi salah satu faktor Alexa mengkonsumsi obat-obatan berlebihan karena ingin lolos POPNAS, hal ini tidaklah sesuai.

Adapun untuk kejadian detik-detik meninggalnya Alexa, ia membenarkan bahwa saat itu Jumat malam (17/10), dilakukan penanganan awal.

HPN Dinkes Prokopim

Ia juga membantah bahwa tak lengkapnya fasilitas PPLP Banten menyebabkan sulitnya almarhumah tertolong.

Hal ini karena sejumlah fasilitas seperti tabung oksigen terletak berbeda dengan asrama para atlet.

“Kondisi asrama dan kantor UPT itu berbeda, alat-alat pertolongan pertama adanya di kantor, bukan di asrama,” kata dia.

“Karena situasi malam hari dan untuk mempercepat penanganan, usai dilakukan CPR, atlet (Alexa) langsung dibawa ke rumah sakit yang letaknya di seberang PPLP,” sambungnya.

Di tempat yang sama, Dokter di PPLP Banten, dr. Diden M. Albar, menjelaskan kondisi kesehatan almarhumah Alexandria Warman sebelum meninggal dunia.

Dari pemeriksaan terakhir, kondisi fisik Alexa dalam keadaan bugar, tak ada masalah, normal seperti biasanya.

“Saya melakukan pemeriksaan fisik dan tes seperti biasanya, hasilnya Alexa dalam keadaan sehat,” katanya.

Terkait kematian Alexa, pria berkacamata itu mengungkapkan bahwa RS Fatimah mendiagnosisnya sebagai kematian saat tiba di rumah sakit atau unit gawat darurat alias Dead On Arrival (DOA).

“Meninggal pada saat kedatangan, pihak rumah sakit pun tidak bisa memastikan itu, karena kondisi saat itu sudah tidak ada yang bisa diselamatkan, pemeriksaan lab sudah gak bisa, pemeriksaan rekam jantung pun hasilnya pastinya flat, tidak ada,” jelasnya.

Sebelum meninggal, Ayah Almarhumah, Jeli Warman mengaku anaknya sempat menghubunginya mengabarkan bahwa putrinya ingin pulang dijemput sang bunda.

“Dia memberitahukan kalau dia besok pengen pulang, yah aku besok mau pulang, cuma minta tolong dijemput sama Bunda,” ujarnya menirukan suara terakhir sang putri.

Jeli mengaku ikhlas atas kepergian putrinya dan meminta kepada semua pihak untuk mendoakan Alexa agar bisa di tempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. (*/Ajo)

HUT Fakta PT PCM
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien