Profil Ketua MUI Banten KH Hamdi Ma’ani yang Wafat di Jeddah, Punya Nasab Mulia

Lazisku

PANDEGLANG – Kabar duka datang dari Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten KH Hamdi Ma’ani Rusydi. Ulama kharismatik ini wafat di Jeddah, Saudi Arabia saat hendak menunaikan ibadah haji, pada Jumat, (7/6/2024).

Berikut profil KH Hamdi Ma’ani Rusydi yang tulis Wakil Ketua PW GP Ansor Banten sekaligus Ketua PW Rijalul Ansor Banten Hamdan Suhaemi dalam pesan yang beredar.

Riwayat Lahir

Tubagus Hamdi, nama pemberian ayahnya yakni KH. Tb. Ma’ani Rusdi yang lahir 14 September 1964 di Kananga Menes Pandeglang dari ibu Hj. Endah Humaedah yang sebelumnya telah melahirkan putera sulungnya yaitu Tubagus Zidni.

Sejak lahir hingga masa kecilnya, kehidupannya ada di Kananga bersama orang tuanya dan kerabat-kerabat lainnya.

Baru menginjak usia di atas 5 tahun, Hamdi kecil ada dalam gemblengan Mama KH. Muhammad Rosikh, terutama dalam hal ngaji. Meski paginya, Hamdi kecil bersekolah di SDN I Kananga.

Nasab Mulia 

Leluhur Tubagus Hamdi adalah leluhur yang mulia, karena itu tergolong al-Karim ibnu al-Karim ibnu al-Karim hingga nasabnya tersambung hingga Sunan Gunung Jati Cirebon, salah satu anggota majlis Walisongo yang menyebarkan Islam di wilayah Jawa bagian Barat.

Tubagus Hamdi, bin

KH. TB. Ahmad Ma’ani, bin

KH. TB. Rusydi, bin

Ratu Salamah, binti

KH. TB Sahal, bin

Syaikh Afifudin, bin

Syaikh Mahdi, bin

Syaikh Ajib, bin

Syaikh Daud, bin

Syaikh Sohib, bin

Pangeran Arya Rahantika, bin

Pangeran Indra Manggala, bin

Pangeran Arya Wiradadaha II bin

Pangeran Arya Wiradadaha I

Tumenggung Pangeran Adiningrat, bin

Pangeran Sarpan Bhumi Agung, bin

Sunan Agung Mataram, bin

Panembahan Pati Suda, bin

Panembahan Girilaya, bin

Panembahan Ratu, bin

Panembahan pakungja, bin

Pangeran Pasarean, bin

Syaikh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.

Sedangkan dari jalur buyutnya Tubagus Hamdi yaitu Ratu Kunah, ia tersambung ke Kanjeng Sultan Hasanuddin Banten.

Pendidikan

Setelah lulus dari tingkat Sekolah Dasar, Hamdi kecil melanjutkan sekolah ke SMPN Menes. Karena umumnya putera dari seorang kiai, meski belajar di sekolah umum, ia juga diajar ngaji ayahnya, terutama mendapat bimbingan dari kiai Rosikh.

Lulus SMP Negeri 1 Menes, Hamdi remaja kemudian melanjutkan belajar ke Madrasah Aliyah di lingkungan MALNU Menes, yang kebetulan ayahnya adalah pengurus besar MALNU. Tubagus Hamdi lulus dari Madrasah Aliyah pada tahun 1982, kemudian melanjutkan mesantren di luar Menes.

Sanad Ilmu 

Tubagus Hamdi muda dikenal sebagai pemuda haus ilmu, disamping ngaji kepada ayahnya Hamdi muda pergi melanglang buana menuntut ilmu pada para kiai, orang-orang alim di luar Menes, antara lain yaitu.

Pesantren Cisantri 

Tubagus Hamdi ngaji selama 2 tahun di bawah bimbingan ulama besar al-Alim al-Allamah Abuya KH. Bustomi, dan Abuya Bustomi murid dari Abuya Abdul Halim Kadu Peusing Pandeglang, dan Abuya Abdul Halim murid dari Syaikh Nawawi al-Bantani.

Pesantren Cicurug 

Setelah dari pesantren Cisantri, kemudian Tubagus Hamdi melanjutkan menuntut ilmu kepada Kiai Encun Samsudin dari 1984 hingga 1986 selama 2 tahun. Dari Cicurug, Hamdi muda meneruskan rihlah ilmiah ke Cikaduen, ke Kadomas dibawah asuhan KH. Kurdi.

Hingga kemudian Tubagus Hamdi tabarrukan kepada KH. Ali Qoisyor, cucu Mbah Dalhar Setelah dari pesantren Kiai Ali, Tubagus Hamdi meneruskan tabarrukannya ke Gresik Jawa Timur yaitu ke KH. Muqsith, dan dari Gresik diteruskan kepada KH. Abdul Ghofur pengasuh Pesantren Sunan Derajat di Lamongan Jawa Timur.

Sanad Tarekat 

Masih dalam rihlah ilmiah, Tubagus Hamdi menerima ijazah Tarekat Syadziliah dari KH. Ali Qoisyor, sesuai dengan sanadnya.

Tubagus Hamdi dari KH. Ali Qoisyor dari KH. Ahmad Abdul Haq dari Syaikh Nahrawi (Mbah Dalhar Watu Congol) dari Syaikh Muhtarom, sedangkan Syaikh Muhtarom seorang Mursyid Tarekat Syadziliah yang masyhur di Mekkah, merupakan figur sentralnya Tarekat Syadziliah di dunia Islam.

Sementara, Tubagus Hamdi mengambil sanad Tarekat Qodriyah Naqsyabandiyah dari Ajengan KH. Zaenal Abidin, berasal ijazah tarekat dari Ajengan KH. Sohibul Wafa Tajul Arifin bin Syaikh Abdullah Mubarok atau masyhur dikenal dengan Abah Anom. Abah Anom dari ayahnya yakni Syaikh Abdullah Mubarok, dan Syaikh Abdullah Mubarok ijazah dari Syaikh Tolhah Cirebon, sedangkan Syaikh Tolhah dari Syaikh Abdul Karim Lempuyang Tanara.

Pergi Haji 

Tahun 1986, Tubagus Hamdi berangkat haji untuk pertama kalinya, lalu mendapat kesempatan ibadah haji pada tahun-tahun berikutnya, yaitu tahun 1997 kemudian untuk ketiga kalinya H. TB Hamdi pergi haji tahun 2019.

Pengabdian Umat 

Sejak 1982 setelah lulus Madrasah Aliyah MALNU, KH. TB. Hamdi Maani telah memulai aktifitasnya yaitu mengajar di MALNU, ikut membimbing para santri asuhan ayahnya. Hingga pasca wafat mendiang ayahnya Abah KH. TB. Ma’ani Rusdi, ia meneruskan sebagai pucuk pimpinan di MALNU pusat sejak 2009 lalu, hingga sekarang.

Disamping mengajar dan mendidik santri di MALNU, maka KH. TB. Hamdi Maani beraktivitas ceramah keliling, mulai undangan ceramah dari masyarakat Banten, masyarakat Bogor, Jakarta hingga undangan dari warga Lampung.

Pada 2016 lalu, Abah KH. TB Hamdi Maani terpilih secara demokratis menjadi Ketua MUI Kab. Pandeglang, lalu tahun 2021 dalam pemilihan pimpinan MUI Pandeglang, Abah KH. TB. Hamdi Maani terpilih lagi untuk menjadi Ketua untuk keduakalinya.

Akhir 2021, tempatnya di Tangerang Selatan saat Musda MUI Provinsi Banten, Abah KH. TB. Hamdi Maani terpilih secara demokratis menjadi Ketua Umum MUI Provinsi Banten, masa Bakri 2022-2027.

Kemudian Abah KH TB Hamdi Maani sejak masih muda sudah beraktifitas di dalam keorganisasian NU, ia yang mendampingi ayahnya di setiap kegiatan-kegiatan NU baik di Pandeglang hingga luar Pandeglang. MALNU yaitu Mathla’ul Anwar Li Nahdlatul Ulama, adalah basis harokah Abah KH. TB Hamdi Maani dalam khidmatnya di NU hingga sekarang.

Di sisi lain, Abah KH. TB Hamdi Maani pun aktif di Banom NU bidang tarekat yaitu menjadi pengurus Idaroh Wustho Jatman (Jam’iyah Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh An-Nahdliyah) Provinsi Banten sebagai Rois Awal di jajaran ifadliyah (semacam Suriyah).

Sejak muda, Abah KH. TB. Hamdi Maani dalam kancah politik ikut pula beraktifitas politik praktis dan berdasarkan sanad politiknya dari sang ayah, beraktifitas di partai PPP dari tingkat daerah hingga kini menjadi anggota Majlis Syari’ah DPP partai PPP. Hingga sekarang.

Akhir Kalimat

Abah KH. TB. Hamdi Maani, adalah figur ulama yang mumpuni, punya karakter khas, dan keahliannya dalam menyampaikan bahasa siloka atau simbolik sangat diakui oleh semua kalangan. Kini sebagai Ketua Umum MUI Provinsi Banten dan aktifitas di NU dan MALNU seperti mata hati, yang jika kita berharap saran, nasihat dan masukan, Abah Hamdi seperti mata hati yang jernih dan tajam. (*/Faqih)

DPRD Banten Kurban
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien